PEMENTASAN TOPENG SIDHAKARYA DI PURA MUSTIKA DHARMA CIJANTUNG JAKARTA KAJIAN BENTUK FUNGSI DAN MAKNA

I Wayan Balik Mastana, - (2013) PEMENTASAN TOPENG SIDHAKARYA DI PURA MUSTIKA DHARMA CIJANTUNG JAKARTA KAJIAN BENTUK FUNGSI DAN MAKNA. Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Tesis] Text (Tesis)
1112510383_I Wayan Balik Mastana.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (6MB)

Abstract

ABSTRAK

Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia merupakan
salah satu tempat berkembangnya kebudayaan-kebudayaan asing dan
daerah yang ada di Indonesia. Di samping keanekaragaman budaya di
Jakarta berkembang juga kerukunan kehidupan beragama antar etnis, ras
dan suku bangsa yang ada di Ibu Kota Negara Republik Indonesia ini.
Mayoriras penduduk Jakarta beragama Islam (83%), Protestan (6,2%),
Katolik (5,7%), Buddha (3,5%) dan Hindu (1,2%) menurut Bimbingan
Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementrian Agama Republik
Indonesia Provinsi DKI Jakarta. Mayoritas umat Hindu di Jakarta berasal
dari Bali, kesenian banyak mewarnai kehidupan masyarakatnya yang
beragama Hindu, dalam melakukan yadnya sebagai persembahan suci dan
tulus ikhlas kehadapan Ida Sang Hyag Widhi Wasa. Yadnya yang berupa
banten, tarian sakral keagamaan dan doa-doa pujaan kegiatan ritual umat
Hindu. Topeng Sidhakarya sebagai bagian terpenting dari kesenian Bali
yang berkaitan dengan upacara agama Hindu. Oleh karena itu keberadaan
Topeng Sidhakarya menjadi sangat penting dalam sistem upacara agama
Hindu di Bali maupun di luar daerah, khususnya di Jakarta. Jadi kaijian
terhadap topeng Sidhakarya masih sangat diperlukan.
Penelitian ini mengangkat masalah yaitu : (1) bagaimanakah
struktur bentuk pementasan topeng Sidhakarya yang berkembang di pura
Mustika Dharma Cijantung, (2) bagaimanakah fungsi pementasan topeng
Sidhakarya bagi umat Hindu di Pura Mustika Dharma Cijantung. (3)
bagaimanakah makna pementasan topeng Sidhakarya bagi masyarakat
Hindu di pura Mustika Dharma Cijantung. Tujuan penelitian ini adalah
untuk menghasilkan informasi yang dapat dikembangkan lebih lanjut : (1)
Untuk mengetahui struktur pementasan topeng Sidhakarya dalam upacara
piodalan Pura Mustika Dharma Cijantung Jakarta. (2) Untuk menjelaskan
fungsi pementasan topeng Sidhakarya dalam upacara piodalan Pura
Mustika Dharma Cijantung Jakarta. (3) Untuk menganalisa makna
pementasan topeng Sidhakarya dalam upacara piodalan Pura Mustika
Dharma Cijantung Jakarta. Juga membantu pendataan keberadaan
perkembangan seni topeng Sidhakarya yang ada di daerah perkotaan.
Untuk membahas masalah hubungan fungsionalisme struktural,
teori estetika dan teori simbol terhadap pementasan topeng Sidhakarya
yang terjadi di daerah Jakarta dapat dikatakan sebagai kategori yang
memiliki peranan dalam upacara yang hendak digelar menurut budaya
Hindu. Untuk mencari data dilapangan dilakukan dengan menggunakan
metode pendekatan kualitatip dengan cara obsevasi, wawancara,
dekumentasi dan studi pustaka.
Secara ringkas temuan yang diperoleh dapat disimpulkan kedalam
beberapa pokok pikiran sebagai berikut : (1) bentuk Beberapa hal
berkaitan dengan seperti, topeng berwarana putih, mata sipit, gigi
jongos, bertaring tapi tersenyum,rambut putih panjang sebahu, memakai
kain putih merajah, penari membawa bokoran berisi canangsari, beras
kuning, dupa dan sekarura. Menari dangkrak dingkrik dengan langkah
kaki durga, agem tangan tari jauk, prabwanya gembira seperti tari topeng
tua /werda lumaku, berucap bahwa datang sebagai raja bhutakala, seluruh
bhutakala yang ada tunduk dan menghormat kepadanya. Sejarah Topeng
Sidhakarya, berawal dari keberhasilan brahmana Keling mengusir
Bhutakala, mengembalikan suana Bali menjadi lebih baik dari pada
sebelumnya dan mensukseskan Karya Eka Dasa Ludra di Besakih,
sehingga beliu diabiseka oleh Dalem Waturenggong menjadi Dalem
Sidhakarya. (2) Fungsi pementasan topeng Sidhakarya di pura Mustika
Dharma Cijantung Jakarta Timur, secara khusus adalah untuk melengkapi
dan mensukseskan pelakasanaan piodalan / pujawali pura Mustika Dharma
secara sekala, secara niskala melalui simbul menyebar beras kuning dan
sekarura dengan memutar purwa daksina menambah kesempurnaan dari
upacara piodalan, sehingga tercipta mokasartham jagadhita ya ca hiti
dharma. (3) Makna pementasan topeng Sidhakarya di pura Mustika
Dharma Cijantung Jakarta Timur, merupakan penjewantahan bentuk dan
fungsi dari pementasan tersebut sehingga seni keagamaan melalui
penyajian Topeng Sidhakarya Agama Hindu sebagai bingkai filsafatnya.
Disertai taksu, sesaji, pengiring musik/ gambelan, mudra/ gerakan tari
yang dilakukan oleh penari memiliki makna keseimbangan, teologi dan
pelestarian dan nantinya akan terwujud hubungan harmonis antara
manusia dengan sang pencipta, manusia dengan umatnya, serta manusia
dengan alam lingkungan sehingga terjaga kelangsungan Alam semesta,
tercermin dalam makna pementasan dalam perkembangan masyarakat.

Kata Kunci : Pementasan tari Topeng Sidhakarya, kajian Bentuk, Fungsi
dan Makna

ABSTRACT

Jakarta as the Capital of the Republic of Indonesia is one of the
cultural development – foreign and local cultures that exist in Indonesia.
Besides the growing cultural diversity in Jakarta also harmony of
religious life among ethnic, racial and ethnic groups in the capital of the
Republic of Indonesia. The majority of city dwellers are Muslims (83%),
Protestant (6,2%), Catholic (5,7%), Buddhists (3,5%) and Hiduism (1,2%)
arccording to the latest data Pembimas Regional Office of the Ministry
Hindu Religion Jakarta. The majority of Hindus in Jakarta from Bali,
many art coloring Hindu community life, in doing yadnyan as a sacrifice
holy and sincere to Ide Sang Hyang Widhi Wasa. Yadnya the form of
offerings, religious sacred dance and prayer-prayer idol of Hindu rituals.
Sidhakarya mask as an important part of Balinese art Hindu religious
ceremonies. Therefore tye existence of Mask Sidhakarya become very
important in the Hindu system of religious ceremonies in Bali and outside
the special area in Jakarta. So the study on Sidhakarya mask is needed. .
This study raised the issue, namely: (1) how structures form a mask
staging Sidhakarya work developing Mustika Dharma temple Cijantung,
(2) how the performance function Sidhakarya mask for Hindus in Temple
Mustika Cijantung Dharma. (3) how the meaning of staging Sidhakarya
mask for the temple of Hindu Dharma Mustika Cijantung. The purpose of
this study is to generate information that can be further developed: (1) To
determine the structure of the mask Sidhakarya staging the ceremony
piodalan Mustika Dharma Temple Cijantung Jakarta. (2) To Explain the
function of staging the ceremmony mask Sidhakarya piodalan Mustika
Dharma Temple Cijantung Jakarta. (3) To analyze the meaning of staging
the ceremmony mask Sidhakarya piodalan Mustika Dharma Temple
Cijantung Jakarta. Also, to help data collection Sidhakarya mask the
presence of the arts that exist in urban areas. .
To discuss the theory of structural functionalism Realions
aesthetic theory and the theory of symbol of staging Sidhakarya mask
happened in the Jakarta area can be regarded as a category that has a role
in the ceremony was about to be held according to Hindu cultur. To find
the data in the field is done using kualitatip approach by observation,
interviews and literature.
In summary the findings obtained can be summarized into a few k
key points as follows: (1) Some of the things related to the structure of the
staging, the story and the stage became a dancer mask, mask the
appearance of white, narrow eyes, teeth houseboy, fanged but smile,
shoulder length white hair, wearing a white cloth tattooing, dancers bring
bokoran contains canangsari, yellow rice, incense and sekarura. Dancing
dangkrak dingkrik the footsteps durga, agem hand jauk dance, mask dance
prabwanya happy as parents / Werda lumaku, say that it comes as a king
bhutakala, all existing bhutakala subject and saluting him. Mask
Sidhakarya history, starting from the success of Brahmins Keling
Bhutakala expel, return the Balinese atmosphere to be better than before
and the success of Ace Works Dasa Ludra in Besakih, so he diabiseka by
Dalem Waturenggong a tradional Sidhakarya. (2) The function of the mask
performance Sidhakarya Mustika Dharma temple Cijantung East Jakarta,
in particular is to complete the implementation and success of the noetic
piodalan / pujawali with prayer, a scale, the abstract with yellow rice and
scatter symbols by rotating prototype sekarura daksina add to the
perfection of the ceremony piodalan , so as to create mokasartham
jagadhita ya ca Hiti dharma. (3) The meaning of the mask performance
Sidhakarya Mustika Dharma temple Cijantung East Jakarta, is
penjewantahan form and function of the performance so that the mask of
religious art through the presentation of Hinduism as a frame Sidhakarya
philosophy. Accompanied taksu, offerings, accompaniment music /
gambelan, mudras / dance movements performed by dancers have
meaning balance, theology and preservation and it will manifest a
harmonious relationship between man and his creator, man with his
people, and people with the natural environment that maintained the
continuity of Nature universe, reflected in the staging of meaning in the
development of society.

Keywords: Staging Sidhakarya dance masks, study form, Function and Meaning

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Pascasarjana > S2 - Brahma Widya
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 08 Jul 2026 04:38
Last Modified: 08 Jul 2026 04:38
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1408

Actions (login required)

View Item
View Item