I MADE SUTA, - (2006) UPACARA NGUSABA GORENG DI DESA ADAT DUDA KECAMATAN SELAT KABUPATEN KARANGASEM (Kajjian Bentuk, Fungsi, dan Makna). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
10. S2 BW 2006 I MADE SUTA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (17MB)
Abstract
ABSTRAK
UPACARA NGUSABA GORENG
DI DESA ADAT DUDA – КЕСАМATAN SELAT
KABUPATEN KARANGASEM
(Kajian Bentuk, Fungsi dan Makna)
Salah satu unsur kebudayaan lokal yang sangat perlu untuk dilestarikan
adalah ritual keagamaan sebagai warisan leluhur dari jaman dahulu, yang telah
ditentukan pada masyarakat Desa Adat Duda, Kabupaten Karangasem. Media
yang dipergunakan untuk melestarikan kebudayaan lokal ini salah satunya dengan
melaksanakan Upacara Ngusaba Goreng yang dilaksanakan di Pura Puseh
Sentral dan Pura Penyatur Desa setiap setahun sekali bertepatan dengan Sasih
Kapat. Upacara Ngusaba Goreng ini merupakan salah satu pelaksanaan Deva
Yajña yang pada intinya untuk memohon keselamatan, kesejahteraan dan
kedamaian kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai
Deva Tri Murti (Ida Bhatara Mutering Jagat) dan Deva Visnu (Bhatara Bagus
Babotoh) yang merupakan anifestasi Tuhan sebagai pemelihara (Sthiti).
Terkait dengan penelitian ini ditemukan beberapa masalah yaitu (1)
Bagaimana bentuk pelaksanaan Upacara Ngusaba Goreng ini?, (2) Fungsi
Upacara Ngusaba Goreng bagi masyarakat Desa Adat Duda dan (3) Apa makna
yang tersirat dalam Upacara Ngusaba Goreng tersebut?. Tujuan daripada
penelitian ini secara khusus adalah (1) Untuk mengetahui bentuk Upucara
Ngusaba Goreng, (2) Untuk mengetahui fungsi Upacara Ngusaba Goreng dan (3)
Untuk mengetahui atau ingin mendalami secara lebih jelas makna yang
terkandung dalam Upuacara Ngusoba Goreng.
Teori yang digunakan untuk membedah masalah penelitian adalah teori
fungsional-struktural, teori relegi dan teori simbul. Pengumpulan data dilakukan
berdasarkan teknik observasi (purticipation observation), wawancara, studi
kepustakaan dan studi dokumen. Data dianalisis berdasarkan pendekatan
Deskriftif-Kwalitatif yang dilakukan dengan tiga langkah yaitu reduksi data,
penyajian data dan penarikan simpulan.
Hasil penelitian mencakup tiga aspek yaitu mengenai bentuk, fungsi dan
makna. Pertama bentuk Upacara Ngusaba Goreng meliputi
(1). Teknis pelaksanaan Upacara Ngusaba Goreng, (2) Persiapan Upacara
Ngusaba Goreng, (3) Rangkaian Upacara Ngusaba Goreng, (4) Sarana Upacara
Ngusaba Goreng, (5) Mantra/puja stawa dan (6) Pantangan dalam pelaksanaan
Upacara Ngusaba Goreng. Kedua fungsi Upacara Ngusaba Goreng meliputi: (1)
fungsi integrasi sosial, (2) fungsi pelayanan/bhakti, (3) fungsi perwujudan Ida
Sang Hyang Widhi Wasa, (4) fungsi sebagai ungkapan terima kasih, (5) fungsi
nyomia Butha Kala dan (6) fungsi budaya/estetika. Ketiga dari segi makna
Upacara Ngusaba Goreng dapat dipetik sebagai berikut: (1) Makna
kebersamaan/solidaritas, (2) Makna budaya, (3) Makna Teologi, (4) Makna
keharmonisan (sundaram) dan (5) Makna etika (tata susila).
Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan tiga hal, yaitu: bentuk
fungsi dan makna Upacara Ngusaba Goreng yang meliputi teknis pelaksanaan,
persiapan, rangkaian, sarana, mantra, dan pantangan dalam implementasinya
berlangsung secara teratur dan konsisten berdasarkan atas awig-awig Desa Adat
Duda. Hal ini berarti bahwa perspektif teori fungsional struktural yang
menekankan pada keteraturan (struktur dan masing-masing struktur selalu
fungsional satu sama lain nampak dalam Upacara Ngusaba Goreng. Demikian
juga dalam hal fungsi manifes dan fungsi latent, Upacara Ngusaba Goreng juga
menunjukkan fungsi manifest berupa fungsi religius atau penyelamatan, fungsi
terima kasih, fungsi perwujudan Sanghyang Widhi Wasa, Nyomia Bhuta Kala,
dan sebagainya. Sedangkan fungsi latent antara lain fungsi estetika, solidaritas,
budaya, dan lain-lain. Makna Upacara Ngusaba Goreng yang meliputi makna
kebersamaan (solidaritas), budaya, teologi 5, keharmonisan (sundaram), dan
ethika (tata susila) dalam perspektif teori religi menyatakan bahwa Upacara
agama adalah hasil budaya agama. Sedangkan dalam perspektif teori simbol,
Upacara Ngusaba Goreng, terutama sarana Upacara merupakan simbol-simbol
perwujudan Ida Sanghyang Widhi secara teologis.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 30 Mar 2026 03:34 |
| Last Modified: | 30 Mar 2026 03:36 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1261 |

