IDA BAGUS NYOMAN NYANA, - (2009) KONSEP KETUHANAN DALAM LONTAR SIWAGAMA (KAJIAN BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
12. S2 BW 2009 IDA BAGUS NYOMAN NYANA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (19MB)
Abstract
ABSTRAK
Oleh: Ida Bagus Nyoman Nyana.
Lontar Śiwāgama adalah naskah karya sastra yang relative muda dikawi oleh
seorang wiku bergelar Ida Pedanda Made Sidemen dari Geria Delod Pasar, Denpasar
Selatan. Naskah Siwägama juga disebut dengan Purwägamasasana yang dikarang
pada tahun 1938. Naskah Siwāgama menguraikan perbedaan suatu ajaran sampai
dengan paralelisasi, koraborasi ajaran antara karmasannyasa-yogasannyasa demikian
halnya dengan Śiwa-Buddha serta kelepasan/moksa. Sehubungan dengan hal tersebut,
maka permasalahan yang dibahas adalah mengenai bentuk, fungsi makna naskah
Siwāgama.
Secara umum penlitian ini bertujuan; menggali, melestarikan dan
mengembangkan warisan budaya bangsa khususnya Bali. Dengan demikian,
masyarakat diharapkan lebih memahami, mendalami serta melaksanakan esensi
ajaran agama Hindu. Sehingga kualitas untuk berkompetisi dalam keberagamaan
menjati lebih baik dan kompetitif. Secara khusus tujuan yang hendak dicapai adalah
untuk mengetahui bentuk, fungsi dan makna naskah Siwāgama.
Penelitian ini menggunakan tiga teori. Menjelaskan bentuk dan fungsi naskah
Siwāgama menggunakan teori Struktur, dan teori fungsi. Sedangkan menjelaskan
mengenai bentuk menggunakan teori Struktural dan teori Simiotik. Sedangkan
menjelaskan makna naskah Siwāgama menggunakan teori Simbul.
Metode yang digunakan terdiri beberapa tahapan yakni: 1) Jenis dan
Pendekatan Penelitian. 2) Data dan Sumber data, 3) Metode Pengumpulan data, serta
4) Tehnik Pengolahan Data.
Siwāgama, sejatinya merupakan naskah yang bersifat khas. Kekhasan naskah
Siwagama, terletak pada isinya yang multi ajaran dibandingkan dengan naskahnaskah lain yang namanya sejenis. Siwāgama, mengandung ajaran BubuksahGagakaking, Karmasannyasa-Yogasannyasa yang bermuara pada ajaran ŚiwaBuddha. Lebih khas lagi, bahwa Siwāgama menyatakan bahwa Siwa-Buddha adalah
tunggal sejak dalam kandungan. Artinya menyatunya Siwa-Buddha sejak terjadinya
pertemuan kama petak (sperma) dengan kama bang (sel telur) dalam Siwagarbha
(rahim).
Analisis terhadap ajaran Śiwägma, menghasilkan suatu kesimpulan bahwa
struktur luar naskah Siwāgama berbentuk tutur dengan nomor kropak 3, lontar
bernomor, 165. panjang lontar 49,5 cm, lebar 3 cm yang terdiri dari 347 lembar.
Naskah Šiwāgama terdiri dari 21 sargah, enam ratus sembilan puluh lima sloka
berbahasa sansekerta, 57 tujuh mantra berbahasa sansekerta dan enam ratus sembilan
puluh lima berbentuk palawakya, menggunakan bahasa Jawa Kuna. Naskah
Siwāgama yang menggunakan bahasa Sansekerta yang berbentuk sloka kalimatnya
lebih pendek demikian pula mantra yang menggunakan bahasa sansekerta kalimatnya
juga lebih pendek.
Sedangkan struktur dalamnya, menampilkan tokoh yang melakukan dialog
antara Catur Asrama dengan raja Pranaraga, Kretawardana, Wretipatikandhayun,
antara Yudistira dengan Candrabhairawa, Nilacandra dan Candrawicandra, antara
Krsna dengan Chandrabhairawa, Candrawicandra dan Nilącandra, tentang ajaran
Bubuksah-Gagakaking, Karmasannyasa-Yogasannyasa dan Siwa-Buddha.
Naskah Šiwāgama memiliki: (1) Fungsi Sradha, ajaran Siwägama dapat
meningkatkan keyakinan beragąma, (2) fungsi meningkatkan Budi Pekerti, melalui
ajaran yang terkandung dalam Siwāgama, dengan berbagai tatanan dialog dan ajaran
yang didialogkan dapat meningkatkan Budhi Pekerti, dan (3) fungsi estetis, yaitu
naskah Siwägama berfungsi sebagai hiburan baik bagi yang melakukan mabebasan
maupun bagi yang mendegarnya. Makna yang terkandung dalam naskah Śiwāgama
adalah makna teologi tentang (1) Makna Tutur Siwāgama, (2) Makna Ajaran
karmasannyasa, dalam kehidupan beragama Hindu tidak terlepas dari upakaraupacara yang merupakan beragama secara komunal, (3) Makna Ajaran yogasannyasa,
menekankan beragama secara individual, (4) Śiwa-Buddha, ajaran Siwa dalam
masyarakat Hindu, perilaku keagamaannya adalah karmasannyasa, sedangkan ajaran
Buddha dalam masyarakat Hindu, perilaku keagamaannya adalah Yogasannyasa, (5)
Kosmologi, memaparkan penciptaan alam semesta beserta isinya lengkap dengan
perilaku keagamaannya, (6) Kelepasan, menjalankan salah satu dari pada ajaran
sebagaimana naskah Siwāgama dan atau gabungan di antaranya seperti Siwa-Buddha
dengan tekun, maka dapat mencapai kelepasan/moksa dan (7) Makna Etika, dengan
menekuni, serta menjalankan ajaran Siwāgama, dapat meningkatkan nilai etika dalam
hidup dan kehidupan beragama Hindu.
Kata kunci: Šiwāgama, ajaran Šiwa, ajaran Buddha.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 27 Apr 2026 04:33 |
| Last Modified: | 27 Apr 2026 04:35 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1303 |

