UPACARA PERKAWINAN DI DESA PAKRAMAN BAYUNGGEDE KINTAMANI BANGLI (ANALISIS BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA)

I WAYAN WIJANA, - (2008) UPACARA PERKAWINAN DI DESA PAKRAMAN BAYUNGGEDE KINTAMANI BANGLI (ANALISIS BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Tesis] Text (Tesis)
17. S2 BW 2008 I WAYAN WIJANA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (17MB)

Abstract

ABSTRAK

UPACARA PERKAWINAN
DI DESA PAKRAMAN BAYUNGGEDE, KINTAMANI, BANGLI
(Analisis Bentuk, Fungsi, dan Makna)

Yadnya adalah korban suci yang dilaksanakan atas dasar ketulusan oleh umat
Hindu dimaksudkan untuk mencapai moksa (kebahagiaan yang kekal dan abadi) dan
menciptakan jagatdhita (dunia) berdasarkan dharma (kebenaran). Selain itu,
beryadnya juga dapat mempertebal iman seseorang kepada Ida Sang Hyang Widhi
Wasa. Umat Hindu hampir setiap hari melaksanakan yadnya dalam wujud upacara,
seperti upacara Manusia Yadnya bertujuan untuk pemeliharaan, pendidikan, dan
penyucian secara sepiritual terhadap seseorang sejak terwujudnya jasmani di dalam
kandungan hingga akhir hidupnya. Penyucian wajib dilaksanakan sebagai usaha
untuk mengendalikan diri dan memperbaiki serta menyempurnakan karmanya
terdahulu maupun sekarang. Upacara penyucian diri dilakukan mulai dari janin
dalam kandungan sampai upacara perkawinan bahkan sampai mati. Upacara
perkawinan yang dilaksanakan oleh umat Hndu di Bali cukup beragam yang masingmasing daerah pelaksanaannya berbeda-beda.Upacara perkawinan merupakan
persaksian baik kehadapan Tuhan maupun kepada masyarakat bahwa kedua orang
tersebut mengikatkan diri sebagai suami- istri, dan segala akibat dari perbuatannya
menjadi tanggung jawab mereka bersama.
Pada umumnya umat Hindu di Bali jika salah seorang anggota keluarganya
kawin baik dengan cara memadik maupun ngerorod biasanya mempelai perempuan
diajak langsung ke rumah mempelai laki-laki. Namun di Desa Pakraman
Bayunggede, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, nampak tradisi
perkawinannya berbeda dengan daerah lain di Bali, walaupun perkawinannya
didasarkan atas cinta sama cinta tetapi sebelum dilaksanakan Upacara mapaserah,
kedua mempelai belum diperbolehkan masuk wilayah Desa Pakraman Bayunggede.
Selain itu sarana-sarana yang dipergunakan dalam upacara tersebut juga
menunjukkan adanya perbedaan dengan tempat-tempat yang lainnya. Uniknya salah
satu sarana Upacara Mapaserah yakni berupa dua ekor sapi jantan warna hitam
mulus sebagai tanda bukti sahnya suatu perkawinan.
Upacara ini sampai saat ini dilakukan dengan penuh hikmad dan tulus namun
belum jelas sumber pelaksanaan, karenanya kurang referensi dan imformasi, kenapa
dan bagaimana upacara Perkawinan itu dilakukan dengan Upacara Mapaserah
dengan sarana dua ekor sapi hitam mulus. Atas dasar latar belakang tersebut, maka
masalah yang ingin diungkapkan adalah: Bagaimana bentuk upacara Perkawinan ?,
Apa fungsi upacara Perkawinan? dan apa makna upacara Perkawinan di Desa
Pakraman Bayunggede, Kintamani, Bangli?.
Penelitian ini mempergunakan teori fungsional struktural untuk
mengkaji bentuk dan fungsi dari masing-masing struktur upacara dan sarana
Upacara Perkawinan. Teori religi digunakan untuk membedah permasalahan
bentuk, fungsi dan makna upacara dari keyakinan masyarakat terhadap hal-hal
dan sarana Upacara Perkawinan. Dan teori simbol dipergunakan untuk
mengkaji makna simbolik yang ada pada setiap sarana dan tahapan Upacara
Perkawinan di Desa Pakraman Bayunggede, Kintamani, Bangli.
Berdasarkan ketiga teori tersebut dilakukan penelitian dengan
pendekatan teologis dari data primer yang diperoleh melalui penelitian
lapangan dan data skunder yang diperoleh dari beberapa dokumentasi
kepustakaan yang ada relevansinya dengan masalah yang diteliti. Ada beberapa
cara untuk memperoleh data yang sahih mengenai Upacara Perkawinan di
Desa Pakraman Bayunggede, Kintamani, Bangli, yaitu: metode observasi,
metode wawancara, metode kepustakaan, metode dokumentasi yaitu untuk
mendokumentasikan kejadian atau kegiatan upacara di lapangan dan ditunjang
dengan berbagai sumber pustaka. Selanjutnya data yang dapat dikumpulkan
dan dianalisa dengan teknik deskriptif kualitatif.
Upacara Perkawinan di Desa Pakraman Bayunggede, Kintamani,
Bangli, dilaksanakan dengan sarana upacaranya, yang dapat diklasifikasikan
melalui bentuk, fungsi dan makna. Dari segi bentuk Upacara Perkawinan dapat
dilihat secara berstruktur yaitu : (1) Prosesi, (2) Sarana, (3) Pelaksana, (4)
Pemimpin Upacara dan (5) tempat dan waktu dilaksanakan Upacara
Perkawinan.
Semua prosesi dan struktur Upacara Perkawinan di Desa Pakraman
Bayunggede, Kintamani, Bangli, memiliki fungsi yaitu : (1) fungsi religius,
(2) fungsi sosiologis, (3) fungsi penentuan status, (4) fungsi melanjutkan
keturunan, dan (5) fungsi biologis.
Upacara Perkawinan di Desa Pakraman Bayunggede, Kintamani,
Bangli, memiliki makna yaitu : (1) Makna teologis, (2) makna pendidikan, (3)
makna kebahagiaan, (4) makna etika, dan (5) bermakna sebagai pembayaran
hutang kepada leluhur.

Kata Kunci: Upacara Perkawinan Analisis Bentuk, Fungsi dan Makna

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Pascasarjana > S2 - Brahma Widya
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 09 May 2026 04:15
Last Modified: 09 May 2026 04:19
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1342

Actions (login required)

View Item
View Item