MAKNA FILOSOFIS BANTEN PRANI DALAM UPACARA PENGEBEK DI DESA PAKRAMAN BANYUNING, KECAMATAN BULELENG, KABUPATEN BULELENG

NI LUH SRI ARDIANI, - (2013) MAKNA FILOSOFIS BANTEN PRANI DALAM UPACARA PENGEBEK DI DESA PAKRAMAN BANYUNING, KECAMATAN BULELENG, KABUPATEN BULELENG. Other thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Skripsi] Text (Skripsi)
10 2013 FIL NI LUH SRI ARDIANI.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (8MB)

Abstract

ABSTRAK
MAKNA FILOSOFIS BANTÊN PRANI DALAM UPACARA PÊNGÉBÉK DI
DESA PAKRAMAN BANYUNING, KECAMATAN BULELENG
KABUPATEN BULELENG
Kegiatan upacara tertuang dalam filsafat Tri Hita Karana diartikan tiga
penyebab keharmonisan hidup. Upacara yang dilandasi kerangka dasar Agama
Hindu yaitu tattwa, etika, dan upacara akan memantapkan Sraddha dan Bakti
umat dan menghilangkan ungkapan “Gugon tuwon (dalam bahasa Balinya anak
mula keto)"
Bertitik tolak dari latar belakang permasalahan di atas dapat dirumuskan
masalah yaitu Bagaimana proses penggunaan Bantên Prani, apa fungsi Bantên
Prani dan apa makna filosofis yang terkandung pada Banten Prani dalam
Upacara Péêngêbêk di Desa Pakraman Banyuning, Kecamatan Buleleng,
Kabupaten Buleleng?
Permasalahan akan dikaji dengan tiga teori. yaitu pertama teori religi
untuk membedah proses penggunaan Bantên Prani, kedua teori fungsional
struktural untuk mengungkap fungsi Bantên Prani, ketiga teori simbol
menganalisis makna Filosofis Bantên Prani. Selain itu dalam memperoleh dan
menganalisis data dipakai beberapa metode antara lain metode observasi,
wawancara, kepustakaan, dan dokumentasi. Data-data yang terkumpul dianalisa
dengan teknik deskriptif kualitatif, sehingga diperoleh kesimpulan yang
menyeluruh.
Hasil penelitian ini yaitu proses penggunaan Bantên Prani berawal dari
rangkaian upacara ngusabha desa istilah lain dari Upacara Pêngêbêk. Proses
pengunaan Bantên Prani yaitu pada puncak Upacara Pêngêbêk di Pura
Khayangan Tiga dalam waktu yang terangkai yang dihaturkan di bawah yaitu
Jaba Tengah Pura. Hari pertama di Pura Segara, hari kedua di Pura Dalem
Purwa dan hari ketiga di Pura Desa.
Fungsi Bantên Prani dalam Upacara Pêngêbêk di Desa Pakraman
Banyuning, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng adalah alat konsentrasi,
sarana persembahan, sarana penyucian, dan perwujudan Tuhan dalam
mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan semua manifestasiNya serta roh leluhur untuk memohon kemakmuran dan keharmonisan seluruh
makhluk hidup.
Makna filosofis Bantên Prani dalam Upacara Pêngêbêk di Desa
Pakraman Banyuning, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng adalah dilihat
dari hakikat sarana penyusun Bantên Prani, hakikat Bantên Prani sebagai alat
konsentrasi dan Penyucian dan hakikat Bantên Prani sebagai simbol perwujudan
Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Manifestasi-Nya. Makna filosofis Bantên Prani
memiliki hubungan yang erat mantra puja Tri Sandhya bait ke 5 dengan tegas
menyatakan "Sarvaprani hitankarah "(hendaknya semua makhluk hidup
sejahtera) adalah doa yang bersifat universal untuk keseimbangan jagat raya dan
segala isinya.
Kata kunci: Bantên Prani , Upacara Pêngêbêk

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > B Philosophy (General)
Divisions: Fakultas Brahma Widya > S1 - Filsafat Hindu
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 14 Apr 2026 02:36
Last Modified: 14 Apr 2026 02:36
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1169

Actions (login required)

View Item
View Item