NI KETUT AYU UTAMI, - (2011) ESENSI PEMUJA DEWA HYANG PADA PALINGGIH GEDONG DI DESA KAYUPUTIH KECAMATAN BANJAR KABUPATEN BULELENG. Other thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
6 2011 NI KETUT AYU UTAMI 0714410080.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (9MB)
Abstract
ABSTRAK
Indonesia memiliki keanekaragaman budaya yang merupakan cerminan dari
keindahan bangsa,budaya dan adat masing-masing, suku bangsa tidaklah selalu murni
satu dari daerah itu sendiri, tetapi sebagian pengaruh dari budaya luar. Bali merupakan salah
daerah di Indonesia yang memiliki banyak kebudayaan yang sangat unik,
keanekaragaman itu tidak terlepas dari peran agama. Upacara pemujaan Dewa Yang bagi
masyarakat Desa Kayuputih,Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng adalah pemujaan
diluar terhadap roh leluhur orang lain, hal ini bisa terjadi disebabkan karena adanya perbuatan
kewajaran dari leluhur kita sendiri yaitu membunuh orang lain. Akibat dari
perbuatan ini mereka harus menerima pahala yang tidak baik juga berupa penyakit,
kekacauan dan kehancuran terhadap keluarganya. Adapun rumusan masalah dalam
pemujaan Dewa Yang adalah : 1) Bagaimana bentuk pemujaan Dewa Hyang pada
palinggih gedong di Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.2) Apa
fungsi pemujaan Dewa Hyang pada palinggih gedong dalam kehidupan masyarakat di
Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng .3) Makna filosofi apa yang
terkandung dalam pemujaan Dewa Hyang pada palinggih gedong di Desa Kayuputih,
Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari : 1) penentuan lokasi
penelitian, 2) jenis penelitian, 3) jenis dan sumber data, 4) penentuan informan, 5) metode
pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dokumentasi, analisis data,metode
perpustakaan. untuk membedah permasalahan yang ada menggunakan teori Religi, teori
Fungsional struktual, dan teori simbol.
Bentuk sarana banten yang dipergunakan dalam pemujaan Dewa Hyang adalah
Penyeneng, Canangsari, sodan alia dilaksanakan pada waktu yang telah ditetapkan karena
pada hari itu dianggap hari suci dan pada hari itulah beliau menganugrahkan
kesejahteraaan dan keselamatan bagi penyungsungnya dan waktu pelaksanaanya Upacara
pemujaan Dewa Yang merupakan rangkaian dari upacara untuk mohon pengampunan
terhadap dasar-dasar yang diperbuat oleh leluhurnya, biasanya dilaksanakan dipelinggih
gedong.
Upacara pemujaan Dewa Hyang yang memiliki fungsi religius, etika, ucapan
terimakasih, berfungsi mewujudkan rasa bhakti prati sentana(keturunannya) terhdap roh
suci leluhur, memberikan pengampunan dosa yang telah diperbuat oleh leluhurnya yang
menyebabkan penderitaan yang tidak diinginkan oleh keturunannya serta selalu
dituntunkejalan yang benar sesuai dengan ajaran agama dan menumbuhkan rasa
kenyakinan terhadapnya agar segala penderitaan yang disebabkan oleh Dewa Yang itu
dapat berakhir.
Sedangkan dilihat dari makna yang terkandung dalam upacara pemujaan Dewa
Hyang yaitu makna religius, makna etika dan makna pemujaan, Pelaksanaan upacara
pemujaan Dewa yang bermakana ungkapan terimakasih kehadapan Ida Sang Hyang
Widhi Wasa agar menuntun umat manusia agar dapat mencapai kesempurnaan hidup
berupa kesucian bathin, laksana, budi pekerti serta kebahagiaan jasmani dan rohani/suka
tanpa wali duka.
Kata kunci: Esensi, Pemujaan Dewa Hyang, Palinggih Gedong.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General) |
| Divisions: | Fakultas Brahma Widya > S1 - Filsafat Hindu |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 14 Apr 2026 02:33 |
| Last Modified: | 14 Apr 2026 02:33 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1135 |

