GAMELAN GAMBANG DALAM UPACARA PEGINGSIRAN RATU PINGIT DI DESA PAKRAMAN PENGOTAN BANGLI KAJIAN TEO ESTETIK

I DEWA GEDE DARMAYASA, - (2010) GAMELAN GAMBANG DALAM UPACARA PEGINGSIRAN RATU PINGIT DI DESA PAKRAMAN PENGOTAN BANGLI KAJIAN TEO ESTETIK. Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Tesis] Text (Tesis)
1. S2 BW 2010 I DEWA GEDE DARMAYASA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (16MB)

Abstract

ABSTRAK

Gamelan gambang beserta gending-gendingnya termasuk golongan tua,
yang pada dasarnya merupakan perwujudan ekspresi yang diimplementasikan
melalui bentuk jalinan-jalinan nada yang dijiwai nilai-nilai estetis, religius dan
sosial. Di samping itu gamelan ini juga merupakan media komunikasi dari umat
Hindu kepada Tuhan. Sejak awal pertumbuhannya sampai pada tingkat
perkembangan dewasa ini, gambang selalu dimainkan dalam suatu proses ritual
sebagai media persembahan dan sarana upacara di dalam kehidupan keagamaan
masyarakat Hindu di Bali. Untuk itu sangatlah penting untuk diketahui dan
diteliti mengenai keberadaan gamelan gambang tersebut. Penelitian ini membahas
mengenai: (1) Bagaimanakah Bentuk Gamelan Gambang dalam upacara
Pegingsiran Ratu Pingit di Desa Pakraman Pengotan?, (2) Bagaimanakah Nilai
Estetis Gamelan Gambang dalam upacara Pegingsiran Ratu Pingit di Desa
Pakraman Pengotan?, dan (3) Aspek Teologis apakah yang tertuang dalam
Gamelan Gambang dalam kaitannya dengan upacara Pegingsiran Ratu Pingit di
Desa Pakraman Pengotan Kecamatan Bangli Kabupaten Bangli?
Permasalahan tersebut di atas dibedah dengan mempergunakan: (1) teori
fungsionalisme-struktural, (2) teori estetika, dan (3) teori simbol. Penelitian ini
yang mendeskripsikan tentang gamelan gambang dalam upacara pegingsiran ratu
pingit, digali dengan studi lapangan dan studi kepustakaan. Sumber data yang di
pergunakan yaitu data primer dan data sekunder. Data tersebut dikumpulkan
dengan metode observasi, wawancara, studi dokumen, dan studi kepustakaan,
kemudian diolah secara kualitatif dan dekonstruksi dengan menggunakan
pendekatan konstruktivis.
Secara ringkas hasil analisis yang diperoleh dapat disimpulkan ke dalam
beberapa pokok pikiran sebagai berikut: bentuk gamelan gambang, terbuat dari
dua jenis bahan yaitu: kerawang dan bambu. Instrumen saron terbuat dari
perunggu sedangkan instrumen rindik gambang terbuat dari bambu. Semua
instrumen berbentuk bilah dengan pelawah dari kayu berbentuk peti dan
menggunakan laras pelog tujuh nada. Komposisi lagunya terdiri dari palet I, II, III
dan IV yang dituangkan kedalam beberapa saih.
Nilai estetis gamelan gambang meliputi pengalaman estetis yang dirasakan
oleh umat Hindu warga Desa Pengotan ke dalam irama gamelan gambang dalam
upacara pegingsiran ratu pingit. Pengalaman estetis meliputi memproyeksikan
perasaan ke dalam gamelan gambang, mengimajinasikannya bahwa melalui
gamelan tersebut dapat menghubungan diri dengan Tuhan, sehingga masyarakat
mengalami rasa kesenangan dan kebahagiaan.
Aspek teologis gamelan gambang merupakan aspek yang dapat dilihat
ketika seorang juru gambel mendemontrasikan permainan lagunya "magambel"
dihayati sebagai persembahan, secara empiris komunikasi trasendental dapat
dirasakan pada dunia immanen. Seorang penikmat menerima getaran spiritual
dapat menikmati kebahagiaan tertinggi. Fenomena ini dimungkinkan terjadi
karena adanya paradigma komunikasi vertikal antara seorang juru gambel dengan
sang pencipta. Komunikasi ini terjadi dengan adanya instumentalia gamelan saih
pitu sebagai media suaraning genta pinara pitu yang merupakan sumber
bermusik. Dalam hal ini gamelan gambang adalah sebagai Nyasa dari suara
suaraning sapta omkara. Gamelan gambang yang berlaras pelog sapta nada,
dapat melakukan tugas-tugas nada dalam instumen tersebut seperti laras pelog dan
selendro. Pelog panca nada melambangkan Sang Hyang Panca Tirtha, Selendro
panca nada melambangkan Sang Hyang Panca Geni. Sang Hyang Panca tirtha
melambangkan dari purusa (I Bapa, Smara) Sang Hyang Panca Geni
melambangkan Prakerti (I Meme, Ratih). Am dan Ah melambangkan Sang Hyang
Rwa Bhineda. Panunggalan Sang Hyang Rwa Bhineda menjadi Om. Seluruh
barungan ini sebagai Nyasa dari panunggalan seluruh suara itu yang menjadi Om.

Kata kunci: Gamelan Gambang, Upacara Pengingsiran Ratu Pingit dan
Teo-Estetik

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Pascasarjana > S2 - Brahma Widya
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 05 May 2026 04:42
Last Modified: 05 May 2026 04:44
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1313

Actions (login required)

View Item
View Item