UPACARA NGARO DI BANJAR MADURA DESA ADAT INTARAN DESA SANUR KAUH : KAJIAN BENTUK, FUNGSI, MAKNA

IDA AYU PUTU BINTANG, - (2006) UPACARA NGARO DI BANJAR MADURA DESA ADAT INTARAN DESA SANUR KAUH : KAJIAN BENTUK, FUNGSI, MAKNA. Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Tesis] Text (Tesis)
13. S2 BW 2006 IDA AYU PUTU BINTANG.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (14MB)

Abstract

ABSTRAK
UPACARA NGARO DI BANJAR MADURA DESA ADAT
INTARAN, DESA SANUR KAUH:
KAJIAN BENTUK, FUNGSI, MAKNA
Upacara Ngaro yang dilaksanakan oleh warga Dalem Madura, di Banjar
Madura, Desa Adat Intaran, Sanur Kauh, adalah salah satu unsur kebudayaan,
yaitu tepatnya sebagai sistem religi dan upacara keagamaan. Dalam konteks
budaya Bali, upacara Ngaro ini adalah upacara yang unik. Keunikan tersebut
disebabkan oleh kenyataan bahwa upacara ini tipikal Hindu, tetapi pendukungnya,
yaitu warga Dalem Madura. Disini suatu bukti bahwa sebuah upacara dalam
konteks budaya Bali, tidak hanya mengandung unsur-unsur material yang
memberi bentuk kepada upacara itu, serta substansi nilai yang bersumber pada
ajaran agama dalam arti memberi kerangka orientasi transendental melainkan
juga nilai guna atau fungsi-fungsi sosial seperti integrasi, pelestarian budaya, dan
kentalnya nilai sejarah serta demokrasi dan toleransi. Dengan kata lain, upacara
Ngaro merupakan sebuah kemasan budaya, yang didalamnya terakumulasi nilainilai spiritual, moral, etis dan sosial.
Upacara Ngaro yang diselengarakan di Pura Dalem Tengahing Segara
pada purnama sasih kapat (sekitar bulan Oktober-Nopember) setiap tahun,
dimaksudkan tidak hanya sebagai "sedekah laut", melainkan juga untuk
mendoakan keselamatan dan kesejahtraan warga Dalem Madura yang ada di Bali
pada umumnya dan yang ada di Banjar Madura pada khususnya. Oleh karena itu,
upacara Ngaro ini ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam
manifestasi-Nya sebagai Dewa Baruna (penguasa laut), dan dilaksanakan melalui
tiga tahapán yaitu: upacara Ngentenin, upacara Ngaro, dan upacara Ngaturang
Hidangan
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memberi pemahaman yang
lebih jelas tentang upacara Ngaro. Sedangkan secara khusus tujuan yang ingin
dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menjawab tiga masalah yang telah
dirumuskan, yaitu: a) untuk mengetahui secara lebih jelas bentuk upacara Ngaro;
b) untuk mengetahui fungsi upacara Ngaro; dan c) untuk mengetahui makna yang
terdapat dalam upacara Ngaro. Teori yang digunakan untuk membedah penelitian
ini adalah teori interaksionisme simbolik dan teori fungsionalisme struktural.
Model penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan
teologis, sosiologis dan historis. Jenis dan sumber data, yaitu data primer
bersumber dari lapangan, dan data sekunder berasal dari literatur/pustaka yang ada
relevansinya dengan masalah yang diteliti. Data dikumpulkan dengan metode
observasi, metode wawancara, dan metode dokumentasi. Selanjutnya data
dianalísa dengan tehnik deskritif kualitatif.
Hal-hal yang akan dibahas berkaitan dengan bentuk upacara Ngaro adalah
sebagai berikut: Bentuk upacara Ngaro, Proses upacara Ngaro, Banten yang
digunakan dalam upacara Ngaro, serta pihak-pihak yang terlibat dalam
upacara Ngaro.
Sedangkan aspek-aspek yang akan dibahas berhubungan dengan fungsi
upacara Ngaro adalah sebagai berikut : Makna upacara Ngaro, Makna Religi,
Makna Banten dalam pemujaan upacara Ngaro, makna kesetiakawanan/ kebersamaan.
Berdasarkan bentuk dan fungsi di atas, dapat ditentukan beberapa makna,
yakni: makna upacara Ngaro, Makna Religi dan Makna banten dalam upacara
Ngaro sebagai sarana menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kehadapa Ida
Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa, makna kesetiakawanan/
kebersamaan. Makna banten dalam pemujaan sebagai saarana menyampaikan rasa
syukur dan terima-kasih kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang
Maha Esa); makna kesetiakawanan/kebersamaan manusia dengan Tuhan, manusia
dengan manusia dan manusia dengan alam sekitar. Tentang Makna teologisnya
adalah pemujaan kepada Tuhan dalam manifestasi Beliau sebagai Dewa Baruna
atau dewa penguasa laut, yang dalam tradisi Hindu di Bali diyakini sebagai
sumber kehidupan. Sedangkan makna sosialnya adalah tetap menjaga integrasi,
persaudaraan, kebersamaan, persatuan dan kesatuan diantara trah Arya Madura
yang ada di Bali pada umumnya dan di Banjar Madura pada khususnya. Sebagai simpulan penelitian ini, bahwa upacara Ngaro yang dilaksanakan
oleh warga Dalem Madura, di Banjar Madura, Desa Adat Intaran, Sanur Kauh,
adalah salah satu jenis upacara untuk memohon Kehadapan Ida Sanghyang Widhi
Wasa dalam manifestasi Beliau sebagai Dewa Baruna, agar menganugerahkan
kesejahteraan, kemakmuran, kerukunan dan keselamatan lahir batin kepada
keturunan Arya Madura yang ada di Bali.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Pascasarjana > S2 - Brahma Widya
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 30 Mar 2026 06:17
Last Modified: 30 Mar 2026 06:22
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1264

Actions (login required)

View Item
View Item