I WAYAN SUKABAWA, - (2004) UPACARA WANA KRETIH DI HUTAN BATUKARU, DESA WONGAYA GEDE : ANALISIS BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA. Other thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
15 S2 BW 2004 I WAYAN SUKABAWA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (14MB)
Abstract
ABSTRAК
UPACARA WANA KRETIH
DI HUTAN BATUKARU, DESA WONGAYA GEDE :
ANALISIS BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA
Hutan merupakan lingkungan tempat berlangsungnya hubungan timbal balik
antara makhluk hidup dan faktor alam. Antara alam dan manusia harus saling menjaga
kehidupan yang berdasarkan yadnya. Orang tidak peduli dengan alam, berburu, dan
menebang hutan seenaknya saja, sedangkan hutan merupakan lingkungan hidup sebagai
media hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan unsur alam lainnya, sehingga
perlu dijaga pelestariannya. Pelestarian dilakukan secara nyata berupa penanaman
kembali dan dengan cara ritual dalam bentuk Upacara Wana Kretih. Upacara Wana
Kretih di Hutan Batukaru, Desa Wongaya Gede, merupakan Upacara Tawur Agung.
Upacara Wana Kertih dilaksanakan karena keadaan alam atau bhuana agung mendapat
bencana.
Tujuan yang ingin dicapai adalah pertama secara umum penelitian ini bertujuan
untuk memahami perihal Upacara Wana Kretih dengan jelas. Kedua tujuan khusus
adalah untuk dapat menjawab ketiga masalah yang telah dirumuskan yaitu a). Untuk
mengetahui secara lebih jelas tentang bentuk Upacara Wana Kretih. b). Untuk
memahami fungsi Upacara Wana Kretih. c). Ingin mendalami secara lebih jelas makna
yang terkandung dalam Upacara Wana Kretih.
Landasan teori yang digunakan adalah teori fungsional struktural, teori
lingkungan, teori interaksionisme simbolik, dan teori semiotika. Pengumpulan data
dilakukan berdasarkan teknik : observasi; wawancara; studi kepustakaan; dan studi
dokumen. Data dianalisis berdasarkan pendekatan kualitatif. Penyajian hasil penelitian
secara deskriptif, dan disajikan dalam bentuk laporan ilmiah, berupa tesis.
Bentuk upacara berupa : a) Pelaksanaan upacara arah ke gunung dianggap suci
atau hulu (luan), arah ke laut disebut hilir (teben). b). Upacara mapapada melakukan
suatu prosesi spritual terhadap hewan korban. c). Upacara Mapaselang lambang
bertemunya Ida Sang Hyang Widhi kepada umat, melimpahkan karunia-Nya berupa cinta
kasih. d).Mapakelem di hutan melepas binatang supaya tetap lestari.
Fungsi upacara untuk: a). Pelayanan kepada Tuhan. Upakara artinya pelayanan,
memakai simbol banten. b). Mohon ampun kepada Tuhan, semakin dekat dengan Tuhan
semakin luhur prilaku sehingga diampuni dari dosa. c). Menyadarkan pentingnya hutan,
untuk meujudkan alam yang indah dan harmonis. d). Pengorbanan binatang sebagai
simbol korban pengganti sifat manusia, para bhuta supaya somya.
Makna upacara sebagai : a). Nilai keseimbangan dan keharmonisan secara
horizontal dan vertikal. sesama manusia (pawongan), dengan Tuhan atau Ida Sanghyang
Widhi Wasa (parhyangan). b). Makna sosial. Manusia sebagai makhluk yang tertinggi,
tingkat eksistensinya dalam arti tinggi atau rendahnya status ditentukan oleh mutu
perbuatan (karma) secara keseluruhan dalam kehidupan sosial. c). Makna simbolisasi tri
bhuana. Letak banten secara garis besarnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu rayungan
panggungan di jaba, paselang; sanggar tawang. Bentuk Upacara Wana Kretih secara
umum menggambarkan Tri Bhuana, ada Bhur; ada Bhwah; ada Swah. d). Meningkatkan
Sradha dan Bhakti dengan menggunakan mantra.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 03 Mar 2026 04:12 |
| Last Modified: | 03 Mar 2026 04:17 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1217 |

