DALAM TRADISI MAJAR-AJAR BARONG LANDUNG DI DESA PAKRAMAN NYALIAN KECAMATAN BANJARANGKAN KABUPATEN KLUNGKUNG

SANG MADE SUASTAMA, - (2015) DALAM TRADISI MAJAR-AJAR BARONG LANDUNG DI DESA PAKRAMAN NYALIAN KECAMATAN BANJARANGKAN KABUPATEN KLUNGKUNG. Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Tesis] Text (Tesis)
1212510429_Sang Made Suastama.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (3MB)

Abstract

ABSTRAK

Penduduk Bali sebagian besar penganut agama Hindu, maka corak
masyarakat Bali terutama masyarakat pedesaan akan tampak sangat khas yaitu
kebudayaan yang dijiwai oleh agama Hindu. Uniknya lagi jenis dan macam
upacara serta tradisi antara satu daerah dengan daerah lainnya memiliki unsur
persamaan dan perbedaan. Tradisi Majar-ajar Barong Landung walaupun
sepintas dilihat memiliki kesamaan dengan ngelawang namun Tradisi Majar-ajar
Barong Landung memiliki keunikan tersendiri yaitu dilaksanakan pada Hari Raya
Kuningan dan Barong yang dipergunakan adalah Barong Landung yang
disakralkan.
Dari latar belakang tersebut dapat dirumuskan permasalahan penelitian,
yaitu : (1) Bagaimana pelaksanaan Tradisi Majar-ajar Barong Landung? (2)
Apakah fungsi dari Tradisi Majar-ajar Barong Landung? (3) Makna teologi
Hindu apa sajakah yang terkandung di dalam Tradisi Majar-ajar Barong
Landung? Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif, dengan data-data
diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sebaliknya teori yang
digunakan untuk menganalisis yaitu teori fungsional struktural, teori simbol dan
teori religi.
Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut
(1) Prosesi Tradisi Majar-ajar Barong Landung, yaitu dilaksanakan pada saat
Hari Raya Kuningan oleh masyarakat Desa Pakraman Nyalian dengan
mempergunakan Barong Landung yang sebelumnya sudah disakralkan dan
diupacarai dengan menghaturkan banten, kemudian mengelilingi wilayah desa
yang dimulai dari Pura Dalem Desa Pakraman Nyalian. (2) Tradisi Majar-ajar
Barong Landung memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi sosial yaitu untuk
mempererat hubungan persaudaraan di Desa Pakraman Nyalian. Fungsi religi
yaitu untuk menjalin hubungan manusia dengan Tuhan, menuntun jalan pikiran
krama untuk memperdalam kepercayaan (sradha) kepada Tuhan. Fungsi estetika
yaitu sebagai hasil seni kebudayaan yang dimiliki oleh Krama Desa Pakraman
Nyalian. Fungsi pendidikan dan moral yaitu fungsi yang terlihat dalam etika

berpakaian pada saat melaksanakan tradisi begitu juga dengan perkataan-
perkataan yang kotor agar tidak dilontarkan (3) Makna teologi Tradisi Majar-ajar

Barong Landung memiliki beberapa makna yang terdiri dari makna teologi
religius yang terlihat pada saat menggunakan sesajen dalam pelaksanaannya.
Makna teologi simbolik yang terlihat dari bentuk Barong Landung yang berada di
desa pakraman Nyalian. Makna keselamatan di Wilayah desa Pakraman Nyalian
diyakini sebagai tindakan perventif menolak bala, wabah penyakit dan sebagai
pengusir hama bagi petani.

Kata kunci : Teologi Hindu; Tradisi Majar-ajar Barong Landung; Desa Pakraman

ABSTRACT

Balinese residents mostly are Hindu holder, so the style of Balinese,
especially rural communities will look very typical of the culture that inspired by
Hinduism. Uniquely types and kinds of ceremonies and traditions from one region
to another have elements of similarities and differences. Tradition of Majar-ajar
Barong Landung although cursory visits have in common with ngelawang but
tradition of Majar-ajar Barong Landung has its own uniqueness that is held on
Kuningan day and Barong which used is sacred Barong Landung.
From the background above can be formulated research problem, they are:
(1) How is the implementation of Majar-ajar Barong Landung tradition? (2)
What is the function of Majar-ajar Barong Landung tradition? (3) What are the
meaning of Hindu theology which is contained in the tradition of Majar-ajar
Barong Landung? This study is a qualitative research, with data obtained from
observation, interviews, and documentation. Conversely theory used to analyze
which structural functional theory, the theory of symbols and religious theory.
The results obtained from this study were as followed: (1) procession of
Majar-ajar Barong Landung tradition, which were conducted during the
Kuningan day by society Pakraman Nyalian using the Barong Landung previously
sacred and made a ceremony to deliver to the offerings, then surround village area

that started from the Pura Dalem Pakraman Nyalian. (2) The tradition of Majar-
ajar Barong Landung has several functions, namely social function is to

strengthen the fraternal relations in Pakraman Nyalian. Religious functions,
namely to establish a human relationship with God, led the way mind manners to
deepen trust (sradha) to God. Aesthetic function is as a result of the culture of art
owned by Krama Pakraman Nyalian. Educational and moral function is the
function that is visible in the dress code at the time of carrying out the tradition as
well as the dirty words that are not expressed (3) theology Meaning of tradition
Majar-ajar Barong Landung has several meanings that consists of theology of
religious significance seen at use offerings in the implementation. Theology
symbolic meaning that can be seen from the shape Barong Landung residing in
Pakraman Nyalian. Meaning safety at village area Pakraman Nyalian believed to
be refused reinforcements preventive measures, outbreak of disease and as midges
for farmers.

Keywords : Theology of Hindu; custom of Majar-ajar Barong Landung; Pakraman village

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Pascasarjana > S2 - Brahma Widya
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 08 Jul 2026 04:46
Last Modified: 08 Jul 2026 04:52
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1409

Actions (login required)

View Item
View Item