TARI REJANG KERAMAN PADA UPACARA NGUSABHA AGUNG DI DESA KEDIA, BUSUNGBIU, BULELENG (Perspektif: Bentuk, Fungsi, dan Makna)

NI WAYAN SUMERTINI, - (2006) TARI REJANG KERAMAN PADA UPACARA NGUSABHA AGUNG DI DESA KEDIA, BUSUNGBIU, BULELENG (Perspektif: Bentuk, Fungsi, dan Makna). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Tesis] Text (Tesis)
17. S2 BW 2006 NI WAYAN SUMERTINI.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (13MB)

Abstract

TARI REJANG KERAMAN
PADA UPACARA NGUSABHA AGUNG
DI DESA KEDIS, BUSUNGBIU, BULELENG
(Perspektif: Bentuk, Fungsi dan Makna)
ABSTRAK
Agama Hindu memiliki tiga kerangka dasar, terdiri atas Tatwa/Filsafat,
Susila/Etika dan Upacara/Ritual. Dalam pelaksanaan upacara, salah satunya melalui
upacara Dewa Yadnya sering diiringi dengan pementasan Tari Wali sebagai pelengkaр.
Diantara Tari Wali dimaksud ada Tari Rejang Keraman yang ada di Desa Adat
Kedis, Busungbiu,Buleleng. Di desa tersebut dipentaskan Tari Rejang Keraman saat desa
menggelar upacara Ngusabha Agung yang dipusatkan di Pura Puseh Pemulungan.
Tarian ini merupakan ungkapan rasa suka cita dan syukur warga, karena keberhasilannya
dalam panen di wilayah subak desa bersangkutan. Terhadap tarian ini dan rangkaian
upacara yang menyertainya memiliki keunikan, ätas keunikan itulah, Tari Rejang
Keraman pada saat Ngusabha Agung akan ditelaah dari sisi Téologi Hindu dalam kaitan
kehidupan sosial masyarakat setempat.
Penelitian ini mengangkat permasalahan tentang pementasan Tari Rejang
Keraman pada Ngusabha Agung di Desa Adat Kedis. Untuk itu dirumuskan tiga
permasalahan pokok yaitu: pertama, bagaimana bentuk pementasan Tari Rejang
Keraman; kedua, apa fungsi pementasan Tari Rejang Keraman berkaitan dengan
rangkaian upacara, dan ketiga, apa makna pementasan Tari Rejang Keraman di Desa
Kedis, Busungbiu, Buleleng berkaitan dengan Teologi Hindu.
Sepanjang penelitian dan penelusuran terhadap sumber-sumber yang telah
diterbitkan maupun berupa hasil penelitian, sesungguhnya belum ada yang secara khusus
mengkaji masalah diatas, sehingga penelitian ini dapat bermanfaat untuk kepentingan
pengembangan kebudayaan dan menjaga eksistensi Agama Hindu di Bali umumnya dan
di Desa Adat Kedis khususnya. Penelitian ini menggunakan Teori Strukturalisme untuk
membedah bentuk Tari Rejang Keraman, kemudian Teori Estetika untuk membedah
unsur keindahan dalam karya seni yang berupa tarian dan Teori Simbolik untuk
membedah simbolis dari Tari Rejang Keraman. Penelitian ini berlokasi di Desa Adat
Kedis dengan menggunakan metoda observasi, wawancara dan kepustakaan.
Secara perspektif dapat ditemukan beberapa hal : (1) Bentuk Tari Rejang
Keraman dalam perspektif Teologi Hindu yaitu sesungguhnya sebagai sebuah Tari Wali
untuk memuput upacara Dewa Yajna, mengandung unsur ungkapan rasa syukur dan
gembira warga atas limpahan rahmat melalui panen mereka dengan gerakan tangan yang
mencerminkan menghaturkan sesuatu, dengan harapan kembali diberikan anugrah oleh
Sang Pencipta. (2) Fungsi Tari Rejang Keraman dalam perspektif Teologi Hindu yaitu
sebagai sarana integrasi sosial, sebagai pelestarian seni budaya, berfungsi Estetis dan
simbolik. Hal ini berkaitan erat dengan kehidupan sosial masyarakat yang dominan dari
bertani baik sawah maupun tegalan/ladang. (3) Makna Tari Rejang Keraman dalam
perspektif Teologi Hindu yaitu makna terhadap kehidupan masyarakat, makna kesetiakawanan/kebersamaan, makna keseimbangan dan makna teologis.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Pascasarjana > S2 - Brahma Widya
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 30 Mar 2026 07:09
Last Modified: 30 Mar 2026 07:12
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1268

Actions (login required)

View Item
View Item