PENGGUNAAN SATE GAYAH DALAM UPACARA MAMUKUR DI DESA PAKRAMAN SELULUNG KECAMATAN KINTAMANI KABUPATEN BANGLI (Kajian Kosmologi Hindu)

I WAYAN SUMADA, - (2010) PENGGUNAAN SATE GAYAH DALAM UPACARA MAMUKUR DI DESA PAKRAMAN SELULUNG KECAMATAN KINTAMANI KABUPATEN BANGLI (Kajian Kosmologi Hindu). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Tesis] Text (Tesis)
7. S2 BW 2010 I WAYAN SUMADA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (17MB)

Abstract

ABSTRAK

Agama Hindu bersifat fleksibel dan universal. Fleksibel dan universal tersebut
didukung oleh struktur ajaran yang kuat. Struktur ajaran tersebut dengan tri kerangka
dasar agama Hindu yaitu : tattwa, susila dan upacara. Struktur ajaran ini bergerak dari
tataran abstrak ke tataran kongkret atau sebaliknya yang merupakan suatu kesatuaan.
Upacara merupakan kewajiban bagi umat Hindu untuk membayar hutang (rna). Sate
gayah yang terbuat dari daging babi berbentuk senjata nawasanga merupakan
pengejawantahan ajaran tattwa yang bersumber dari veda. Terkait dengan sate gayah
pemahaman masyarakat masih kurang, daging babi untuk sate gayah bertentangan
dengan konsep ahimsa, wacana memakai daging babi adalah pemborosan, daging babi
adalah lambang tamasika dan sebagainya. Maka dari itu penelitian mengenai sate gayah
perlu dilakukan dari berbagai kajian sehingga masyarakat mampu memahami dan
menghayati ajaran agamanya.
Adapun permasalahan dalam penelitian ini yaitu : (1) Bagaimanakah bentuk
sate gayah dalam upacara mamukur di Desa Pakraman Selulung? (2) Bagaimanakah
fungsi sate gayah dalam upacara mamukur di Desa Pakrman Selulung? (3) Makna apа
yang terkandung dalam sate gayah dalam upacara mamukur di Desa Pakraman
Selulung? Sesuai dengan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas penelitian ini
memiliki beberapa tujuan antara lain : (1) Untuk mengetahui bentuk sate gayah dalam
upacara mamukur. (2) Mengungkap fungsi sate gayah dalam upacara mamukur . (3)
Untuk mengetahui makna sate gayah dalam upacara mamukur. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu: metode observasi yaitu pengamatan langsung, metode
wawancara yaitu mewawancarai tokoh agama, tokoh masyarakat, sarati banten terakait
dengan permaslahan yang diteliti, metode kepustakaan yaitu mencari sumber yang ada
kaitannya dengan penelitain
Untuk mengkaji permasalahan di atas maka digunakan teori fungsional
struktural dipakai mengkaji Bentuk dan Fungsi Sate Gayah dalam Upacara mamukur di
Desa Pakraman Selulung. Teori ini lebih menekankan pada keteraturan (order) daripada
konflik. Struktur dalam penelitian ini meliputi bentuk sate gayah. Bentuk sate gayah ini
kemudian secara fungsional digunakan dalam upacara mamukur. Sedangkan teori
simbol dioperasikan untuk mengkaji tentang makna sate gayah bagi kehidupan
masyarakat. Sate gayah merupakan simbol namun dibalik simbol tersebut terdapat iman
umat Hindu yaitu percaya bahwa sate gayah akan membawa atau memberi kebahagiaan.
Makna yang akan dikaji dalam sate gayah tersebut adalah kosmologi Hindu.
Bentuk sate gayah mengacu pada konsep pengider-ideran. Sate gayah di
rangakai sesuai dengan bentuk pangider-ideran utamanya yang berhubungan dengan
senjatanya. Dalam membuat satae gayah ini diperlukan beberapa persiapan bahan yaitu:
daging babi, gedebong, bambu, cabe, plapah jaka. Setelah persiapan bahan dilanjutkan
dengan merangkai sate gayah. Sate gayah ditempatkan pada tempat yang khusus dalam
upacara mamukur yaitu di bale peyadnyan.
Fungsi sate gayah dalam upacara mannukur yaitu : (a) sebagai persembahan dan
puji syukur karena alam beserta isinya adalah tercipta berkat yadnya maka wajib bagi
umat Hindu mempersembahkan sate gayah sebagai rasa puji syukur karena Tuhan telah
melimpahkan alam beserta isinya untuk kehidupan. (b) Sebagai permohonan atau
harapan, sate gayah sebagai media memohon agar alam beserta isinya rahayu. Sate gayah
simbol kosmis maka dari itu memohon agar alam semesta berserta isinya tetap lestari dan
memberikan sumber kehidupan. (c) Pembangkit kreatifitas karena yajna khususnya
pembuatan sate gayah mendorong umat Hindu untuk bekerja, berkreatifitas tanpa
mengikatkan diri pada hasilnya.
Makna sate gayah dalam upacara mamukur secara kosmologis, bahwa sate
gayah adalah simbol alam semesta. Pada awalnya secara teologis bahwa alam semesta
metu-lina sakeng Bhatara Siwa. Alam semesta tercipta dari tataran yang abstrak ketataran
yang nyata (niskala-sakala) yaitu Nirguna Brahman, Saguna Brahman sampai pada citta,
ahangkara, panca buddhindriya, panca karmendriya, panca tanmatra, panca mahabhuta
berevolusi terjadilah alam semesta ini.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Pascasarjana > S2 - Brahma Widya
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 05 May 2026 06:21
Last Modified: 05 May 2026 06:24
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1320

Actions (login required)

View Item
View Item