BANTEN PANJANG ILANG DALAM UPACARA NGABEN DI MATARAM (KAJIAN BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA)

JRO AYU NINGRAT, - (2006) BANTEN PANJANG ILANG DALAM UPACARA NGABEN DI MATARAM (KAJIAN BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Tesis] Text (Tesis)
14. S2 BW 2006 JRO AYU NINGRAT.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (25MB)

Abstract

ABSTRAKSI
BANTEN PANJANG ILANG
DALAM UPACARA NGABEN DI MATARAМ
(Kajian Bentuk Fungsi dan Makna)
Oleh : Jro Ayu Ningrat
Pola pelaksanaan kehidupan beragama pada masyarakat Hindu di kota
Mataram secara diakronis mengikuti tatanan konseptual tiga kerangka dasar
keagamaan yang terdiri dari tattwa, susila dan upacara. Secara umum, dalam
realisasi kehidupan sosial beragama aspek upacara merupakan bentuk ekspresif
yang secara simultan merupakan wujud penampakan yang paling menonjol.
Namun secara sistemik satu aspek dengan aspek lainnya saling memberikan
fungsi yang saling terkait.
Salah satu elemen dari aspek upacara yang belakangan ini mendapatkan
perhatian dalam aktivitas keagamaan adalah upakara keagamaan. Fenomena
tersebut bertalian dengan wacana simplifikasi dalam tatanan upakara pada
masyarakat Hindu khususnya di kota Mataram. Pada hakikatnya munculnya
wacana semacam itu sebagian besar diakibatkan oleh pemahaman masyarakat
terhadap fungsi dan makna dalam sarana-sarana upakara tersebut. Dalam upaya
mewujudkan dan mensosialisasikan maksud tersebut maka dalam penelitian ini
mencoba untuk memberikan pemahaman dalam bentuk deskripsi analitik aspek
upakara yang difokuskan pada sarana upakara Pitra Yajna yaitu Banten Panjang
Ilang. Permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui bentuk
Banten Panjang Ilang dalam upacara ngaben di Mataram, (2) untuk mengetahui
fungsi simbolik Banten Panjang Ilang dalam upacara ngaben di Mataram, (3)
untuk mengungkap makna simbolik Banten Panjang Ilang dalam upacara ngaben
di Matarám.
Dalam upaya membedah fokus permasalahan dalam penelitian ini
menggunakan teori yang relevan antara lain: teori struktural fungsional, teori
estetika dan teori simbol. Teori struktural fungsional digunakan untuk membedah
fungsi-fungsi yang berkaitan dengan penggunaan sarana-sarana upakara dalam
Banten Panjang Ilang. Teori estetika digunakan dalam membedah bentuk-bentuk
upakara dalam Banten Panjang Ilung dari segi estetiknya. Sedangkan teori simbol
digunakan dalam mengungkap makna simbolik sarana upakara dalam Banten
Panjang Ilang yang digunakan sebagai sarana dalam upacara Pitra Yajna pada
masyarakat beragama Hindu di kota Mataram.
Dalam upaya mengoleksi data dalam penelitian di lapangan menggunakan
metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan dalam analisis data
diawali dengan klasifikasi data, dilanjutkan dengan reduksi data dan diakhiri
dengan interpretasi data. Klasifikasi data bertujuan untuk mengelompokkan data
sesuai keperluan analisis, reduksi data bertujuan memilih dan memilah data yang
dilanjutkan dengan mengiliminir data yang tidak diperlukan. Teknik terakhir
adalah interpretasi data yang dilakukan dengan menafsirkan data untuk
memperoleh makna yang tersirat dalam sarana upakara berupa banten Panjang
Ilang pada masyarakat Hindu di Mataram.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam melakukan penelitian di lapangan
maka ada beberapa hal yang dapat diperoleh seperti:
Bentuk banten Panjang llang secara fisik tidak ditentukan secara tepat.
Dalam penggunaannya disesuaikan dengan budaya pembuatan jenis-jenis banten
setempat. Bentuk simbolik dalam Banten Panjang Ilang menyiratkan tingginya
tingkat adaptasi budaya lokal terhadap ajaran agama Hindu. Bentuknya yang
sangat rumit dan sangat indah kelihatannya. Realitas ini mengindikasikan betapa
tinggi nilai estetik yang terdapat dalam sarana upakara tersebut. Bertalian dengan
nilai estetika yang tinggi maka dalam pembuatannya memerlukan juga orangorang yang berjiwa seni dan terampil dalam bidang ini.
Adapun fungsi Banten Panjang Ilang yang dipergunakan dalam upacara
ngaben adalah sebagai pengadang-adangan yang ditujukan kepada bhutakala
yang menghambat perjalanan sang atma. Kesucian proses pembutan banten
Panjang Ilang sangat berpengaruh terhadap mereka yang di upacarai/ di aben.
Banten Panjang llang sangat penting dalam upacara ngaben walaupun dalam
tingkat kanista.
Berkaitan dengan makna Banten Panjang Ilang dalam upacara Pitra yajna
di Mataram pada hakikatnya adalah sebagai oleh-oleh dari Sang Atma kepada
Sang Catur Sanak untuk mempercepat proses perjalanan menemui kedua orang
tuanya. Panjang Ilang sebagai persembahan kepada Sang Suratma dengan kaki
tangan beliau pada saat pembersihan atau pebaktian dan dipersembahkan pada
saat pengiriman yang ditempatkan pada banten pengiriman. Selain itu sebagai
media pembinaan moral dan budaya Hindu yang menekankan pada kesusilan dan
bersumber pada nilai budaya yang telah diwarisi secara turun temurun baik yang
masih berupa lontar atau dalam wujud Panjang Ilang.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Pascasarjana > S2 - Brahma Widya
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 30 Mar 2026 06:31
Last Modified: 30 Mar 2026 06:33
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1265

Actions (login required)

View Item
View Item