I WAYAN SUNASDYANA, - (2010) BADAWANG NALA DALAM PALINGGIH MERU DI PURA PENATARAN AGUNG DALEM BALINGKANG DESA PNGGAN KECAMATAN KINTAMANI KABUPATEN BANGLI (Perspektif Teologi Hindu). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
8. S2 BW 2010 I WAYAN SUNASDYANA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (16MB)
Abstract
ABSTRAK
Agama Hindu merupakan suatu Agama yang memiliki berbagai
jalan ataupun cara untuk menemukan bahkan mencari keberadaan Tuhan.
Demikian juga keberadaan masyarakat Hindu yang berada diwilayah Bali
sangat identik dengan keberadaan berbagai symbol-simbol Tuhan maupun
Bhatara. Adanya perbedaan penafsiran tentang penggunaan simbol
Badawangnala pada setiap Bangunan Suci seperti Palinggih, Gedong, Tugu,
bahkan ada Bade penggusungan sawa ( jenasah ) menggunakan simbol
Badawangnala pada dasarnya. Kalau tidak diadakan suatu aturan yang pasti
tentang penggunaan suatu simbol akan membuat rancu dan para seniman
undagi karena alasan keindahan atau egosentris sekte akan melemahkan
fungsi dari simbol tersebut.
Topik yang diangkat dalam penelitian ini adalah Badawangnala
dalam Palinggih Meru di Pura Penataran Agung Dalem Balingkang Desa
Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli (Perspektif Teologi
Hindu). Berdasarkan latar belakang yang ada, maka peneliti merumuskan
permasalahan sebagai berikut; (1) Bagaimana bentuk Badawangnala yang
terdapat pada palinggih Meru di Pura Penataran Agung Dalem Balingkang
desa Pinggan kecamatan Kintamani, kabupaten Bangli, (2) Apakah fungsi
penggunaan Badawangnala yang terdapat pada palinggih Meru di Pura
Penataran Agung Dalem Balingkang desa Pinggan kecamatan Kintamani,
kabupaten Bangli, (3) Apa makna teologi penggunaan Badawangnala dalam
palinggih Meru di Pura Penataran Agung Dalem Balingkang desa Pinggan
kecamatan Kintamani, kabupaten Bangli.
Guna mencapai tujuan di dalam menyelesaikan karya Tesis ini,
digunakan beberapa teori; (1) Teori Estetika, (2) Teori Religi, (3) Teori
Simbolik. Teori estetika, digunakan untuk mengetahui bentuk
Badawangnala sedangkan Teori Religi, dapat dipakai acuan dalam
membedah masalah tentang apa fungsi Badawangnala dipakai pada palinggih
Meru dan Teori Simbolik digunakan untuk membedah tentang makna teologi
yang terdapat pada Badawangnala. Metode yang dipakai dalam penelitian ini
adalah; pencarian lokasi penelitian, pendekatan penelitian melalui
pendekatan fenomenologi dan antropologi, penentuan jenis penelitian, jenis
dan sumber data, penentuan informan, prosedur pengumpulan data melalui
observasi, wawancara, studi kepustakaan, dokumentasi, analisis data,
penyajian data, penyimpulan dan verifikasi, pengecekan keabsahan temuan,
Selanjutnya semua data yang ada dipaparkan secara deskripsi.
Sesuai dengan hasil analisis dari hasil penelitian ini, maka
diketemukan bentuk Badawangnala, merupakan kura-kura raksasa dengan
kedua telinga dan gigi bertaring yang dipahatkan di pondasi Meru dengan
bahan dari paras.
Fungsi Badawangnala adalah fungsi spiritual yaitu sarana
menghubungkan diri dan Tuhan, fungsi penyatuan purusa dan pradhana,
fungsi simbolik, fungsi estetika, fungsi religius dan fungsi sosial,
Makna Badawangnala sebagai sarana menperoleh kesejahteraan,
kebahagiaan, makna struktural, makna teologi, makna penciptaan semesta,
makna kebebasan sehingga mencapai kedamaian.
Kata kunci; teologi., badawangnala., palinggih meru., Dalem Balingkang
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 05 May 2026 06:35 |
| Last Modified: | 05 May 2026 06:37 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1321 |

