SAPUT POLENG DALAM PENGALAMAN AJARAN TRI HITA KARANA DI DESA ADAT PUNGGUL KECAMATAN ABIANSEMAL KABUPATEN BADUNG (PERSPEKTIF KOMUNIKASI)

I GUSTI AYU FITRIASUCI, - (2015) SAPUT POLENG DALAM PENGALAMAN AJARAN TRI HITA KARANA DI DESA ADAT PUNGGUL KECAMATAN ABIANSEMAL KABUPATEN BADUNG (PERSPEKTIF KOMUNIKASI). Other thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Skripsi] Text (Skripsi)
2 S1 PENA 2015 I GUSTI AYU FITRIASUCI.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (8MB)

Abstract

ABSTRAK
Simbol-simbol yang digunakan Umat Hindu umumnya berupa bendabenda dengan berbagai bentuk atau menggunakan kain dengan warna-warna
tertentu, salah satunya adalan Saput Poleng. Pemakaian Saput Poleng merupakan
cerminan Ajaran Tri Hita Karana yang diterapkan pada parhyangan, pawongan
dan palemahan. tetapi masyarakat Di Desa Adat Punggul belum dapat
menjelaskan arti penting pemakaian Saput Poleng dalam Pengamalan Ajaran Tri
Hita Karana. Mereka memakai Saput Poleng hanya berdasarkan tradisi
pendahulunya, tanpa mengetahui dasar, makna dan tujuan pemakaiannya. Dan
juga hanya mengetahuinya melalui keterlibatan langsung dalam aktifitas
keagamaan. Keadaan ini menunjukkan masih ada perbedaan yang cukup besar
antara kenyataan yang diharapkan dengan kenyataan yang terjadi. Yaitu
pentingnya keberadaan, fungsi dan makna Saput Poleng dalam Pengamalan
Ajaran Tri Hita Karana belum diimbangi dengan pemahaman yang baik oleh
masyarakat di Desa Adat Punggul.
Dari latar belakang diatas maka terdapat suatu masalah yang terdapat
yakni sebagai berikut: 1) Bagaimana masyarakat memahami keberadaan, fungsi
dan makna Saput Poleng pada Parhyangan dalam Pengamalan ajaran Tri Hita
Karana. 2) Bagaimana masyarakat memahami keberadaan, fungsi dan makna
Saput Poleng pada Pawongan dalam Pengamalan ajaran Tri Hita Karanа. 3)
Bagaimana masyarakat memahami keberadaan, fungsi dan makna Saput Poleng
pada Palemahan dalam Pengamalan ajaran Tri Hita Karana. Di dalam penelitian
ini menggunakan teori religi, fungsional struktural dan interaksionisme simbolik.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, metode
wawancara, studi kepustakaan, dan metode dokumentasi. Serta intrumen
penelitian menggunakan alat-alat yang menunjang peneliti dalam melakukan
penelitian, serta teknik penyajian hasil penelitian. Lokasi penelitian sendiri
diambil yakni di Desa Adat Punggul, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.
Dari hasil proses analisis data diperoleh hasil 1) Keberadaan Saput Poleng
di Desa Adat Punggul dalam persektif komunikasi sangat penting karena
merupakan sebuah simbol (komunikasi non verbal) Agama Hindu yang dipakai
oleh orang-orang tertentu dan pada tempat-tempat tertentu, yang dipahami oleh
masyarakat melalui aktivitas keagamaan serta melalui buku-buku keagamaan. 2)
masyarakat di Desa adat Punggul memahami fungsi Saput Poleng sebagai simbol
penjaga, yang berfungsi untuk menjaga baik secara sekala maupun niskala. 3)
masyarakat di Desa Adat punggul memahami makna Saput Poleng pada
Parhyangan sebagai sarana pemujaan pada Tuhan, pada Pawongan sebagai sarana
pergaulan antar sesama manusia, serta pada Palemahan adalah sebagai etis
lingkungan.
Kunci: Saput Poleng, Tri Hita Karana, Komunikasi

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: H Social Sciences > HE Transportation and Communications
Divisions: Fakultas Dharma Duta > S1 - Penerangan Agama Hindu
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 14 Apr 2026 02:35
Last Modified: 14 Apr 2026 02:35
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1153

Actions (login required)

View Item
View Item