SI MADE, - (2007) UPACARA NYACAHIN DI DESA SEBATU, TEGALLALANG, GIANYAR (KAJIAN BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
14. S2 BW 2007 NI MADE SINIR.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (14MB)
Abstract
ABSTRAК
UPACARA NYACAHIN
DI DESA SEBATU,TEGALLALANG, GIANYAR
(Kajian Bebtuk, Fungsi, dan Makna)
Kitab suci agama Hindu ialah Veda, dari Vedalah ajaran agama
Hindu mengalir. Karena luasnya daerah dan panjangnya waktu yang
dilaluinya maka wajahnya dapat berubah sesuai dengan ruang dan waktu
yang dilaluinya, tetapi esensinya tetap esensi Veda. Agama Hindu yang
diwarisi di Bali-pun esensinya sama dengan esensi Veda. Hanya
penyebutan, tata pelaksanaan hidup beragama yang berbeda. Esensi ajaran
ketuhanan dalam Siwa Tattwa sama dengan ajaran ketuhanan dalam Veda.
Ajaran Siwa Tattwa-lah yang direalisasikan dalam hidup beragama Hindu di
Bali.
Ajaran agama Hindu terdiri dari Tattwa, Susila dan Acara. Ketiga
kerangka agama itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahpisahkan. Susila dan acara adalah realisasi dari ajaran Tattwa yang abstrak
dalam sikap prilaku dan kebaktian yang dapat diamati. Susila dan acara
adalah penampakan ajaran Tattwa. Upacara adalah salah satu bagian dari
acara agama merupakan wujud pelaksanaan Tattwa yang disebut dengan
yajña. Yajña adalah korban suci yang dilakukan dengan tulus ikhlas dan
merupakan salah satu kewajiban bagi umat Hindu untuk melaksanakannya,
karena umat Hindu berkeyakinan terikat oleh tiga hutang yang disebut Tri
Rna.
Upacara Nyacahin adalah salah satu bagian dari bentuk dan
pelaksanaan yajña sebagai dasar pengembalian Tri Rna yaitu Dewa Rna.
Upacara Nyacahin adalah upacara yang tergolong langka dan unik yang
dikakukan masyarakat desa Sebatu, selama Upacara Nyacahin berlangsung,
para Dewa diyakini melakukan "ngekes brata" (melaksanakan
pantangan/melakukan yoga semadhi) selama 42 hari. Seluruh masyarakat
desa Sebatu yakin dan mengikutinya pantangan-pantangan dengan tidak
melakukan kegiatan-kegiatan seperti: upacara Pañca Yajña, tidak menanam
dan menebang tumbuh-tumbuhan, tidak menjual binatang ternak atau
peliharaan, tidak bepergian jauh dan menginap di luar desa, tidak menerima
tamu yang menginap, tidak mencukur rambut bahkan memotong kuku.
Disamping itu diikuti dengan upacara mengusir wong samar,dan penyepian
di lingkungan desa Sebatu. Hal ini sangat unik dan langka disamping
mengandung nilai-nilai spiritual yang tinggi yang harus dilestarikan.
Upacara ini setiap tahun dilakukan dengan penuh hikmad dan tulus namun
belum jelas sumber pelaksanaan, karenanya kurang referensi dan imformasi,
kenapa dan bagaimana upacara Nyacahin itu dilakukan. Atas dasar latar
belakang tersebut, maka masalah yang ingin diungkapkan adalah:
Bagaimana bentuk upacara Nyacahin ?, Apa fungsi upacara Nyacahin?
dan apa makna upacara Nyacahin?.
Penelitian ini mempergunakan teori fungsional struktural untuk
mengkaji bentuk dan fungsi dari masing-masing struktur upacara dan
sarana Upacara Nyacahin. Teori religi digunakan untuk membedah
permasalahan bentuk, fungsi dan makna upacara dari keyakinan masyarakat
terhadap hal-hal dan sarana Upacara Nyacahin. Dan teori simbol
dipergunakan untuk mengkaji makna simbolik yang ada pada setiap struktur
upacara dan sarana Upacara Nyacahin.
Berdasarkan ketiga teori tersebut dilakukan penelitian dengan
pendekatan teologis dari data primer yang diperoleh melalui penelitian
lapangan dan data skunder yang diperoleh dari beberapa dokumentasi
kepustakaan yang ada relevansinya dengan masalah yang diteliti. Ada
beberapa cara untuk memperoleh data yang sahih mengenai Upacara
Nyacahin,yaitu: metode observasi, metode wawancara, metode kepustakaan,
metode dokumentasi yaitu untuk mendokumentasikan kejadian atau
kegiatan upacara di lapangan dan ditunjang dengan berbagai sumber
pustaka. Selanjutnya data yang dapat dikumpulkan dan dianalisa dengan
teknik deskriptif kualitatif.
Upacara Nyacahin dilaksanakan dengan sarana upacaranya, yang
dapat diklasifikasikan melalui bentuk, fungsi dan makna. Dari segi bentuk
Upacara Nyacahin dapat dilihat secara berstruktur yaitu : (1) Sarana
Upacara Nyacahin, (2) rangkaian Upacara Nyacahin, (3) waktu dan tempat
dilaksanakan Upacara Nyacahin, (4) perangkat pelaksana Upacara
Nyacahin, (5) Prosesi Upacara Nyacahin, (6) dan Stuktur ritual Upacara
Nyacahin.
Semua prosesi dan struktur Upacara Nyacahin memiliki fungsi yaitu
(1) sebagai simbol wujud persembahan, (2) simbol pembayaran hutang
kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, (3) fungsi sebagai peningkatan
sraddha dan bhakti, (4) sebagai pengembangan rasa seni, (5)sebagai
penanaman nilai etika, (6) sosial kemasyarakatan,(7) penetralisir hama, dan
(8) meningkatkan perekonomian
Upacara Nyacahin memiliki makna yaitu : (1) Makna teologis, (2)
makna kesucian, (3) makna etis, (4) makna kesuburan, (5) makna
kelestarian lingkungan, dan (6) makna keharmonisan.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 22 Apr 2026 06:51 |
| Last Modified: | 22 Apr 2026 06:52 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1288 |

