I MADE GIRINATA, - (2004) ETIKA RELIGIUS UPACARA CARU PANCA SATA DI DESA PENARUKAN, KECAMATAN KERAMBITAN, KABUPATEN TABANAN. Other thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
7 S2 BW 2004 I MADE GIRINATA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (21MB)
Abstract
ABSTRAK
Penduduk pulau Bali yang mayoritas beragama Hindu hampir setiap hari
melaksanakan upacara (yadnya). Bila diperhatikan upacara (yadnya) yang
dilaksanakan sangatlah beragam jenis dan bentuknya. Keberagaman jenis dan bentuk
upacara yadnya itu sesungguhnya merupakan penjabaran dari lima jenis pokok yadnya
yang disebut dengan panca yadnya. Dalam konteks agama Hindu panca yadnya itu
berkaitan dengan pemujaan terhadap Tuhan (Dewa Yadnya), penobatan pendeta dan
pinandita (Rsi Yadnya), upacara untuk orang yang telah meninggal (Pitra Yadnya),
upacara untuk membersihkan manusia semasih hidup baik secara lahir maupun batin
(Manusa Yadnya) dan upacara ruwatan terhadap bhuta kala atau makhluk bawahan
(Bhuta Yadnya).
Di antara upacara tersebut terdapat upacara caru panca sata yang merupakan
bagian dari upacara Bhuta Yadnya. Upacara caru panca sata banyak memerlukan
sarana, salah satu di antaranya yang dianggap penting adalah menggunakan lima ekor
jenis ayam yakni: ayam putih, ayam merah (biying), ayam putih siyungan, ayam hitam
dan ayam brumbun. Seluruh sarana upacara caru panca sata memiliki fungsi yang
penting sehingga dapat mempengaruhi pelaksanaan upacara. Jika salah satu sarana
tidak ada, upacara diyakini tidak sempurna, oleh karena itu lebih baik ditunda
sementara sampai semua sarana terpenuhi
Umat Hindu hampir pada setiap daerah di Bali tahu tentang caru panca sata,
namun dalam hal membentuk serta cara melaksanakannya tidak sama. Seperti halnya
umat Hindu di Desa Penarukan, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan
membentuk dan melaksanakannya dengan sangat sederhana. Maka dari itu menggelitik
suatu pemikiran untuk mengadakan penelitian dengan maksud mengkaji lebih
mendalam. Adapun rumusan masalah yang dipakai dasar penelitian adalah:
Bagaimana etika yang benar dalam struktur membentuk caru panca sata ?, dan
bagaimana etika dalam prosesi upacara serta apa makna upacara caru panca sata?
Penelitian ini dibedah dengan menggunakan beberapa teori yakni: Teori
Fungsional Struktural untuk mengetahui struktur bentuk upacara caru panca sata, teori
simbol untuk mengetahui beberapa elemen dalam upacara caru panca sata memiliki
simbol dan makna.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan upacara caru panca sata
dengan menekankan penelitian pada etika religius tentang tatacara yang benar dalam
hal menentukan sarana, membentuk dan melaksanakan upacara, sekali
gus mengungkap makna yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan
metode kualitatif dengan mengambil lokasi Desa Adat Penarukan, Kecamatan
Kerambitan, Kabupaten Tabanan. Pengumpulan data menggunakan wawancara
mendalam dan pengamatan terlibat. Informan kunci yang dipilih yaitu Bendesa Adat,
Sarati (tukang banten), pemimpin upacara (pendeta) dan beberapa anggota
masyarakat yang melaksanakan upacara caru panca sata. Data dideskripsikan,
selanjutnya diinterpretasi dalam rangka pemberian makna terhadap pelaksanaan
upacara caru panca sata.
Hasil penelitian ini antara lain bahwa Upacara caru panca sata menggunakan
berbagai macam sarana yang tergolong dalam jenis mataya yaitu sarana yang berasal
dari sesuatu yang tumbuh dan mantiga adalah sesuatu yang lahir dua kali di antaranya penggunaan lima ekor jenis ayam. Penggunaan lima ekor jenis ayam mutlak
dipergunakan, karena masing-masing memiliki arti simbol Tuhan dan Bhuta yang
menempati lima penjuru mata angin. Kelima jenis ayam dalam bentuk banten caru
panca sata masing-masing diyakini memiliki kekuatan getaran dan vibrasi tersendiri
dalam hal mewujudkan keseimbangan alam semesta. Untuk itu dalam melaksanakan
upacara caru panca sata diperlukan tuntunan etika religius agar dalam menentukan
sarana, cara membentuk tidak terjadi pertukaran antara banten yana satu dengan yang
lain, demikian juga saat mempersembahkan tidak mengalami kesalahan.
Makna upacara caru panca sata adalah untuk mengembalikan keseimbangan
akibat adanya sesuatu yang tidak wajar secara spiritual seperti melakukan hubungan
seks dengan binatang, dengan saudara kandung, dengan anak kandung dan sebagainya
yang berdampak pada ketidak harmonisan bagi kehidupan manusia. Upacara caru
panca sata juga bermakna untuk memberi panyupatan terhadap binatang ayam agar
pada kehidupannya kelak menjadi lebih meningkat yaitu sebagai manusia. Upacara
caru panca sata justru mendukung keseimbangan ekologi ayam dalam populasinya.
Sebab dengan rutinitas pelaksanaan upacara caru itu berarti tumbuhnya niat manusia
untuk tetap menjaga dan berupaya memelihara binatang dengan konsekuwensi ketika
diperlukan tidak susah mencari ayam, demikian juga dengan sarana-sarana yang lain
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 02 Mar 2026 12:30 |
| Last Modified: | 02 Mar 2026 12:31 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1209 |

