NI KETUT SAPARIANI, - (2008) UPACARA USABHA AGENG DI DESA PAKRAMAN MUNCAN KECAMATAN SELAT, KABUPATEN KARANGASEM (TINJAUAN BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
22. S2 BW 2008 NI KETUT SAPARIANI.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (18MB)
Abstract
ABSTRAK
UPACARA USABA AGÊNG
DESA PAKRAMAN MUNCAN,
KECAMATAN SELAT, KABUPATEN KARANGASEM
(TINJAUAN BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA)
Ni Ketut Sapariani
Upacara Usabha Agêng merupakan salah satu bentuk implementasi
ajaran Agama Hindu, yakni ajaran tentang yajña yang secara garis besarnya
dikelompokkan ke dalam Pañca Yajña, khususnya Dewayajña. Upacara
Usabha Agêng sangat menarik untuk dikaji karena keunikannya, di antaranya
sesajen persembahan yang sangat utama adalah 7 (tujuah) buah Dangsil dalam
ukuran yang sangat besar sekitar 10 (sepuluh) meter. Dangsil sebagai
perwujudan Sapta Parvata (tujuh buah Gunung Suci di Himalaya) merupakan
lambang kesuburan dan kemakmuran tampak pula dari berbagai simbol yang
terdapat dalam sarana yang digunakan dalam membuat Dangsil tersebut, di
samping itu, adalah 'palinggihan' (sthana devatā) berupa 'bawi ulu barong'
(kepala babi matang yang dihias seperti barong bangkal) dari Ida Bhațāri Ratu
Ayu Pura Pusêh Pejeng, yang merupakan putri dari Ida Bhattāra Lingsir Pura
Pusčh Desa Pakraman Muncan. Pada puncak Upacara Usabha Agêng, pada
tengah malam dilakukan Upacara Mawilêt yakni upacara memasak bubur suci
dari 'manik galih', yakni beras Druwe (milik) Pura Pusêh yang tidak patah.
Bubur suci tersebut kemudian dipersembahkan kepada Ida Bhattāra-Bhattari
yang ber-sthana maupun yang hadir di Pura Pusêh tersebut. Hal ini yang menjadi
latar belakang masalah. Selanjutnya rumusan masalahnya yang akan dikaji
adalah: (1) Bagaimana bentuk Upacara Usabha Agêng? (2) Apakah fungsi
Upacara Usabha Agêng bagi masyarakat Desa Pakraman Muncan? (3) Apakah
makna yang terkandung dalam Upacara Usabha Agêng tersebut?
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menginvetarisir dan
mendokumentasikan Upacara Usabha Agêng di Desa Pakraman Muncan.
Tujuan yang sifatnya praktis diharapkan mampu memberikan kontribusi di
bidang agama, khususnya di bidang upacara atau ritual. Nilai-nilai yang
terkandung dalam upacara atau yajña dari Upacara Usabha Agêng tersebut yang
tentunya dapat meningkatkan pemahaman dan keyakinan terhadap kebenaran
pelaksananan upacara atau yajña tersebut. Penelitian ini kiranya bermanfaat
untuk merangsang langkah-langkah penelitian berikutnya, di samping secara
teoretis diharapkan merangsang penelitian selanjutnya, sedang tujuan praktis
berguna bagi umat Hindu pada umumnya, dan masyarakat Desa Pakraman
Muncan khususnya. Lingkup penelitian ini adalah mengkaji masalah bentuk atau
struktur upacara
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode yang
digunakan adalah: (1) pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi
partisipasi dan wawancara yang mendalam, (2) analisis data dengan
menggunakan beberapa teori, yaitu: teori religi, teori fungsional struktural, teori
simbol mengkaji sarana dan pelaksanaan upacara tersebut. (3) metode penyajian
hasil penelitian
Dari analisis bentuk tampak dari persiapan dan pelaksanaan upacara
dimaksudkan untuk menghadirkan Dewa-Dewa, Ida Bhattāra-Bhațțāri di Pura
Pusêh sebagai pusat aktivitas ritual dengan tujuan untuk memperoleh kesuburan,
kemakmuran, dan kebahagiaan. Selanjutnya analisis fungsi meliputi fungsi
keagamaan, sebagai bentuk bhakti umat Hindu, khususnya warga masyarakat
Desa Pakraman kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sang Hyang Widhi, para Dewa,
dan Roh Suci Leluhur, fungsi selanjutnya adalah fungsi pendidikan, etika dan
moralitas, karena upacara tersebut merupakan proses pendidikan, khususnya
pendidikan budhi pekerti, dan etos kerja, fungsi estetika dilandasi oleh kebenaran
(satyam), kesucian (śivam), dan keindahan (sundaram), sedang fungsi yang
terakhir adalah penyatuan kepada Sang Hyang Widhi Tuhan Yang Maha Esa.
Adapun makna yang terkandung dari Upacara Usabha Agêng adalah
makna kesuburan, dengan menghadirkan Tuhan Yang Maha Esa, Sang Hyang
Widhi, Para Dewa, Ida Bhattāra-Bhațtārī di Pura Pusêh Desa Pakraman
Muncan sebagai penguasa kesuburan dan kemakmuran yang benar-benar sangat
didambakan oleh sebagian masyarakat Desa Pakraman Muncan yang mata
pencaharian utamanya adalah sebagai petani. Makna lainnya adalah makna
kebersamaan. Di dalam pelaksanaan Upacara Usabha Agêng ternyata tampak
dan solidaritas, di samping itu makna keseimbangan dan keharmonisan, dan yang
terakhir adalah makna kebahagiaan, sebagai tujuan hidup tertinggi menurut
ajaran Agama Hindu.
Kata Kunci: Upacara Usabha Agêng, bentuk, fungsi, dan makna.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 29 May 2026 02:19 |
| Last Modified: | 29 May 2026 02:20 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1362 |

