IDA BAGUS PUTU GEDE RAKA, - (2009) PENGGUNAAN PENJOR PENAWASANGAN DALAM UPACARA PENYINEBAN DI PURA PUSEH DESA PAKRAMAN LUMBUAN SUSUT BANGLI. Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
13. S2 BW 2009 IDA BAGUS PUTU GEDE RAKA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (18MB)
Abstract
ABSTRAK
Struktur ajaran agama Hindu yang disebut dengan tri kerangka dasar terdiri dari
tattwa, susila, dan upacara merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Fenomena yang berkembang di masyarakat bahwa umat Hindu kental dengan kemeriahan
upacaranya namun minimal akan pemahaman tattwa. Kemeriahan upacara tanpa
diimbangi dengan pemahaman tattwa apalagi filsafatnya. Sehingga muncul beberapa
kritik bahwa upacara pemborosan, upacara bertentangan dengan ajaran ahimsa, upacara
hanya symbol saja. Namun disisi lain umat Hindu masih kental dengan upacaranya
khususnya umat Hindu Bali yang berada di Desa Pakraman Lumbuan. Tradisi unik di
Desa ini adalah terdapat penggunaan penjor penawasangan saat upacara panyineban. Hal
ini menarik untuk dikaji mengingat penjor secara umum ada yang disebut penjor upacara
bersifat sakral dan penjor hias yang bersifat profan. Penjor penawasangan ini yang
bentuknya unik yaitu bercabang delapan ditambah batang yang ditengah khusus
digunakan saat upacara panyineban.
Adapun permasalahan terkait dengan penelitian ini yaitu : (1) Bagaimanakah
penggunaan penjor penawasangan saat upacara penyineban (2) Bagaimanakah nilai
sosial penjor penawasangan dalam upacara panyineban (3) Bagaimanakah nilai relegius
penjor penawasangan dalam upacara panyineban. Ada dua tujuan yang ingin dicapai
dalam penelitian ini yaitu: tujuan umum dan tujuan khusus. Adapun tujuan umum dari
penelitian ini adalah untuk mengungkap dan mengetahui penggunaan penjor
penawasangan dalam upacara penyineban di Pura Desa Pakraman Lumbuan Susut
Bangli. Di samping itu pula untuk kepentingan invententarisasi dan dokumentasi. Secara
khusus penelitian ini bertujuan sebagai berikut : (1) Untuk mengetahui proses
penggunaan penjor Penawasangaan dalam Upacara penyineban di Pura Puseh Desa
Pakraman Lumbuhan. (2) Untuk mengetahui nilai sosio religius penjor Penawasangaan
dengan upacara Penyineban di Pura Puseh Desa pakraman lumbuhan susut Bangli (3)
Untuk mengetahui nilai religius penjor penawasangaan dalam upacara panyineban di
Pura Puseh Desa Pakraman Lumbuhan Susut Bangli.
Teori yang digunakan untuk membahas permasalahan tersebut adalah teori
fungsional struktural yang lebih menekankan keteraturan hubungan antara satu bagian
dengan bagian yang lain. Teori ini digunakan untuk membahas permasalahan pertama
yaitu terkait dengan proses penggunaan penjor penawasangan yang didalamnya diraikan
bentuk penjor hingga proses penggunaannya.Di samping itu pula juga dipakai mengakaji
permasalahan kedua yaitu nilai sosial penjor penawasangan. Teori Relegi digunakan
untuk membahas permasalahan yang ketiga yaitu terkait dengan nilai relegi dalam penjor
penawasangan. Untuk mengoperasionalkan teori tersebut maka dipakai metodologi
penelitian adapun metode yang digunakan yaitu : metode observasi, metode wawancara
dan metode kepustakaan.
Proses penggunaan penjor penawasangan melalui tiga fase yaitu : (1). fase
persiapan: menentukan dewasa untuk memulai kegiatan dan persiapan bahan untuk
membuat membuat penjor, merangkai penjor dan nanceb penjor (2) puncak acara:
nglawang dan megama, (3) fase penutup : upacara megama, murya samkya, nyineb
penjor penawasangan.
Nilai sosiologi dalam penggunaan penjor penawasangan bahwa ajaran, karma,
tattwam asi, ahimsa dijadikan dasar dalam tindakan sosial sehingga menjadikan
masyarakat Lumbuan mempunyai identitas kulutural. Karma, tattwam asi, ahimsa
dijadikan landasan dalam tidakan sosial sehingga persaudaraan, gotong-royong,
kebersamaan, tolong menolong, cinta kasih terwujud khususnya dalam pembuatan penjor
penawasangaan.
Nilai relegi penjor penawasangan dalam upacara panyineban adalah adanya
keyakinan bahwa adanya kekuatan, adanya sesuatu yang rahasia dibalik penjor tersebut
yang melebihi kemampuan manusia sehingga manusia menyerahkan diri pada kekuatan
tersebut dengan berdoa, bersaji yang disertai dengan tarian dan sebagainya. Nilai relegi
itu tidak bisą terlepas dari sisten relegi yaitu: (1). emosi keagamaan masyarakat
Lumbuan untuk meriah, gembira melaksanakan upacara penjor penawasangan. (2). Sitem
keyakinan bahwa yakin tentang sifat-sifat Tuhan sehingga memunculkan nilai atau norma
keagamaan, ajaran kesusiląan dalam membuat penjor penawasangan, (3). Sistem upacara
adalah proses penggunaan penjor penawasangaan dalam upacara panyoneban (4)
Peralatan ritus yaitu alat dan sarana untuk mebuat penjor penawasangan (5). Umat agama
yaitu masyarakat Lumbuan sebagai pelaksana dalam membuat penjor penawasangan.
Kata kunci : Penjor Penawasangan, Sosio-Religi
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 27 Apr 2026 04:38 |
| Last Modified: | 27 Apr 2026 04:40 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1304 |

