I WAYAN WIRTA, - (2010) AJARAN DALAM LONTAR BUBUKSAH (Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
9. S2 BW 2010 I WAYAN WIRTA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (12MB)
Abstract
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul Ajaran Dalam Lontar Bubhuksah (Kajian bentuk,
Fungsi dan Makna). Topik ini dipilihh untuk menjadi objek penelitian karena
bersifat khas dalam arti bahwa Lontar Bubuksah merupakan simbolis tentang
keberadaan Siwa (Hindu) dan Buddha di Bali. Selain itu juga menceritakan tentang
sinkretisme antara agama Siwa dan agama Buddha dimana dalam Lontar Bubhuksah
ajaran Siwa diterapkan oleh Gagakaking dan ajaran Buddha diterapkan oleh Sang
Bubhuksah. Oleh sebab itulah maka Lontar Bubhuksah ini akan dikaji dan dianalisis
mengenai bentuk fungsi dan makna. Oleh sebab itu karya ilmiah ini diberi judul :
"Ajaran Dalam Lontar Bubuksah (Kajian Bentuk, Fungsi, Dan Makna)".
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka timbul beberapa permasalahan
yang akan dibahas yaitu mengenai: (1) Bagaimana Bentuk Ajaran dalam Lontar
Bubhuksah? (2) Apa fungsi Ajaran dalam Lontar Bubhuksah bagi kehidupan
keagamaan Hindu di Bali? (3) Apa makna ajaran yang terkandung dalam lontar
Bubhuksah?
Permasalahan ini akan dibedah dengan mengunakan beberapa teori yaitu:
Teori Fungsional Struktural, Teori Hermeneutika, dan Teori Semiotik. Selain itu
dalam memperoleh dan menganalisis data dipakai beberapa metode, yaitu metode
Kepustakaan; dan Wawancara (Interview).
Sesuai dengan rumusan masalah yang ada, dapat disimpulan yaitu sebagai
berikut; yaitu: Bentuk Ajaran dalam Lontar Bubhuksah yaitu Naskah lontar
dalam cerita ini merupakan salah satu karya atau peninggalan kebudayaan berisi
cerita tentang sinkretisme antara agama Siwa dan agama Buddha. Yang mana ajaran
Siwa diterapkan oleh Gagangaking dan ajaran Buddha diterapkan oleh Sang
Bubhuksah.
Fungsi Lontar Bubhuksah bagi kehidupan keagamaan Hindu di Bali yaitu
Lontar Bubhuksah memiliki fungsi sebagai pendidikan moral karena memuat ajaran
dasa sila sebagai disiplin moral sebelum memasuki tahap yoga yang lebih tinggi
atau sebagai fondasi untuk memahami hakekat yang lebih tinggi. Dasa Sila dikenal
sebagai Yama-niyama dalam Patanjali Yoga Sutra. Fungsi pengukuhan (Afirmasi)
yaitu peningkatan status dari seorang walaka atau orang biasa menjadi seorang
sadhaka atau orang yang telah disucikan sebagai seorang rohaniawan (pendeta). Di
dalam Lontar Bubhuksah, dua orang walaka yaitu Kěbo Mili dan Kěbo Ngrawěg
setelah disucikan atau ditasbihkan menjadi Gagangaking dan Bubhuksah.
Makna ajaran yang terkandung dalam lontar Bubhuksah yaitu makna Tattwa
dalam Lontar Bubhuksah cenderung bersifat Guruistik yang mengambil sumber dari
doktrin Siwa. Lascarya dalam Lontar Bubhuksah mengandung arti si rakus atau si
pelahap yang berasal dari bahasa sanskerta, Bubhuksah yang berarti nafsu makan,
selera makan yang besar yang merupakan kebebasan terhadap perilakunya seharihari yang menghisyaratkan bahwa ia selalu berusaha menghindarkan keterikatan.
Makna dari ajaran Kesucian yang dijalankan oleh Gagngaking yang disebuat paham
Sudha Sridanta berdasarkan ajaran Tat tam asi adalah merupakan pembersiah dan
penyucian (nyudha) Bhuwana Alit (mikrokosmos) dan Bhuana Agung
(Makrokosmos).
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 05 May 2026 06:39 |
| Last Modified: | 05 May 2026 06:40 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1322 |

