UPACARA NGEBO DI DESA ADAT ABABI KECAMATAN ABANG KABUPATEN KARANGASEM (KAJIAN BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA)

NI KETUT KANTRIANI, - (2008) UPACARA NGEBO DI DESA ADAT ABABI KECAMATAN ABANG KABUPATEN KARANGASEM (KAJIAN BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Tesis] Text (Tesis)
21. S2 BW 2008 NI KETUT KANTRIANI.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (19MB)

Abstract

ABSTRAKSI
UPACARA NGEBO DI DESA ADAT ABABI
KЕСАМATAN ABANG KABUPATEN KARANGASEM
(Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna)
Tiga kerangka agama Hindu mengajarkan agar memusatkan
keyakinannya pada kebenaran Tattwa (filsafat) agama dan menciptakan
kesejahtraan dan ketentraman dalam kehidupan melalui etika (tata susila),
berdasarkan perbuatan-perbuatan kongkrit yaitu aktifitas kerja yang dilandasi
nafas agama yaitu kesanggupan berkorban (beryadnya). Yadnya adalah
korban suci yang dilaksanakan dengan ketulusan hati dan merupakan salah
satu kewajiban bagi umat Hindu. Karena umat Hindu terikat oleh tiga hutang
yang disebut: Tri Rna yaitu Dewa Rna (hutang kepada para Dewa), Rsi Rna
(hutang kepada para Rsi/guru), Pitra Rna (hutang kepada para leluhur/pitra).
Upacara Ngebo adalah salah satu cara untuk memenuhi kewajiban
suci tersebut, yang pelaksanaannya didasari oleh suatu mitologi. Upacara
Ngebo dilaksanakan minimal setiap 10 tahun sekali. Dulu dilaksanakan pada
Tilem Sasih Kelima, tetapi sekarang dilaksanakan pada Perwani (pinanggal
ping empat belas) sasih kelima. Demikianlah Upacara Ngebo itu
dilaksanakan berdasarkan cerita-cerita kedewataan yang dipercayai oleh
Krama Subak dan Krama Desa Adat Ababi. Atas dasar latar belakang
tersebut, maka masalah yang ingin diungkapkan adalah: bagaimana bentuk
Upacara Ngebo?, apa fungsi Upacara Ngebo?, dan apa makna Upacara
Ngebo dalam kehidupan Krama Subak dan Krama Desa Adat Ababi.
Penelitian ini mempergunakan teori fungsional struktural untuk
mengkaji fungsi Upacara Ngebo, teori simbol untuk mengkaji makna
Upacara Ngebo, dan teori Intraksionisme simbolik untuk mengkaji fungsi
dan makna yang ada dibalik setiap struktur Upacara Ngebo.
Berdasarkan ketiga teori tersebut dilakukan penelitian dengan
pendekatan teologis, data penelitian bersumber dari data primer yang
diperoleh melalui penelitian lapangan dan data skunder yang diperoleh dari
beberapa dokumentasi kepustakaan yang ada relevansinya dengan masalah
yang diteliti. Ada beberapa cara untuk memperoleh data yang sahih mengenai
Upacara Ngebo, yaitu: metode observasi, wawancara, dengan penentuan
informasi kunci seperti, Ida Rsi, Tukang banten (Sarati), Kelihan Desa Adat,
dan beberapa tokoh yang mengetahui tentang Upacara Ngebo, yang tak kalah
pentingnya metode dokumentasi untuk mendokumentasikan kejadian atau
kegiatan upacara di lapangan yang ditunjang dari beberapa sumber pustaka.
Selanjutnya data dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif.
Upacara Ngebo dilaksanakan dengan berbagai sarana upacara, yang
dapat diklasifikasikan melalui bentuk fungsi, makna.
Dari segi bentuk Upacara Ngebo dapat dilihat secara berstruktur
antara lain: (a) Sarana Upacara Ngebo,dengan sarana pokok bunga, buah,
api, air, biji-bijian dan binatang serta sarana upacara lainnya, (b) waktu,
tempat, dan perangkat pelaksana upacara, dilakukan pada perwani (pinanggal
ping empat belas) Sasih Kelima, bertempat di Pura Beji Eha, yang
dilaksanakan oleh Krama Subak/Krama Desa Adat Ababi, Tukang banten,
Ida Rsi dan Pemangku. (c) prosesi/tahapan upacaranya dilakukan dari matur
piuning/mepejati di pura yang ada di Desa Adat Ababi, Mendak Toya ke Purа
Batur Kintamani, Pati Kawenang, dan dilanjutkan dengan puncak upacara di
Pura Beji Eha. Banten yang dipergunakan dalam Upacara Ngebo adalah
banten prayascita, durmangala, suci, sayut, banten caru manca sata,
pulegembal, bebangkit, daksina, canang buratwangi-lengewangi, tipat
kelanan, peras, penyeneng.
Semua tahapan Upacara Ngebo memiliki fungsi antara lain: (a) fungsi
ke atas (Tuhan), (b) fungsi ke tengah (manusia), (c) fungsi ke bawah (alam
lingkungan).
Makna Upacara Ngebo: (a) makna upacara, (b) makna filosofi, (c)
makna ketuhanan, (d) makna sosial, (e) makna keharmonisan, (f) makna
kesuburan dan (g) makna ekonomi.
Berdasarkan atas uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa
upacara Ngebo bertujuan untuk menjaga keharmonisan hubungan antara
manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia serta manusia dengan alam
lingkungannya

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Pascasarjana > S2 - Brahma Widya
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 29 May 2026 02:11
Last Modified: 29 May 2026 02:15
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1361

Actions (login required)

View Item
View Item