PEMENTASAN TARI SANGHYANG DEDARI DALAM UPACARA NANGLUK MERANA DI DESA PAKARAMAN CAMENGGAON DESA CELUK KECAMATAN SUKAWATI KABUPATEN GIANYAR (KAJIAN BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA)

DEWA KETUT WISNAWA, - (2008) PEMENTASAN TARI SANGHYANG DEDARI DALAM UPACARA NANGLUK MERANA DI DESA PAKARAMAN CAMENGGAON DESA CELUK KECAMATAN SUKAWATI KABUPATEN GIANYAR (KAJIAN BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Tesis] Text (Tesis)
3. S2 BW 2008 DEWA KETUT WISNAWA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (18MB)

Abstract

ABSTRAK
Dewa Ketut Wisnawa: Pementasan Sanghyang Dedari pada Upacara Nangluk
Merna di Desa Pakraman Camenggaon Kecamatan Sukawati Kabupaten
Gianyar (Kajian Bentuk, Fungsi dan Makna)
Akibat dari pengaruh modernisasi yang dirancang budaya global dalam
bentuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus menerus terjadi,
disatu sisi membawa perubahan ke arah positif, namun di sisi lain menyebabkan
tergesernya sendi-sendi kehidupan, termasuk semakin terkikisnya nilai-nilai
religiusitas pada sebagian orang. Masyarakat seolah digiring untuk memasuki
ruang kehampaan spiritual, sehingga teralienasi dari jati dirinya, lingkungan dan
iman taqwa (sradha bhakti) yang selama ini dijunjung tinggi terutama bagi umat
Hindu yang ada di Bali. Mengkaji pesan normatif tersebut, maka tujuan
peningkatan kualitas sradha bhakti umat Hindu adalah untuk pelestarian seni
budaya Bali khususnya kesenian Sanghyang yang berwajah sakral dan bukan
diposisikan untuk menolak perubahan atau modernisasi, tetapi bagaimana
keyakinan umat terhadap agama Hindu yang menjiwai seni budaya Bali mampu
mengawal perubahan dan modernisasi yang dihembuskan sejalan dengan
gelombang globalisasi sehingga perubahan dan modernisasi darimanapun
datangnya tidak akan merusak tatanan kehidupan beragama umat Hindu
umumnya, dan umat Hindu di Bali serta umat Hindu di Desa Pakraman
Camenggaon Desa Celuk khususnya. Bagi umat Hindu di Bali penggambaran
dewa dalam wujud binatang diwujudkan dengan berbagai jenis binatang. Hal ini
bertolak dari keterbatasan setiap manusia sadar akan adanya alam dunia yang tak
dapat dilihat atau tak dapat tampak yang ada diluar batas panca indranya serta di
luar batas akalnya. Dunia adalah alam atau dunia gaib atau super natural menurut
kepercayaan manusia dan banyak kebudayaan di dunia. Dunia atau alam gaib
didiami oleh berbagai makhluk dan kekuatan yang tak dapat dikuasai oleh
manusia dengan cara yang biasa dan ditakuti oleh manusia. Sistem kepercayaan
dalam suatu relegi itu mengandung bayangan orang akan wujudnya dunia gaib.
Masyarakat di Desa Pakraman Camenggaon Desa Celuk yang telah lama
memiliki tradisi untuk mementaskan tari Sanghyang Dedari setiap melaksanakan
upacara pujawali memberikan kedudukan pada tari Sanghyang Dedari sebagai
penolak bala. Apabila tari Sanghyang Dedari ini tidak dipentaskan maka segala
macam penyakit akan menyerang masyarakat Desa Pakraman Camenggaon.
Adapun rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah : (1)
Bagaimana proses pementasan tari Sanghyang Dedari di Pakraman Camenggaon
Desa Celuk, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar?, (2) Apakah fungsi dan
makna tari Sanghyang Dedari di Desa Pakraman Camenggaon Celuk, Kecamatan
Sukawati, Kecamatan Gianyar ?
Tujuan penelitiannya adalah : (1) untuk mengetahui proses pementasan tari
Sanghyang Dedari di Desa Pakraman Camenggaon Desa Celuk, Kecamatan
Sukawati, Kabupaten Gianyar (2) untuk mengetahui fungsi dan makna tari
Sanghyang Dedari di Desa Pakraman Camenggaon Desa Celuk, Kecamatan
Sukawati, Kecamatan Gianyar.
Sebagai landasan berfikir dalam kaitannya dengan penelitian yang
dilaksanakan ini digunakan beberapa teori sebagai berikut : Teori Simbol, Teori
Relegi, Teori fakulti dan Teori Fungsional Struktural.
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah; Bentuk pementasan
Sanghyang Dedari di desa Pakraman Camenggaon meliputi aspek aspek seperti
berikut ini; sejarah pementasan Sanghyang, Fungsi pementasan Sanghyang
Dedari di desa Pakraman Camenggaon adalah sebagai; fungsi sraddha bhakti,,
fungsi pelestarian budaya bahwa Sanghyang Dedari sebagai salah satu produk
budaya diasumsikan dapat mendidik dan merintis pola fikir masyarakat untuk
lebih mampu berkreativitas seni dan budaya melalui rasa cipta karsa, masingmasing anggota asyarakat dan fungsi keharmonisan hidup, bahwa pementasan
Sanghyang Dedari adalah merupakan salah satu media untuk menjadikan
kehidupan masyarakat menjadi harmonis, terutama hubungan antara manusia
dengan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui perwujudan Sang Hyang
Dedari, hubungan manusia dengan manusia terutama hubungan antar anggota
masyarakat di desa Pakraman Camenggaon dan hubungan manusia dengan alam
lingkungan terutama dalam kaitannya dengan kesejateraan masyarakat melalui
pelestarian lingkungan. Makna pementasan Sanghyang Dedari di desa pakraman
Camenggaon adalah; makna teologis, makna psikologis, makna sosiologis,
makna estetis

Kata Kunci : Sanghyang Dedari Upacara Nangluk Merana dan Bentuk, Fungsi,
Makna.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Pascasarjana > S2 - Brahma Widya
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 06 May 2026 04:02
Last Modified: 06 May 2026 04:05
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1328

Actions (login required)

View Item
View Item