PUTU RENA, - (2008) OTORITAS PAMANGKU DALAM UPACARA PITRA YAJNA WARGA PUTIH MAYONG DI DESA BUBUNAN KECAMATAN SERIRIT KABUPATEN BULELENG (PERSPEKTIF SOSIORELIGIUS). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
29. S2 BW 2008 PUTU RENA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (16MB)
Abstract
ABSTRAK
OTORITAS PAMANGKU DALAM UPACARA
PITRA YAJŇA WARGA PUTIH MAYONG DI DESA BUBUNAN
КЕСАМATAN SERIRIT KABUPATEN BULELENG
(Perspektif Sosiorelegius)
Oleh: PUTU RENA
Umat Hindu warga Putih Mayong yang ada di Desa Bubunan Kecamatan Seririt
Kabupaten Buleleng berupaya untuk memahami dan mendalami ajaran agamanya baik
dalam bidang tattwa, susila maupun upacara yajńa sehingga dapat menembus tabir
kungkungan dogmatisme "mula keto"
dalam pelaksanaan pitra yajńa masih banyak terdapat variasi, baik mengenai
nama, pengertian maupun tata caranya karena agama Hindu bersifat luwes, fleksibel,
berlandaskan desa kala patra, catur dresta dan dalam wujud kanista, madya, uttama.
Otoirtas pamangku dalam upacara ngaben warga Putih Mayong di Desa Bubunan
sangat menarik untuk dikaji karena keunikannya. Warga Putih Mayong memberikan
otoritas penuh kepada pamangku warga itu untuk muput (mengantarkan upacara) ngaben
yang pada umumnya dipuput oleh seorang Pandita, sebagai kebiasaan secara turun
temurun. Kunikan lain terlihat pada saat warga Putih Mayong melaksanakan upacara
mamukur/nyekah. Abu sekah yang biasanya dihanyutkan ke laut dipendem (dikubur)
pada subuah pura khusus untuk mengubur abu sekah yang disebut pura pendem. Pura ini
terletak di Desa Mayong Kecamatan Seririt. Setiap melaksanakan upacara ngaben warga
Putih Mayong sealalu memohon tirtha di pura Śiwa. Pada pura itu dulu leluhur mereka
pernah mensthanakan 5 tirtha anugrah dari lima Pandita, sehingga pura itu disebut pura
Panca Tirtha, yang dianggap anugrah dari Panca Pandita. Kelima Pandita itu adalah:
Pandita Śiwa, Bhoda, Bhagawan, Bhujangga, dan Rsi. Dengan Tirtha itu warga Putih
Mayong beranggapan yang muput upacara ngabennya adalah Panca Pandita itu, dan
pamangkunya hanya sebagai perantara. Walaupun warga Putih Mayong menerapkan
kearifan lokal secara turun temurun dalam setiap prosesi upacara ngabennya selalu
berpedoman kepada kitab-kitab sastra agama Hindu. Hal ini yang menjadi latar belakang
masalah selanjutnya rumusan masalah yang dikaji adalah : (1) Bagaimana Kedudukan
pamangku dalam upacara pitra yajña warga Putih Mayong di Desa Bubunan kecamatan
Seririt?, (2) Bagaimana otoritas pamangku dalam upacara pitra yajña warga Putih
Mayong di Desa Bubunan kecamatan Seririt?, (3) bagaimana keterikatan antara upacara
pitra yajňa warga Putih Mayong denan upacara pitra yajña menurut sastra agama
Hindu?.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode yang digunakan adalah:
(1) Pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi partisipasi dan wawancara yang
mendalam, (2) Analisis data denngan menggunakan teori, yaitu: teori fungsional
strukural, teori symbol dan teori relegi.
Dari analisis fungsi, walaupun pamangku pada warga Putih Mayong diberika
otoritas penuh dalam melaksanakan uapacara ngaben namun hanya sebagai perantara.
Fungsi pamangku secara sosiologis sebagai pengabdi pada masyarakat (warga dadia) dan
secara relegius fungsi pamangku sebagai pengabdi kepada Tuhan. Keterikatan upacara
ngaben warga Putih Mayong di Desa Bubunan dengan upacara ngaben pada umumnya
terlihat karena warga Putih Mayong ngaben selalu berpedoman pada kitab-kitab sastra
agama Hindu.
Kata Kunci: Otoritas Pamangku, sosiologis dan relegius.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 29 May 2026 08:00 |
| Last Modified: | 29 May 2026 08:03 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1369 |

