PEMUJAAN BHATARA DALEM BALINGKANG DI DESA PINGGAN, KINTAMANI, BANGLI (Perspektif Mulltikulturalisme)

I NENGAH ASRAMA JUTA NINGRAT, - (2010) PEMUJAAN BHATARA DALEM BALINGKANG DI DESA PINGGAN, KINTAMANI, BANGLI (Perspektif Mulltikulturalisme). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Tesis] Text (Tesis)
4. S2 BW 2010 I NENGAH ASRAMA JUTA NINGRAT.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (24MB)

Abstract

ABSTRAK

PEMUJAAN BHATARA DALEM BALINGKANG
DI DESA PINGGAN, KINTAMANI, BANGLI
(Perspektif Multikulturalisme)

Pemujaan adalah penghormatan atau persembahan kurban suci kehadapan
Tuhan, Dewa-Dewa, Pitara dan lain-lainnya yang perlu dihormati, yang
dilaksanakan atas dasar ketulusan oleh umat Hindu untuk mencapai kesejahtraan,
kebahagiaan lahir dan batin. Selain itu pemujaan juga dapat mempertebal iman
seseorang kepada Tuhan, yang mana umat Hindu hampir setiap hari melaksanakan
pemujaan dalam wujud upacara, seperti upacara pemujaan terhadap roh-roh suci
leluhur (pitara) yang bertujuan untuk memelihara keharmonisan dan wujud rasa
bhakti dan pembayaran hutang (rna) atas jasa-jasa yang telah dipersembahkan
selama hidup-Nya.
Pada umumnya umat Hindu di Bali sudah memiliki tradisi tersendiri
berdasarkan desa kala patra yang dilaksanakan secara turun-temurun untuk
melaksanakan pemujaan terhadap Tuhanya. Tradisi tersebut sudah diwarisi
sebelum masuknya agama Hindu (Weda) ke Bali. Setelah masuknya pengaruh
budaya luar seperti budaya Cina dan Hindu (Weda), sistem pemujaan di Bali
mengalami akulturasi Budaya, yang mana budaya lokal diwarnai oleh buadaya
luar, seperti halnya dalam pelaksanaan pemujaan terhadap Bhatara Dalem
Balingkang di Desa Pinggan, Kintamani, Bangli. Bhatara Dalem Balingkang yang
di puja di Jero Balingkang berdasarkan prasasti, lontar, sejarah dan mitologimitologi adalah Leluhur raja-raja yang pernah memerintah di Panarajon, dalam
hal ini yang paling utama adalah Shri Haji Jayapangus, yang telah di per-dewa.
Upacara pemujaan terhadap Bhatara Dalem Balingkang dilaksanakan
setiap setahun sekali yaitu tepatnya pada purnama kalima, kurang lebih pada
bulan Nopember. Dalem Balingkang pada mulanya adalah keraton Shri Haji
Jayapangus, yang mana kata "Balingkang" diambil dari kata “Bali” dan “Kang"
setelah mengalami perpindahan dari istana Panarajon. Pelaksanaan pemujaan
terhadap Bhatara Dalem Balingkang masih mengalami tradisi yang sangat unik,
yang mana disaat ngodal Ida Bhatara dari Alas Matahun harus dilaksanakan pada
tengah malam hari, para pemunut tidak boleh ribut, tidak boleh memakai sendal,
dan dipunut oleh orang-orang yang masih suci.
Penelitian ini menggunakan teori fungsional struktural untuk menelaah
tradisi pemujaan terhadap Bhatara Dalem Balingkang dalam definisi fungsional,
serta untuk mengkaji dari masing-masing struktur upacara dan sarana upacara
pemujaan. Teori sistem relegi digunakan untuk membedah permasalahan
kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan Bhatara Dalem Balingkang di jero
Balingkang. Teori interaksi simbolik digunakan untuk membedah makna simbolik
yang ada pada setiap sarana dan tahapan upacara, serta untuk menelaah interaksi
komonikasi keterkaitan Etnis Cina terhadap pemujaan Bhatara Dalem Balingkang,
di Desa Pinggan, Kintamani, Bangli.
Berdasarkan ketiga teori tersebut dilakukan penelitian dengan pendekatan
teologis dari data primer yang diperoleh melalui penelitian lapangan dan data
skunder yang diperoleh dari beberapa dokomentasi kepustakaan yang ada
relevansinya dengan masalah yang diteliti. Ada beberapa cara untuk memperoleh
data yang sahih mengenai Pemujaan Bhatara Dalem Balingkang di Desa Pinggan,
Kintamani, Bangli, yaitu metode observasi, metode wawancara, metode
kepustakaan, metode dokumentasi yaitu untuk mendokumentasikan kejadian atau
kegiatan upacara pemujaan dan ditunjang dengan berbagai sumber pustaka.
Selanjutnya data yang dapat dikumpulkan dan dianalisa dengan teknik deskritif
kualitatif.
Upacara pemujaan terhadap Bhatara Dalem Balingkang yang
dilaksanakan setiap tahun sekali terdiri dari beberapa tahapan yaitu: Nanceb
Dana, Macaru, ngemedalang Ida Bhatara dari Alas Matahun, upacara
Pengeneman, upacara Bhakti Pengantep, Melis, Mapepada, Puja Wali, Nyineb
dan maprani. Dalam pelaksanaan upacara mapepada dan nebah jero gede
(kerbau) dipipin oleh seorang rohaniawan (kubayan kiwa) dari desa pakaraman
Sukawana, yang datangnya harus melalui jalan setapak dari tengah hutan melalui
arah kaja kangin dan setelah selesai pelaksanaan upacara beliau kembali melalui
arah setempat.
Semua prosesi dari struktur upacara pemujaan terhadap Bhatara Dalem
Balingkang nampak paham multikulturalisme yaitu perpaduan dari beberapa
budaya seperti budaya Cina. Etnis Cina di Kintamani memiliki keterkaitan
terhadap pelaksanaan pemujaan Bhatara Dalem Balingkang, karena Etnis Cina
memiliki hubungan vertikal (leluhur), hanya saja Etnis Cina di Kintamani sebagai
partisipan, maksudnya, tidak dikenakan iuran wajib (peturunan) seperti halnya
desa-desa yang ikut mebanua ke Dalem Balingkang. Sarana pemujaanya
mempergunakan buah-buahan, bunga yang masih segar yang dilengkapi dengan
wangi-wangian seperti kemenyan atau dupa dan dilengkapi uang kepeng.
Kata Kunci: Pemujaan, Bhatara, Dalem Balingkang, Multikulturalisme.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Pascasarjana > S2 - Brahma Widya
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 05 May 2026 06:04
Last Modified: 05 May 2026 06:07
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1317

Actions (login required)

View Item
View Item