I MADE RUDITA, - (2011) WAYANG PEMURTIAN DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT BALI (Analisis Bentuk, Fungsi, dan Makna). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
0912510270_I Made Rudita.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (3MB)
Abstract
ABSTRAK
Wayang Pemurtian adalah salah satu wayang yang berperan penting
dalam pertunjukan Wayang Kulit Bali. Wayang Pemurtian mempunyai fungsi
dan nilai filosofi yang sangat kompleks yang belum pernah dikaji secara
mendalam. Tesis berjudul “Wayang Pemurtian dalam Pertunjukan Wayang
Kulit Bali Analisis Bentuk, Fungsi, dan Makna” adalah hasil studi terhadap
wayang Pemurtian. Penelitian ini sangat signifikan untuk dilakukan karena fungsi
dan nilai filosofinya yang dikandung dalam wayang ini.
Penelitian ini mengangkat tiga pokok masalah yaitu : 1) bagaimana bentuk
wayang Pemurtian dalam pertunjukan Wayang Kulit Bali? 2) apakah fungsi
wayang Pemurtian dalam pertunjukan Wayang Kulit Bali? 3) apakah makna
wayang Pemurtian dalam pertunjukan Wayang Kulit Bali? Secara umum,
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan dan peranan penting dari
wayang Pemurtian dalam pertunjukan Wayang Kulit Bali. Secara khusus,
penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk, fungsi, dan makna dari wayang
Pemurtian dalam pertunjukan Wayang Kulit Bali.
Penelitian ini dirancang sebagai penelitian kualitatif dengan menggunakan
tiga teori : teori estetika, teori fungsional struktural, dan teori simbol. Metode-
metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara,
dokumentasi dan kepustakaan. Seluruh data diolah menggunakan tehnik deskriptif
interpretatif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk wayang Pemurtian dalam
pertunjukan Wayang Kulit Bali dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: bentuk statis
dan bentuk dinamis. Bentuk statis dari wayang Pemurtian dapat dilihat dari segi:
(1) pewarnaan wayang, (2) perwujudan wayang dan (3) struktur bentuk wayang.
Bentuk dinamis dari wayang Pemurtian dapat dilihat dari segi: Pemurtian dan
Triwikrama. Baik Pemurtian dan Triwikrama bisa dilihat dari lima segi, seperti :
(1) mantra, (2) gerak wayang, (3) iringan, (4) bahasa dan, (5) aksen cepala.
Fungsi wayang Pemurtian dalam pertunjukan Wayang Kulit Bali dapat
digolongkan menjadi fungsi dramatik sebagai tanda pembuka pertunjukan,
sebagai batas ruang pertunjukan, dan sebagai wujud Pemurtian. Fungsi religius
sebagai penjaga spiritual dalang dan sebagai sarana pelengkap ritual, fungsi
estetik sebagai hiasan atau dekorasi, dan fungsi simbolik sebagai simbol
Pemurtian. Makna wayang Pemurtian dalam pertunjukan Wayang Kulit Bali
meliputi : makna religius, makna keseimbangan, makna siklus kehidupan, makna
kemanunggalan, makna estetis, makna tri loka dan makna penyucian.
Penelitian ini membuktikan bahwa wayang Pemurtian bukanlah sekedar
pelengkap atau dekorasi melainkan dua buah wayang yang memiliki peran
penting dalam pertunjukan Wayang Kulit Bali.
Kata kunci : Wayang Pemurtian, Wayang Kulit Bali, Bentuk, Fungsi, dan Makna.
ABSTRACT
Pemurtian puppet is one of the puppets that has important role in
Balinese shadow puppet show. This puppet has a complex function and
philosophical values, which have not been studied comprehensively. This thesis
entitled “Pemurtian Puppet in Balinese Shadow Puppet Show, Analysis on the
Form, Functions, and Meaning” is a study result on the Pemurtian puppet. This
research is significant due to the functions and philosophical values of this puppet.
This research has three basic problems: 1) How is the form of the
Pemurtian Puppet in Balinese shadow puppet show? 2) What is the function of
Pemurtian Puppet in Balinese shadow puppet show? 3) What is the meaning of
Pemurtian puppet in Balinese shadow puppet show? In general, the aim of this
research is to discover the existence and the important role of the Pemurtian
puppet in the Balinese shadow puppet show. Particularly, the aim of this research
is to explain the form, function, and meaning of Pemurtian puppet in Balinese
shadow puppet show.
This study is designed as qualitative research by employing three theories,
such as esthetics theory, structural functional theory, and the theory of symbol.
The method in collecting data includes observation, interview, documentation,
and bibliography. Entire data is processed through the technique of interpretative
description.
The result of this research indicates that the form of Pemurtian puppet
may be distinguished into two parts, such as the static and dynamic forms. The
static form can be seen through: (1) puppet’s color, (2) puppet’s form, and (3) the
structural form of the puppet. The dynamic form of puppet can be seen as
Pemurtian and Triwikrama. Both Pemurtian and Triwikrama may be seen from
five view points, such as: (1) mantra incantation, (2) movement or manipulation,
(3) musical accompaniment, (4) the language, and (5) the rhythmic pattern of
cepala wooden rattle. The function of Pemurtian puppet in Balinese shadow
puppet show may be classified into three dramatic functions: as the opener of the
show, as the scenic boundary of the show, and as the form Pemurtian. Religiously
the puppet functions as puppeteer’s spiritual protector and as a ritual complement.
Aesthetically, it functions as embellishment or decoration and symbolically as a
symbol of Pemurtian. The meaning of Pemurtian puppet in Balinese shadow
puppet show includes: religious meaning, balance, life cycle, unity, aesthetic,
three unified realms, and purification.
The research proves that Pemurtian puppet is not merely a complement or
a decoration, but the two puppets have important role in Balinese puppet
performance.
Key words : Pemurtian puppet, Balinese shadow puppet, Form, Function and Meaning.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 08 Jul 2026 04:05 |
| Last Modified: | 08 Jul 2026 04:06 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1404 |

