PENERAPAN KONSEP TRI MURTI DALAM PROSES PEMUJAAN PADA KOMUNITAS HINDU DI KOTA MATARAM

I MADE AGUS YUDHIARSANA, - (2006) PENERAPAN KONSEP TRI MURTI DALAM PROSES PEMUJAAN PADA KOMUNITAS HINDU DI KOTA MATARAM. Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Tesis] Text (Tesis)
8. S2 BW 2006 I MADE AGUS YUDHIARSANA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (16MB)

Abstract

ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan Penerapan Konsep Tri Murti
Dalam Proses Pemujaan Pada Komunitas Hindu Di Kota Mataram. Terdapat tiga
rumusan masalah yang akan diteliti yakni bagaimana pemahaman konsep Tri Murti
pada komunitas Hindu di Kota Mataram, bagaimana penerapan atau simbolisasi
konsep Tri Murti pada komunitas Hindu di Kota Mataram, serta apa yang menjadi
penyebab tidak digunakannya istilah Kahyungan Tiga di Kota Mataram. Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tiga teknik pengumpulan data yakni
observasi, wawancara dan studi dokumentasi.
Hasil penelitian ini adalah: Pemahaman dan Simbolisasi tentang konsep Tri
Murti dalam keluarga Hindu di Kota Mataram diwujudkan dengan bangunan
Sanggah Kamulan/rong tiga. Hal ini dimaknai sebagai stana Sang Hyang Widhi
Wasa dalam tiga perwujudan sucinya yaitu sebagai dewa pencipta, dewa pemelihara
dan dewa pelebur (Brahmā Vişņu dan Śiva). Di sisi lain rong tiga juga dimaknai
sebagai stana Hyang Guru/ bapanta, ihunta dan raganta yang menjadi nama lain darí
manifestasi Tuhan. Demikianlah sesungguhnya umat Hindu menyimbolkan Tuhan
yang maha kuasa ke dalam berbagai nama atau istilah dengan tujuan dapat dipahami
oleh semua lapisan masyarakat, dari yang pemahaman keagamaan paling sederhana
sampai yang paling tinggi.
Simbolisasi Tri Murti dalam kehidupan masyarakat Hindu di Kota Mataram
tercermin dalam bangunan Pura Meru sebagai stana Dewa Vişnu dan Dewa Brahmā
dan Pura Dalem sebagai stana Dewa Śiva atau dewa pelebur. Simbolisasi keagungan
Tuhan muncul begitu beragam; hal ini disesuaikan dengan umat apakah termasuk
kelompok Raja Marga, Jnana Marga, Bhakti marga atau karma marga. Mengenai
simbolisasi adalah kepentingan umat yang secara umum memiliki kemampuan jnana
yang belum tergolong tinggi.
Kalangan tokoh agama dan tokoh masyarakat Kota Mataram memandang,
simbolisasi Tri Murti dalam kaitan penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa lebih
mendapat perhatian, karena ke dalam hal ini termasuk penghayatan kepada Dewa
Samudaya, sudah mencakup tiga manifestasi Tuhan sebagai Tri Murti. Tuhan sebagai
Brahmā Vişņu dan Siva bisa dipuja melalui pura manapun, hal ini didasarkan pada
makna mantram keempat dari panca sembah yaitu sembah kepada Dewa Samudaya,
sebagai manifestasi Tuhan dengan semua prabawanya,
Di Kota Mataram, simbolisasi manifestasi Tuhan dalam kaitan fasilitas yang
ada dikatagorikan cukup. simbolisasi diarahkan pada peningkatan keyakinan terhadap
Tuhan yang ada dalam prilaku diri-sendiri. Simbolisasi mempunyai tujuan untuk
membangun keheningan umat. Hal ini terus dilakukan dalam bentuk pembinaan umat
Hindu baik di Kota Mataram.
Tri Murti adalah esensi ajaran Hindu yang perlu mendapat perenungan
filsafat. Tri Murti menjadi esensi setiap gerak langkah kehidupan manusia sampai
pada batas pupul, pragat, atau tuntas. Puput, Pragat dan tuntas adalah bermakna
filosofis, yang dapat dimaknai sebagai proses hidup dan hidup, dan sampai tidak
hidup dalam arti sampai tidak terlahirkan kembali. Tri Murti dapat dimaknai sebagai
siklus kehidupan yang harus dipahami oleh setiap umat Hindu dan harus
diaplikasikan dalam hidupnya sebagai ajaran untuk kembali kepada sang pencipta.
Tidak ditemukannya Kahyangan Tiga di Kota Mataram dapat dilihat dari
beberapa pendekatan, yakni dari sisi sejarah pengaruh kedatangan Dang Hyang
Dwijendra ke Pulau Lombok guna mengadakan penataan kehidupan keagamaan
terhadap komunitas masyarakat Hindu di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Sedangkan
konsep Kahyangan Tiga disebarkan oleh Mpu Kuturan hanya sampai di Bali.
Dari sisi politik ditemukan, tidak lumrahnya penggunaan istilah Kahyangan
Tiga untuk komunitas Hindu di Kota Mataram diarahkan untuk menjaga stabilitas
politik masyarakat. Hal ini dilakukan dengan berkaca pada pelaksanaan upacara yang
dilakukan di Pura Lingsar. Binatang yang digunakan adalah daging kerbau, tidak
daging babi atau sapi sebab bagi umat Muslim tidak mempergunakan babi sedangkan
bagi umat Hindu binatang sapi merupakan binatang yang disucikan. Jadi terdapat
tujuan untuk memperkuat rasa kerukunan dan persatuan antar umat beragama.
Dari sisi sosial kemasyarakatan lingkungan komunitas Hindu di Kota
Mataram ditemukan kerjasama dalam bentuk rojong. Bentuk kerjasama ini berlaku
dalam menyelesaikan kegiatan adat dan upacara keagamaan lainnya. Jika dilihat dari
komunitas masyarakat Kota Mataram tidak mungkin membuat wilayah desa adat
sebagai dasar pembangunan Kahyangan Tiga. Hal ini disebabkan oleh faktor
heteroginitas penduduk yang demikian tinggi sehingga sangat sulit dan tidak mungkin
membuat wilayah adat sebagai dasar pembangunan Kahyangan Tiga.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Pascasarjana > S2 - Brahma Widya
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 30 Mar 2026 03:00
Last Modified: 30 Mar 2026 03:01
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1259

Actions (login required)

View Item
View Item