NI KOMANG WIDIARTINI, - (2013) UPACARA NYEGARA GUNUNG DI PURA GOA LAWAH DESA PESINGGAHAN, KECAMATAN DAWAN KABUPATEN KLUNGKUNG (Perspektif Bentuk, Fungsi dan Makna). Other thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
36 S1 PENA 2013 NI KOMANG WIDIARTINI.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (8MB)
Abstract
ABSTRAK
Pelaksanaan yajna merupakan hal yang paling menonjol dalam kehidupan
masyarakat di Bali. Akan tetapi yang tampak pada umumnya di masyarakat
berpariasi tergantung pada situasi dan kondisi setempat (desa, kala, patra)
Seperti upacara Nyegara Gunung di Pura Goa Lawah, Kecamatan Dawan
Kabupaten Klungkung. Upacara Nyegara Gunung adalah upacara permakluman
kehadapan Ida Sang Hyang Whidi bahwa sang adrwe karya telah melaksanakan
upacara Dewa Yajna atau Pitra Yajna dengan labda karya sidaning don agar sang
atma bisa dilinggihkan di kemulan. Bertitik tolak dari latar belakang dalam
penelitian ini, adapun rumusan masalah adalah : 1) bagaimana Bentuk upacara
Nyegara Gunung di Pura Goa Lawah?, 2) apakah Fungi upacara Nyegara Gunung
di Pura Goa Lawah?, 3) apakah Makna yang terkandung dalam upacara Nyegara
Gunung di Pura Goa Lawah?.
Mengkaji dan membedah ketiga permasalahan peneliti mengunakan dua
teori yaitu teori fungsional struktual untuk membedah bentuk dan fungsi upacara
Nyegara Gunung, dan teori simbol untuk membedah makna yang terkandung
dalam upacara Nyegara Gunung. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan
metode pengumpulan data dan teknik penentuan informan, peneliti menggunakan
beberapa cara untuk menggali informasi kepada para informan melalui metode
observasi, wawancara, dokumentasi, dan kepustakaan. peneliti akhirnya
menganalisis melalui metode analisis deskriptif dan metode kualitatif
Bentuk pelaksanaan upacara Nyegura Gunung mulai dari segura yaitu
upacara ngangkid atau ngulapin agar Dewa Hyang berstana pada tapakan
pelinggih. Setelah selesai upacara di segara lalu tapakan pelinggih dituntun ke
pura Goa Lawah untuk disembahyangkan dan dipamitkan. Setelah upacara diatas
selesai, baru terakhir Dewa Hyang dilinggihkan di rong dua atau kemulan.
Fungsi dalam upacara Nyegara Gunung adalah; 1) penyucian roh leluhur
tujuannya supaya sang atma menyatu dengan Tuhan. 2) fungsi sosial
kemasyarakatan bertujuan mëmbina persaudaraan antara sesama warga yang
dikemas dalam bentuk ngopin. 3) fungsi sekala dan niskala yaitu sekala
mempunyai arti nyata dan niskala hanya dapat dirasa di dalam hati. 4) fungsi
religius dalam upacara Nyegara Gunung merupakan upacara dewa yajna dalam
pelaksanaannya menggunakan sarana upakara. 5) fungsi pelestarian budaya
upacara Nyegara Gunung merupakan budaya asli masyarakat Hindu di Bali dan
wajib dilaksanakan, 6) upacara Nyegara Gunung dikategorikan naimitika puja
karena pelaksanaannya hanya dilaksanakan sekali setelah selesai mengadakan
upacara ngaben atau ngenteg linggih. 7) fungsi solidaritas adalah untuk membina
keharmonisan
Makna yang terkandung dalam upacara Nyegara Gunung yakni; 1) makna
religius adalah penyucian roh yang dilaksanakan setelah mengalami proses
upacara ngaben, memukur dan ngeroras, 2) makna sosial mengandung keiklasan
berkorban untuk mendekatkan diri kepada Tuhan tergolong yajna, iklas berkorban
demi kebahagiaan orang tua atau leluhur, 3) makna religius mewujudkan
pengetahuan dan keyakinan terhadap panca sraddha
Kata Kunci : Upacara Nyegara Gunung
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | H Social Sciences > HE Transportation and Communications |
| Divisions: | Fakultas Dharma Duta > S1 - Penerangan Agama Hindu |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 28 Feb 2026 10:00 |
| Last Modified: | 28 Feb 2026 10:01 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1200 |

