I KETUT ANTARA, - (2007) REVITALISASI PASIDIKARAN PADA MASYARAKAT HINDU DI KABUPATEN BADUNG (Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
8. S2 BW 2007 I KETUT ANTARA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (15MB)
Abstract
ABSTRAK
REVITALISASI PASIDIKARAN PADA MASYARAKAT HINDU
DI KABUPATEN BADUNG
(Kajian Bentuk, Fungsi dan Makna)
Masyarakat Bali dengan nilai-nilai budaya yang dimilikinya bersumber
dan dijiwai oleh Agama Hindu penuh dengan toleransi dan memiliki solidaritas
social yang tinggi. Ciri khas kehidupan masyarakat Bali bersifat gotong royong
yang diwujudkan dalam berbagai konsep budaya sebagai pengejawantahan
aktivitas sosialnya, di antaranya: konsep ngayah, matulung, ngerombo,
maselih bahu, makemit, magebagan, maselisi dalam tataran kehidupan
menyamabraya. Seiring dengan perkembangan zaman yang dibatasi oleh ruang
dan waktu yang disebut globalisasi, kehidupan masyarakat Hindu semakin
terbatas, yang mengarah pada kehidupan individual, sehingga dapat menggeser
kehidupan menyamabraya. Menyamabraya adalah sebagai wujud pasidikaran
yaitu swadharma kemanusiaan untuk saling menghormati, saling mengasihi,
saling menyembah dan saling membantu dalam pergaulan hidup sebagai
manusia yang bermoral dan beretika untuk mencapai suatu keharmonisan dan
kesejahteraan hidup, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat umat Hindu
maupun masyarakat pada umumnya. Untuk itulah dalam pergaulan yang serba
bebas, ketidak terikatan dengan norma-norma perlu adanya revitalisasi kembali
nilai budaya yang adiluhung sebagai pedoman pergaulan hidup, dengan
mengesampingkan status sosial dan struktur sosial kemasyarakatan sehingga
keseimbangan dan keharmonisan itu tercapai.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka masalah yang ingin
diungkapkan dalam penelitian ini adalah : (1) Bagaimana bentuk hubungan
pasidikaran pada masyarakat Hindu di kabupaten Badung? (2) Apa fungsi
pasidikaran pada masyarakat Hindu di Kabupaten Badung? (3) Apa makna
pasidikaran pada masyarakat Hindu di kabupaten Badung?
Penelitian ini mempergunakan teori: (1) Teori Pertukaran sosial (social
exchange), teori ini dipergunakan untuk mengkaji berbagai nilai budaya dalam
kegiatan adat -istiadat yang berkaitan dengan aktivitas sosial keagamaan yang
membutuhkan intensitas hubungan sosial yang cukup tinggi. (2) Teori
fungsionalisme structural, dipergunakan untuk mengkaji sub-sub unit yang
berhubungan dengan pasidikaran dan efek dari terjadinya perubahan sosial
terhadap hubungan kekerabatan dalam pasidikaran dimaksud (3) Teori modal
sosial (social cavital), adalah untuk mengkaji konsep nilai budaya sebagai
modal dalam hubungan sosial berdasar nilai kejujuran, kesopanan, dan kesetiaan
untuk bekerjasama dalam keluarga, kelompok maupun masyarakat umum.
Berdasarkan ketiga teori itu dilakukan penelitian dengan pendekatan kajian teologi bersumber dari data primer dan skunder, dan diperoleh melalui beberapa metode diantaranya metode Observasi, metode wawancara, studi
kepustakaan dan dikumentasi dengan penentuan informan kunci seperti;
Pegawai, Bendesa Pekraman, tokoh-tokoh adat, mantan pengurus adat, dan
tokoh-tokoh masyarakat lainnya yang mengetahui tentang pasidikaran.
Dari hasil penelitian dan analisis data dapat disimpulkan; 1. bentukbentuk pasidikaran di antaranya : (1) Bentuk sidikara saling idihin, artinya
saling memberi. (2) Saling silihin, yaitu saling meminjam untuk suatu kegiatan.
(3) saling tulungin, artinya saling menolong satu sama lainnya. (4) Majenukan,
artinya berkunjung ke rumah memmpunyai kematian (ngaben) dengan
membawa jenukan (beras, kopi, uang, gula dan lain sebagainya). 2. Sidikara
berfungsi sebagai : (1) penghormatan dalam hubungan persahabatan antara
sesama berdasarkan konsep Tat Twam Asi. (2) Menjaga kerukunan, sidikara
seperti ini akan berusaha menjaga nilai-nilai moral dan etika guna keseimbangan
dan keharmonisan hidup. (3) Fungsi Pemujaan, sebagai suatu kekerabatan,
mereka wajib saling memuja tidak sebatas sembah melainkan juga pemujaan
sebagai suatu doa.(4) Fungsi penentu garis keturunan dan pewarisan. (5) Fungsi
kebersamaan dan tolong menolong, sidikara ini timbul karena merasa senasib
sepenanggungan. 3. Makna Sidikara di antaranya : (1) Makna religius,
menyiratkan bahwa Brahman dan Atman adalah satu dengan seluruh ciptaan
Tuhan. (2) Makna sosiologis, bermakna saling hormat menghormati dan
menolong sesama manusia. (3) Pendidikan etika dan moral, 1 adalah salah satu
modal sosial perwujudan pendidikan tata susila yang dapat mengarahkan pada
perbuatan yang lebih baik. (4) Kesederajatan, ajaran Tat Twam Asi dalam arti
engkau adalah Aku dan Aku adalah engkau yang mengandung pengertian bahwa
semua manusia lahir dari sumber yang satu dengan hak untuk diperlakukan
sama dihadapan Tuhan.
Kata kunci : Revitalaisasi, Pasidikaran, Masyarakat Hindи.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 22 Apr 2026 05:14 |
| Last Modified: | 22 Apr 2026 05:15 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1282 |

