I KETUT RETIKA, - (2009) PENGOLAHAN DAGING AYAM PADA CARU PANCA SATA DALAM UPACARA NYAKAP CARIK DI DESA NYAMBU, KECAMATAN KEDIRI, KABUPATEN TABANAN (KAJIAN BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
8. S2 BW 2009 I KETUT RETIKA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (19MB)
Abstract
ABSTRAK
Kehidupan beragama pada masyarakat Hindu di Bali, dikenal sebagai masyarakat
religius magis. Dalam menunjang kehidupan sosial budaya sehari-hari, banyak diwarnai
oleh pelaksanaan upacara keagamaan. Fenomena penggunaan ayam dalam upacara di
Bali, terutama upacara caru (Bhuta Yajna) memiliki makna yang khas dan sarat dengan
aturan etika, baik dalam menentukan jenis warna bulu, cara memotong, cara mengolah,
mempersembahkan maupun orang yang memimpin upacara, tetapi kenyataannya tidak
semua umat dapat melaksanakan aturan itu, seperti yang terjadi di Desa Nyambu,
Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan.
Masyarakat Desa Nyambu memotong begitu saja ayam yang dipakai sarana
persembahan. Bahkan sering terjadi ketidaksesuaian dalam hal tatacara pengolahan
daging ayam bila dibandingkan dengan petunjuk sastra. Seperti halnya cara pengolahan
Caru Panca Sata di Desa Nyambu, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Semua jenis
ayam dagingnya diolah dengan cara mencampur menjadi satu sehingga tidak sesuai
petunjuk sastra, namun dianggap hal yang biasa oleh masyarakat Hindu di Desa Nyambu.
Fenomena ini menggugah penulis untuk meneliti, apakah masyarakat di Desa Nyambu
memiliki pemikiran bersifat konservatif atau memang tidak mengetahui sumber-sumber
sastra tentang upacara Caru Panca Sata. Sebenarnya masing-masing ayam sesuai dengan
warnanya memiliki fungsi dan makna tersendiri.
Berdasarkan uraian masalah di atas, dapat dirumuskan tiga masalah penelitian
sebagai berikut: 1) Bagaimanakah etika dalam struktur membentuk Caru Panca Sata di
Desa Nyambu ? 2) Apakah fungsi Upacara Caru Panca Sata di Desa Nyambu ? 3)
Apakah makna Upacara Caru Panca Sata di Desa Nyambu?
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1)
Untuk mengetahui persepsi masyarakat di Desa Nyambu tentang etika dalam struktur
membentuk Caru Panca Sata. 2) Untuk mengetahui persepsi masyarakat di Desa
Nyambu tentang fungsi Caru Panca Sata. 3) Untuk mengetahui persepsi masyarakat di
Desa Nyambu tentang makna Caru Panca Sata.
Karya tulis ini menggunakan beberapa teori dalam membedah permasalahan di
atas, teori tersebut antara lain 1) Teori Fungsional Struktural, teori fungsional struktural
di atas dianggap cukup relevan dalam menggali etika yang benar dalam struktur
membentuk caru Panca Sata. 2) Teori Interaksionisme Simbol Interaksi simbolik
mengejar makna di balik yang sensual, mencari fenomena yang lebih esensial dari pada
sekedar gejala. 3) Teori Religi Tentang Upacara Bersaji Sebuah teori mengenai azas-azas
religi, yang mendekati masalahnya dengan cara yang berbeda dengan teori-teori tentang
religi yang lain. Setiap karya tulis membutuhkan teknik pengumpulan data, dalam
penulisan ini menggunakan beberapa metode, antara lain metode observasi, wawancara,
kepustakaan dan metode alisis data.
Hasil penelitian ini adalah Upacara Panca Sata menggunakan beberapa macam
sarana yang tergolong dalam jenis mataya yaitu sarana yang berasal dari sesuatu yang
tumbuh dan mantiga adalah sesuatu yang lahir dua kali di antaranya penggunaan lima
jenis ayam.
Fungsi upacara Panca Sata nyomya Para Bhuta, selain itu juga berfungsi sebagai
Panyupatan karena pelaksanaan Caru Panca Sata bertujuan untuk membersihkan tempat
(alam beserta isinya), dan memelihara serta memberi panyupatan kepada para bhuta kala
dan makhluk yang dianggap lebih rendah dari manusia. Caru Panca Sata memiliki fungsi
pelayanan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebab berbicara mengenahi upacara tak lepas
dari upakara, karena upakara dan upacara berkaitan erat. Upakara artinya pelayanan,
servis. Rangkaian kegiatan pada persembahan pelayanan itu disebut upacara. Upakara
ditampilkan dalam bentuk banten.. Terakhir upacara Panca Sata fungsinya mohon
ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa Upakara sebagai sarana dalam pelaksanaan suatu
upacara agama. Pelaksanaan upacara Caru Panca Sata memiliki fungsi sebagai lukisan
permohonan maaf atau mohon untuk diampuni atas segala kesalahan dan kehilapan yang
telah diperbuat, seperti yang dilukiskan dalam bentuk banten.
Makna Upacara Caru Panca Sata bermakna sebagai sarana komunikasi untuk
mengharmoniskan hubungan Bhuana Alit dengan Bhuana Agung. Perlengkapan Caru
yang esensial adalah Api Takep dan Tetabuhan. Api Takep adalah api yang ditaruh pada
dua kupak serabut kelapa yang diletakkan menyilang bertumpuk Tapak Dara atau
Swastika, maknanya energi dan gerak alam yang dikendalikan. Tetabuhan adalah taburan
zat cair yang dapat berupa: tuak, arak, berem, air dan darah yang mempunyai makna
usaha atau tindakan menyeimbangkan gerak makrokosmos dengan gerak mikrokosmos.
Makna peningkatan status kehidupan, sebab persembahan berupa hewan pada upacara
mengandung makna pemberian kesempatan pada makluk tersebut untuk beryadnya
kepada Tuhan, untuk mendapatkan derajat yang lebih tinggi, pada kelahiran yang akan
datang, dalam hal ini maknanya adalah panyupatan. dan makna keharmonisan
berdasarkan konsep Tri Hita Karana Nilai keseimbangan dan keharmonisan secara
horizontal dan vertikal terefleksi dalam konsep Tri Hita Karana yakni keseimbangan
secara horizontal dengan alam (palemahan) dan sesama manusia (pawongan), serta
keseimbangan secara vertikal dengan Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa
(parhyangan).
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 27 Apr 2026 03:42 |
| Last Modified: | 27 Apr 2026 03:45 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1299 |

