I NENGAH WESTRA, - (2008) EKSISTENSI PURA NAMPA SELA DI DESA PAKRAMAN PADANGAN KECAMATAN PUPUAN KABUPATEN TABANAN. Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
10. S2 BW 2008 I NENGAH WESTRA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (16MB)
Abstract
ABSTRAK
EKSISTENSI PURA NAMPA SELA
DI DESA PAKRAMAN PADANGAN KECAMATAN PUPJAN
KABUPATEN TABANAN
Sebagai agama yang sah diakui keberadaannya di Indoi esia
hendaknya memiliki beberapa persyaratan yaitu: Orang Suci, Kitab Suci,
Hari Raya Suci, Tempat Suci dan penganut yaitu Umat Hindu, agama
Hindu memiliki persyaratan seperti itu. Salah satu persyaratan itu yaitu
Tempat Suci berupa Pura akan menjadi pembahasan dalam penelitian ini.
Pulau Bali adalan pulau seribu Pura yang secara garis besarnya terbagi
menjadi Pura Sad, Dang, Tri Kahyangan, Pura Kawitan dan Pura
Swagina yang memberikan gambaran betapa yakin dan baktinya umat
Hindu kepada Tuhan serta Roh Suci Leluhur. Mengingat pura sebagai
tempat suci men:iliki peranan yang sangat komplek maka perlu untuk
diteliti keberadaannya salah satu Pura yang ada di wilayah Desa Pakraman
Padangan kecamatan Pupuan kabupaten Tabanan adalah Pura Nampa Sela
yang memiliki keunikan tersendiri yaitu para wanita sama sekali tidak
diperbolehkan untuk mengadakan persembahyangan dan kegiatan lain di
pura ini seperti pura umum lainnya yang ada di Bali. Dari penomena di atas ditemukan suatu masalah yaitu (1)
Bagaimana bentuk Pura Nampa Sela di Desa Pakraman Padangan,
Kecamatan Pupuan Kabupaten Tabanan? (2) Bagaimana fungsi Pura
Nampa Sela Di Desa Pakraman Padangan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten
Tabanan? Dan (3) Bagaimana makna Pura Nampa Sela di Desa Pakraman
Padangan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan? Penelitian ini
bertujuan antuk mendiskripsikan keberadaan bentuk, fungsi, makna Pura
Nampa Sela.
Fenelitian ini menggunakan tiga tiori yaitu: (1) untuk menjelaskan
eksistensi bentuk Pura Nampa Sela menggunakan teori religi dari Clifford
Geertz, Trigana, dan E.B Tylor (2) eksistensi fungsi Pura Nampa Sela
menggunakan teori Fungsional Struktural dari Talcott Parsons, J.C
Alexander, Auguste Comte, Emile Durkheim, Bronislaw Malinowski dan
Radeliffe Brown, (3) untuk mengungkap makna Pura Nampa Sela
menggenakan teori simbol Mansoben, Triguna dan Victor Tuner.
Untuk menjawab masalah sesuai dengan tujuan ini menggunakan
beberapa metode yaitu: (1) lokasi penelitian, (2)Data dan Sumber Data, (3)
Pendekatan Penelitian, (4) Penentuan Informan, (5) Metode Pengumpulan
Daia melalui Observasi dan Wawancara, (6) Analisis Data dan (7)
Penyajian Hasil Penelitian
Penyajian hasil penelitian berdasarkan informan dari tokoh
masyarakat dinyatakan bahwa bentuk Pura Nampa Sela membahas sejarah
Pura Nompa Sela, bentuk struktur Pura Nampa Sela, Pangempon dan
Panyiwi Pura Nampa Sela, dan prosesi Piodalan di Pura Nampa Sela.
Fungsi Pura Nampa Sela ini adalah sebagai fungsi: religius, sosial.
pendidikan, etika dan budaya, Makna Pura Nampa Sela yang terkandung
di dalamnya adəlah makna: sosiologis, teologis, filosofis, estetika,
pendidikan, makna kemakmuran dan keharmonisan.
Bentuk, fungsi dan makna apabila sudah dijalankan dengan baik
yang didasarkan pada aturan dharma dan Rta yang telah disepakati
bersama di Desa Pakraman Padangan maka tujuan untuk mencapai
jagadhita yaitu kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, suka
tanpa wali dukha yaitu suka manerus bisa terwujud. Terlepasnya manusia
dari pengaruh duniawi menyatu dengan Tuhan disebut telah mengalami
moksa yang ditempuh dengan menjalankan secara sungguh-sungguh catur
marga yoga yang dipaparkan dalam eksistensi Pura Nampa Sela
Kata Kunci. Eksistensi Pura Nampa Sela
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 07 May 2026 01:58 |
| Last Modified: | 07 May 2026 02:22 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1335 |

