TRADISI MAJAJAHITAN SEBAGAI MEDIA KERUKUNAN HIDUP INTERN UMAT BERAGAMA DALAM MASYARAKAT HINDU MULTIETNIS DI DKI JAKARTA

I NYOMAN ASTAWA, - (2009) TRADISI MAJAJAHITAN SEBAGAI MEDIA KERUKUNAN HIDUP INTERN UMAT BERAGAMA DALAM MASYARAKAT HINDU MULTIETNIS DI DKI JAKARTA. Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Thesis] Text (Thesis)
9. S2 BW 2009 I NYOMAN ASTAWA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (20MB)

Abstract

ABSTRAK

Masyarakat metropolitan Jakarta telah banyak mengalami bentuk perubahan social
akibat dari pengaruh globalisasi yang mampu menggeser sendi-sendi kehidupan
individu, yang berpengaruh langsung pada kehidupan social termasuk hidup
beragama. Agama Hindu sebagaimana halnya agama-agama lain yang diakui di
Indonesia, berkembang pula di wilayah metropolitan. Pemeluk ajaran Hindu di DKI
Jakarta sebanyak 105.758 jiwa dan 78,94% dari jumlah tersebut adalah masyarakat
etnis Bali.
Umat Hindu dalam melaksanakan kegiatan keagamaannya memiliki sentra-sentra
aktivitas kerohanian berupa pura dan temple. Secara umum orang mengenal kegiatan
keagamaan itu adalah Hindu adalah dari ciri fisik yakni pura, sesajen, pakaian adat
Bali dan tari-tarian Bali. Salah satu aktivitas menonjol yang selalu dilaksanakan baik
dilingkungan keluarga maupun pada tingkat temporer di lingkungan masyarakat luas
adalah kegiatan merangkai janur. Oleh masyarakat Hindu khususnya kaum
perempuan, kegiatan itu disebut Majajahitan, dan hasil dari kegiatannya disebut
Jajahitan yakni sebuah perwujudan karya artistic yang bernilai sacral karena
dijadikan persembahan/ritual keagamaan.
Pada penelitian ini terdapat permasalahan yang dirumuskan secara sederhana,
bagaimana penerapan bentuk jajahitan yang dilakukan?, apa fungsi dan makna tradisi
majajahitan bagi masyarakat Hindu yang multietnik di Jakarta?. Masalah tersebut
dikaji dalam analisis bentuk, fungsi dan makna dengan menggunakan teori religi,
teori fungsional structural dan teori interaksionisme simbolik guna mengungkap
berbagai nilai yang diterapkan. Teori-teori tersebut dioperasionalkan dengan
pendekatan sosio religius pada metode kualitatif.
Data yang diperoleh melalui observasi berpartisipasi, data kajian pustaka dan hasil
wawancara, menunjukkan adanya kegiatan rutin kaum perempuan Hindu
melaksanakan praktik majajahitan. Hasil dari kreativitas tersebut dipergunakan untuk
persembahyangan sehari-hari maupun secara periodik pada saat upacara keagamaan
di pura. Secara umum jenis jajahitan yang dilakukan meliputi : porosan, kwangen,
canang sari dan daksina. Jenis-jenis sarana upacara itulah yang menjadi sarana
pokok dalam setiap persembahyangan baik di perumahan pribadi maupun di pura
secara bersama-sama.
Penelitian ini menyimpulkan tradisi majajahitan dapat menjadi media dalam
membina kerukunan hidup beragama Hindu yang pemeluknya berasal dari
multietnik. Hal itu terlihat dari bentuk majajahitan sebagai proses yang tidak menjadi
dominasi masyarakat etnis Bali, tetapi dilakukan juga oleh kaum perempuan etnis
Jawa, keturunan Tionghoa, etnis Sunda, dan yang lainnya. Sedangkan dari bentuk
jajahitan yang merupakan hasilnya berfungsi sebagai sarana persembahan dan
sekaligus sebagai perwujudan Tuhan guna mempermudah konsentrasi pemuja-Nya.
Dari seluruh fungsi yang ditinjau, fungsi penyatuan merupakan satu-satunya fungsi
yang menonjol yang memberi akses pada fungsi-fungsi yang lain. Dari aspek
keberagaman bahan yang digunakan berupa daun, bunga, buah dan alat perekatnya
berupa semat (biting) merujuk pada keberagaman pemeluk agama tersebut yang
multietnik, sehingga fungsi penyatuan tersebut memberikan akses pada fungsi
pendidikan, fungsi pemantapan keyakinan (sraddha), fungsi etika dan moralitas, baik
dilihat dari bentuk sebagai sebuah proses, maupun hasil proses tersebut. Terlebih lagi
makna yang dikandung, secara vertikal dan horizontal bermakna kesucian. Dari
makna kesucian tersebut mengalir seluruh nilai spiritual keagamaan dalam
implementasinya menjadi nilai-nilai operasional yang bermakna sebagai identitas diri
seorang Hindu, seperti makna ketulusan, makna keharmonisan dan makna
kebahagiaan.
Dengan hasil yang kurang optimal dalam penelitian ini, maka perlu diarahkan untuk
kepentingan akademis aspek sosio-kultural ini dapat dilaksanakan secara lebih baik
dengan sistem manajemen modern. Disamping itu perlu adanya bhisama (fatwa)
sebagaimana fatwa halal/haram dari MUI terhadap produk tertentu, terhadaр
jajahitan dari Parisada Hindu Dharma Indonesia tentang makna kesucian yang harus
diamankan dari berbagai faktor kepentingan.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Pascasarjana > S2 - Brahma Widya
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 27 Apr 2026 03:53
Last Modified: 27 Apr 2026 03:55
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1300

Actions (login required)

View Item
View Item