I KETUT RUPAWAN, - (2004) SAPUT POLENG DALAM KEHIDUPAN BERAGAMA HINDU DI BALI (KAJIAN BENTUK, NILAI-NILAI FILOSOFIS, KEDUDUKAN PERANAN, DAN MAKNA). Other thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
4 S2 BW 2004 I KETUT RUPAWAN.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (24MB)
Abstract
ABSTRAK
SAPUT POLENG DALAM KEHIDUPAN
BERAGAMA HINDU DI BALI
Oleh: I Ketut Rupawan
Masyarakat Hindu di Bali dalam melakukan pemujaan pada Tuhan banyak
memanfaatkan benda-benda sebagai alat bantu memusatkan pikiran. Hal ini
dilakukan sebagai sarana mendekatkan diri pada Tuhan. Setiap alat bantu yang
digunakan memiliki arti simbolik tertentu. Salah satu benda yang digunakan adalah
kain yang berwarna tertentu, terkadang satu warna atau kombinasi beberapa warna.
Contoh kain yang berhiaskan kombinasi warna adalah selembar kain yang dihias
dengan warna hitam dan putih dalam konfigurasi bentuk kotak-kotak yang disebut
saput poleng. Sehubungan dengan adanya pemakaian saput poleng ini, maka
diadakan penelitian untuk mengungkapkan beberapa hal yang disusun dalam
permasalahan berikut.
Empat permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah: 1).
bagaimanakah bentuk saput poleng itu? 2).nilai-nilai filosofis apakah yang
terkandung dalam saput poleng? 3). bagaimanakah kedudukan dan peranana saput
poleng dalam kehidupan umat Hindu di Bali? 4). apakah makna pemakaian saput
poleng bagi umat Hindu di Bali?
Penelitian ini adalah penelitian lapangan, yang lokasinya di Propinsi Bali.
Tiga daerah yang dijadikan sampel daerah yaitu Kabupaten Bangli, Kabupaten
Gianyar, dan Kota Denpasar. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara
mendalam dengan para informan. Para informan ditentukan dengan teknik bola salju
bergulir (snowball sampling). Data lapangan yang diperoleh dipadukan dengan data
kepustakaan. Pengolahan data dilakukan dengan cara deskreptif kualitatif, yaitu
melalui perpaduan teknik induksi dan deduksi, yang dikombinasikan secara bolak
balik. Maksudnya untuk memperoleh makna yang terkandung dalam pemakaian
saput poleng itu.
Ditemukan tiga jenis saput poleng di Bali yaitu saput poleng rwabhineda,
saput poleng sudhamala, dan saput poleng tridatu. Saput poleng rwabhineda
berwarna putih dan hitam, saput poleng sudhamala berwarna putih, abu-abu, dan
hitam, sedangkan saput poleng tridatu berwarna putih, merah, dan hitam. Ketiga jenis
saput poleng ini disakralkan. Riwayat munculnya saput poleng terlihat ketika
rerajahan ditemukan di Bali. Ada juga kain yang menyerupai saput poleng, yang
muncul dalam beberapa tahun terakhir, yang disebut kain poleng anyar. Kain poleng
anyar ini dipakai dalam kegiatan profan. Kain poleng anyar ini dihias dengan motif
hiasan tradisional Bali, yaitu dengan gambar pepatran yang telah dimodifikasi pada kotak-kotaknya. Ada empat jenis pepatran yang digunakan yaitu: patra kuta mesir,
patra bungan cicang, patra karang jahe dan patra ilut tali. Munculnya kain poleng
anyar ini baru beberapa tahun terakhir.
Nilai filosofis yang terkandung dalam saput poleng adalah suatu pembagian
dua yang bertentangan (rwabhineda) yang selanjutnya diberikan penyelaras/penengah
sehingga menjadi pembagian tiga yang harmonis. Nilai filosofis pada kain poleng
anyar dapat ditafsirkan sebagai : keharmonisan, keselarasan, dan keseimbangan
dalam kemasan seni hias tradisional.
Kedudukan saput poleng penting dalam kegiatan umat Hindu di Bali, karena
dipakai oleh orang-orang pilihan, atau tempat-tempat yang telah ditentukan. Saput
poleng dipakai pada kegiatan yang dianggap sakral misalnya dipakai oleh pecalang,
jro dalang, menghias bangunan suci tertentu, menghias arca dwarapala, dilukiskan
beberapa tokoh itihasa mengenakanya seperti: Hanoman, Bima, Tualen, dan
Merdah, dan dililitkan pada pohon. Secara umum dapat dikatakan pemakaiannya
berfungsi sebagai simbolik para penjaga untuk memperoleh keselamatan, baik
penjaga sekala maupun penjaga niskala. Kedudukan kain poleng anyar tidak begitu
penting karena pemakaiannya selalu pada kegiatan di luar yang sakral, yaitu yang
profan misalnya: busana ke pura, busana ke pesta adat Bali, hiasan meja, hiasan
tiang bangunan, destar, dan sebagainya.
Makna pemakaian saput poleng menunjukkan suatu keangkeran,
kewibawaan, kekuatan, kesucian, yaitu sesuatu yang sakral. Kelahiran manusia
(utpti), menurut ajaran Samkya, berasal dari pertemuan Purusa dan Pradana yaitu
pertemuan dari rwabhineda. Dalam menjalani kehidupan ini (sthiti) manusia juga
memanfaatkan rwabhineda yang ada di lingkungannya. Akhirnya manusia yang
hidup dengan memanfaatkan rwabhineda ini akan mati (pralina). Mati yang baik
adalah menyatunya atma dengan Brahman (Tuhan), yaitu moksa. Moksa bisa dicapai
apabila atma terbebas dari pengaruh triguna (yaitu: satwam, rajas, dan tamas, yang
berbentuk wasana karma/sisa-sisa perbuatan). Intinya moksa dicapai dengan
memisahkan pengaruh rwabhineda pada atma. Jalan mencapai moksa telah
ditunjukkan yaitu yoga. Makna pemakaian kain poleng anyar dapat dikatakan
sebagai pelengkap pemakaian saput poleng, yakni cerminan keselarasan dan
keseimbangan yang dituangkan dalam bentuk paduan tiga warna yang dilengkapi
hiasan tradisional (pepatran).
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 02 Mar 2026 11:56 |
| Last Modified: | 02 Mar 2026 11:58 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1206 |

