RITUAL BARONG NGUNYING DI DESA PAKRAMAN BEBALANG KECAMATAN BANGLI KABUPATEN BANGLI (KAJIAN TEOLOGI)

ANAK AGUNG RAKA ASMARIANI, - (2009) RITUAL BARONG NGUNYING DI DESA PAKRAMAN BEBALANG KECAMATAN BANGLI KABUPATEN BANGLI (KAJIAN TEOLOGI). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Thesis] Text (Thesis)
1. S2 BW 2009 ANAK AGUNG RAKA ASMARIANI.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (19MB)

Abstract

ABSTRAK
Ritual Barong Ngunying merupakan bagian dari ajaran agama Hindu yang
mempunyai arti dan fungsi yang mendasar dalam kehidupan keagamaan bagi
masyarakat Desa Pakraman Bebalang. Mengingat upacara ini mempunyai fungsi
dan tujuan yang penting dalam kehidupan beragama bagi masyarakat Desa
Pakraman Bebalang, serta ditinjau dari segi teologi pelaksanaan upacara ini
mempunyai arti yang mendasar karena membentangkan dasar-dasar moral agama
yang tinggi seperti mendahulukan persembahan dari pada kepentingan pribadinya,
memupuk sikap gotong royong, tenggang rasa serta mempertebal ketaqwaan
umatnya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu ritual Barong Ngunying perlu
dilestarikan agar nilai-nilai filosofis, estetika, etika dan upacaranya tetap
langgeng.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka timbul beberapa permasalahan
yang akan dibahas yaitu mengenai : (1) Bagaimana bentuk ritual Barong
Ngunying? (2) Apa fungsi ritual Barong Ngunying? (3) Apa makna dalam ritual
Barong Ngunying di Desa pakraman Bebalang?
Permasalahan ini akan di bedah dengan mengunakan beberapa teori yaitu :
Teori religi, untuk membahas bentuk ritual Barong Ngunying. Teori makna
simbol untuk membahas makna dari ritual Barong Ngunying. Sedangkan teori
estetika dipakai untuk membahas mengenai fungsi seni yang terdapat dalam ritual
Barong Ngunying.
Jenis data berupa data kualitatif, pendekatan penelitian ini dilaksanakan
secara sosiologis, sesuai dengan judul dan rumusan masalah yang ada dalam
penelitian ini untuk mencari data di lapangan digunakan beberapa metode seperti :
(1) Observasi; (2) Wawancara (Interview); dan (3) Pencatatan Dokumentasi.
Dalam menganalisis digunakan dengan tehnik deskriptip demikian juga dalam
menyajikan hasil analisi digunakan metode deskriptif yaitu menjelaskan secara
luas objek dan subjek penelitian.
Dari hasil analisis data dapat disimpulkan: Ritual Barong Ngunying
adalah sebuah rangkaian ritual upacara keagamaan dengan segala
perlengkapannya yang dilaksanakan setiap 210 hari. Ritual Barong Ngunying
dijaksanakan pada saat Hari Raya Kuningan di Pura Puseh, Desa Pakraman
Bebalang, mengambil tempat di Jaba Tengah Pura Puseh menghadap ke Jeroan
Pura Puseh. Sebelum pementasan ritual Barong Ngunying dimulai, diawali
dengan ngiring Ida Bhatara dari Pura Dalem mececingak keseluruh wilayah Desa
Pakraman Bebalang dengan semua upakaranya yang telah dipersiapkan,
kemudian Ida Bhatara malinggih atau distnakan di Pura Puseh kemudian katuran
ayaban, diikuti sembahyang bersama Krama Desa untuk memohon keselamatan,
setelah itu Ida Bhatara katuran masolah (menari) yang didampingi oleh beberapa
pamongmong dan krama Desa yang Ngunying (trance).
Fungsi ritual Barong Ngunying adalah selama prosesi berlangsung terjadi
interaksi sosial yang perlahan membentuk terciptanya kesadaran akan rasa senasib
dan sepenanggungan diantara Krama. Dari sana akan tercipta rasa solidaritas yang
tinggi diantara masyarakat, yakni "segilik seguluk selulung sebayantaka, paras
paros sarpenaya". Fungsi religi dari ritual Barong Ngunying, adalah tiada lain
untuk memberi labaan kepada Butha Kala di lingkungan Desa Pakraman
Bebalang, dengan memberi labaan maka para Bhuta Kala tidak akan ngerebeda
(marah) dan akan dapat menetralisir kekuatan-kekuatan yang tidak baik dengan
fibrasi suci dari Ida Bhatara Sesuhunan. Sedangkan fungsi estetika yang ada
dalam ritual Barong Ngunying adalah pemersatuan antara tiga wisesa yaitu:
satyam, siwam, dan sundaram. Dimana dengan kebenaran, kesucian dan
keindahan mampu mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, ini
terbukti pada saat berlangsungnya Ritual Barong Ngunying ada pengiringpengiring (krama Desa) mengalami kesurupan (trance).
Makna ritual Barong Ngunying di Desa Pakraman Bebalang, Makna
keselamatan yaitu bencana dari para Bhuta Kala. Makna kemakmuran yang
terdapat dalam ritual Barong Ngunying adalah dengan tetap melestarikan
berbagai tradisi yang telah diwarisi sejak dahulu sebagai bentuk permohonan
kemakmuran, keselamatan dan kesucian kepada Tuhan. Sehingga ritual Barong
Ngunying tersebut sebagai upaya untu'k menciptakan masyarakat bersama-sama
saling berkordinasi satu dengan yang lain dan saling melengkapi guna terciptanya
masyarakat yang sejahtera. Ritual Barong Ngunying juga sebagai pelindung dari
hal-hal niskala seperti gangguan penyakit, seperti termuat dalam Lontar
Ajigurnita bahwa seni itu bisa sebagai sarana untuk menyembuhkan suatu
penyakit dan salah satunya adalah kesenian barong. Demikian juga termuat dalam
Lontar Barong Swari. Selain itu Krama Desa mempercayai adanya manifestasi
Tuhan yang mereka puja sebagai perwujudan Ida Bhatara Alit (Barong) dan Ida
Bhatari Sri (Rangda) untuk memohon keselamatan serta untuk menetralisir sifatsifat negatif dan memanfaatkan sebesar mungkin untuk mencipatakan
keharmonisan serta keseimbangan Parahyangan (hubungan yang harmonis antara
I karma desa dengan Tuhan).

Kata Kunci : Barong Ngunying, Kuningan, Desa Pakraman

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Pascasarjana > S2 - Brahma Widya
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 27 Apr 2026 03:03
Last Modified: 27 Apr 2026 03:04
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1292

Actions (login required)

View Item
View Item