TRADISI PEGAMAN KETUPAT KETAN DALAM UPACARA NGUSABHA DESA DI PURA PENATARAN DESA PAKRAMAN PENGLUMBARAN KAWAN KEC SUSUT KABUPATEN BANGLI (KAJIAN FILOSOFIS)

I WAYAN EKA BUDIARTAWAN, - (2011) TRADISI PEGAMAN KETUPAT KETAN DALAM UPACARA NGUSABHA DESA DI PURA PENATARAN DESA PAKRAMAN PENGLUMBARAN KAWAN KEC SUSUT KABUPATEN BANGLI (KAJIAN FILOSOFIS). Other thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Skripsi] Text (Skripsi)
3 2012 FIL I WAYAN EKA BUDIARTAWAN.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (10MB)

Abstract

ABSTRAK
Agama hindu memiliki tiga kerangka dasar ajaran yang disebut Tri kerangka
dasar agama Hindu yaitu tatwa,(filsafat), etika (suila) dan upacara (ritual). Ketiga
kerangka dasar ajaran agama Hindu saling mendukung diantara ketiganya. Perwujudan
dari Tri Kerangaka ini dalam kehidupan masyarakat Desa Pakraman di Bali banyak
terlihat dalam keseharianya. Salah satu dari ujud itu adalah Tradisi Pegaman Ketupat
Ketan Dalam upacara Ngusabha Desa di Pura Penataran Desa Pakraman
Penglumbaran Kawan. Taradiisi ini dilaksanakan oleh sekaa taruna yang masih perjaka
dengan melaksanakan perang dengan ketupat ketan tersebut.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahanya dapat dirumuskan
sebai berikut: (1) Bagaimanakah bentuk tradisi Pegaman Ketupat Ketan dalam upacara
Ngusabha Desa di Pura Penataran Desa Pakraman Penglumbaran Kawan? (2)
Bagaimakah fungsi tradisi Pegaman Ketupat Ketan Dalam Upacara Ngusabha Desa?
(3) Bagaimanakah makna filosofis Tradisi Pegaman Ketupat Ketan Dalam Upacara
Ngusabha Desa?
Untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam menyelesaikan karya tulis ini,
Maka Penelitian menggunakan beberapa teori yaitu: (1) Teori Tri Hita Karana, (2)
Teori Fungsional Struktural (3) Teori Simbol (4) Teori Makna. Teori Tri Hita Karana
berfungsi untuk membedah pelaksanaan tradisi Pegaman Ketupat Ketan dalam upacara
Ngusabha Desa yang berkaitan dengan konsep tri hita karana. Teori Fungsional
Struktural digunakan utuk mengetahui fungsi tradisi Pegaman Ketupat Ketan dalam
Upacara Ngusabha Desa. Teori Makna untuk mengetahui makna filosofis Tradisi
Pegaman Ketupat Ketan dalam upacara Ngusabha Desa. Metodo yang diGunakan
yaitu: (1) Lokasi Penelitian (2) Pendekatan Penelitian (3) Penentuan Informan (4)
Teknik Pengumpulan Data untuk mengumpulkan data yang meliputi Teknik Observasi,
Wawancara, dan Dokumentasi, (5) Analisis Data digunakan untuk menganalisis data
serta dijabarkan dengangan metode deskriftif, sehingga di peroleh Kesimpulan yang
utuh (6) Penyajian Hasil Penelitian.
Bentuk tradisi Pegaman Ketupat Ketan dalam upacra Ngusabha Desa diujudkan
dengan melaksanakan perang menggunakan sarana ketupat ketan_yang di laksanakan
oleh para skee truana (pemuda) yang masih perjaka.Funngsi yang terdapat dalam tradisi
Pegaman Ketupat Ketan yaitu fungsi sosial dan fungsi Makna filosofis tradisi Pegaman
Ketupat Ketan yaitu mejalin hubungan yang harmonis berdasarkan konsep Tri Hita
Karana,yang terdiri dari makna spiritual, meniningkatkan sradha dan bhakti,
menyeimbangkan Bhuana Agung dan Bhuana Alit.
Kata Kunci : Pegaman Ketupat Ketan, Ngusabha Desa, filosofis

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
Divisions: Fakultas Brahma Widya > S1 - Filsafat Hindu
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 14 Apr 2026 02:34
Last Modified: 14 Apr 2026 02:34
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1144

Actions (login required)

View Item
View Item