UPACARA SENTANA PAPERASAN DI DESA PAKRAMAN PENATIH, KECAMATAN DENPASAR TIMUR, DENPASAR (Perspektif Filosofis)

NI WAYAN RIKAYANTI, - (2011) UPACARA SENTANA PAPERASAN DI DESA PAKRAMAN PENATIH, KECAMATAN DENPASAR TIMUR, DENPASAR (Perspektif Filosofis). Other thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Skripsi] Text (Skripsi)
1 2011 NI WAYAN RIKAYANTI 0714410060.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (12MB)

Abstract

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terdiri dari tiga puluh tiga
provinsi, dimana salah satu provinsi yang terkenal hingga kemancanegara adalah
provinsi Bali. Pulau Dewata adalah sebutan khas dari provinsi Bali. Provinsi Bali
adalah merupakan provinsi yang mayoritas masyarakatnya memeluk agama Hindu
dan sudah sejak lama berpegang teguh terhadap budaya yang telah menjadi tradisi
turun-temurun yang bersifat unik, indah, kaya makna sekaligus penuh akan
misteri yang selama ini belum terungkap.
Kebudayaan yang ada di Bali adalah sarana untuk menerapkan dan
mewujudkan ajaran Agama Hindu di Bali. Ajaran Agama Hindu berlandaskan Tri
Kerangka Dasar Agama Hindu diantaranya Tattwa, Susila, dan Upacara. Dari
ketiga kerangka ajaran tersebut yang lebih cepat berkembang mengikuti budaya di
sekitarnya adalah Upacara. Di Bali Upacara sering disebut dengan Yadnya.
Yadnya berkaitan dengan upacara yang kental di Bali yang sering disebut dengan
Panca Yadnya. Panca Yadnya adalah lima korban suci yang tulus ikhlas, yang
terdiri dari: Dewa Yadnya yaitu korban suci yang tulus ikhlas yang ditujukan
kepada para Dewa, Rsi Yadnya yaitu korban suci yang tulus ikhlas yang ditujukan
kepada para Maha Rsi, Pitra Yadnya yaitu korban suci yang tulus ikhlas yang
ditujukan kepada pitara, Manusa Yadnya adalah korban suci yang tulus ikhlas
yang ditujukan kepada sesama manusia, dan Bhuta Yadnya adalah korban suci
yang tulus ikhlas yang ditujukan kepada Bhuta Kala.
Kelima jenis yadnya tersebut, Manusa Yadnya adalah suatu persembahan
yang ditujukan kepada sesama manusia, yang merupakan suatu pengorbanan yang
ditujukan untuk pemeliharaan umat manusia mulai dari dalam kandungan sampai
akhir hidup manusia itu. Dalam hidupnya manusia memasuki beberapa fase atau
tingkatan yang disebut dengan Catur Asrama, yang terdiri dari: Brahmacari,
Grahasta, Wanaprasta, dan Sanyasin atau Bhiksuka. Pada masa Grahasta yaitu
masa berumah tangga, dimana pada masa ini manusia mulai memasuki masa
perkawinan guna mendapatkan keturunan untuk meneruskan kewajiban atau
swadharma dari orang tuanya. Bagi pasangan suami-istri yang telah memasuki
masa Grahasta dan belum mimiliki keturunanan dapat melaksanakan Upacara
Sentana Paperasan yaitu suatu upacara pengangkatan anak yang dilakukan guna
meneruskan keturunan pasangan suami-istri yang tidak memiliki anak.
Setiap upacara di Bali selalu mempergunakan banten untuk upakaranya,
begitu juga dalam Upacara Sentana Paperasan mempergunakan banten dalam
pelaksanaan upacaranya. Penggunaan upakara dalam setiap upacara tidaklah
sama tergandung desa, kalla, patra dari tempat yang mengadakan suatu upacara,
begitu juga di Desa Pakraman Penatih, Kecamatan Denpasar timur, Denpasar.
Uraian latar belakang di atas akan dibahas tentang permasalahan sebagai
berikut, yaitu: 1). Bentuk Upacara Sentana Paperasan, di Desa Pakraman
Penatih, Kecamatan Denpasar Timur, Denpasar. 2). Fungsi Upacara Sentana
Paperasan bagi keluarga yang melaksanakan upacara tersebut, di Desa Pakraman
Penatih. 3). Makna Filosofis Upacara Sentana Paperasan di Desa Pakraman
Penatih. Tujuan penelitian secara umum adalah untuk lebih memperdalam lagi
pengetahuan tentang Upacara Sentana Paperasan serta menggali kebudayaan Bali terutama yang berkaitan dengan upacara bagi umat Hindu. Tujuan penelitian ini
secara khusus diantaranya adalah: 1). Untuk mengetahui bentuk dari Upacara
Sentana Papersan yang dilkukan di Desa Pakraman Penatih. 2). Untuk
mengetahui fungsi dari Upacara Sentana Paperasan tersebut. 3). Untuk
mengetahui makna filosofis yang terkandung dalam Upacara Sentana Paperasaп,
di Desa Pakraman Penatih. Hasil penelitian dalam tulisan ini agar dapat berguna
dan bermanfaat secara teoritis dan praktis. Teori yang diprgunakan untuk
mengkaji masalah dalam penelitian ini diantaranya teori fungsional struktural,
teori simbol, dan teori religi.
Penelitian ini menggunakan beberapa tehnik, diantaranya tehnik
pengumpulan data yakni: metode observasi, metode wawancara, metode
kepustakaan, dan metode dokumentasi. Data diperoleh dari data primer dan data
sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dari informan melalui
wawancara langsung mengenai Upacara Sentana Paperasan. Data sekundear
dalah data yang diperoleh dari artikel-artikel, buku-buku, dokumen berupa lontar,
dan sumber lainnya yang berhubungan dengan obyek penelitian. Karena data
dalam penelitian ini bersifat deskritif, analisis data menggunakan analisis deskritif
kualitatif.
Hasil penelitian ini akan diperoleh kesimpulan bahwa Upacara Sentana
Paperasan merupakan salah satu upacara Manusa Yadnya yang mempergunakan
banten sebagai sarana upakaranya, dimana banten tersebut dipergunakan sebagai
suatu saksi atau tanda bahwa suatu Upacara Sentana Paperasan telah selesai dan
sah secara niskala dan fungsi dari Upacara Sentana Paperasan adalah fungsi
ketuhanan (religius), fungsi pelestarian budaya, fungsi penyupatan (pengruat),
fungsi pengesahan, fungsi melanjutkan swadharma, dan fungsi menyelamatkan
anak-anak terlantar. Upacara ini mengandung berbagai macam makna yaitu:
makna pembersihan, makna etika, makna pendidikan, makna sosial, makna
keseimbangan, dan makna filosofis.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
Divisions: Fakultas Brahma Widya > S1 - Filsafat Hindu
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 14 Apr 2026 02:33
Last Modified: 14 Apr 2026 02:33
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1130

Actions (login required)

View Item
View Item