ESENSI BUNYI GAMELAN DALAM PROSESI RITUAL (Implikasi Semiologi Bagi Umat Hindu di Kota Palu Sulawesi Tengah)

I KETUT DONDER, - (2005) ESENSI BUNYI GAMELAN DALAM PROSESI RITUAL (Implikasi Semiologi Bagi Umat Hindu di Kota Palu Sulawesi Tengah). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Tesis] Text (Tesis)
3 S2 BW 2005 I KETUT DONDER.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (29MB)

Abstract

ABSTRAК
Bunyi merupakan salah satu sarana ritual bagi umat Hindu di manapun
mereka berada. Kelekatan terhadap unsur bunyi terbawa kemanapun umat Hindu
pergi. Daerah transmigran yang tak terhingga jauhnya dari pulau Bali tidak menjadi
rintangan bagi umat Hindu untuk menggunakan bunyi gamelan dalam prosesi ritual
mereka. Bagi komunitas umat Hindu yang belum mapan ekonominya, mereka
bersepakat untuk membuat seperangkat gamelan Bali dari bahan apapun yang
mungkin mudah didapatkan. Bagi umat Hindu di pemukiman transmigrasi yang
belum mampu ekonominya, membuat gamelan dari kayu, bambu, bahkan ada dari
bekas-bekas potongan pipa galvanis sisa proyek PDAM. Bagi komunitas umat yang
sedikit sudah maju ada yang menyewa dari tempat-tempat pemukiman transmigrasi
yang sudah maju. Komunitas umat Hindu di pemukiman transmigrasi yang sudah
maju langsung membeli gamelan ke Bali. Ada lagi yang cukup menggunakan kaset
gamelan (kaset gong). Yang jelas kelekatannya dengan bunyi gamelan guna
mengiringi ritual perlu mendapat kajian ilmiah.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan esensi penggunaan bunyi
gamelan. Bunyi gamelan tidak hanya sebatas sarana pemeriah acara prosesi ritual,
tetapi harus dikaji dalam aspek yang memungkinkan dapat mengangkat esensi yang
sesungguhnya. Mengingat terbatasnya waktu, tenaga, dan biaya, maka penelitian ini
hanya terfokus pada tiga aspek, yaitu : aspek teologis dan filosofis, psikologis serta
sosiologis. Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan umat Hindu Kota Palu
Sulawesi Tengah, karena alasan praktis untuk membantu salah satu problem umat
tentang tidak adanya minat pemuda, pelajar, dan mahasiswa Hindu untuk mengikuti
latihan menabuh gamelan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, datadata diperoleh melalui observasi, interview, dan dokumen. Data-data yang diperoleh
dianalisis secara bertahap melalui; kualifikasi, ferifikasi, dan interpretasi. Hasil
analisis dideskripsikan secara formal untuk menjelaskan hasil penelitian.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa gamelan memiliki
sumber teologi dalam agama Hindu. Bunyi gamelan secara filosofis adalah tiruan
dari bunyi gemuruh alam semesta yang berpusat pada dasar bumi yang disebut
Prakempa. Bunyi ini juga diyakini sebagai bunyi awal penciptaan, yang dalam Veda
atau Hindu di kenal dengan suara Om, dalam teori evolusi penciptaan alam disebut
big bang. Bunyi ini memenuhi segala penjuru dunia. Bunyi ini kemudian disusun
oleh Bhagawan Wiswakarma masing-masing menjadi bunyi dari bilah gamelan.
Sedangkan bentuk gamelan meniru bentuk_gamelan di alam para dewa, bersumber
dari Siwa Mahadewa, Dewi Saraswati, atau dari kisah Arjuna di Indraloka dalam
Maha Bharata. Gamelan tidak lain adalah teknologi dari teologi Hindu. Bunyi
gamelan juga memiliki beberapa efek psikologis yang positif terhadap manusia dan
berguna untuk membantu manusia mendekatkan diri dengan Tuhan. Bunyi gamelan
memiliki pula efek sosial yang positif guna membangun kebersamaan, persatuan,
kesatuan, dan berbagai kepedulian sosial. Oleh karena itu gamelan layak dipelihara
atau dilestarikan sebagai sarana pengiring upacara agama.
Esensi filosofis dari bunyi gamelan yang dipersembahkan dalam ritual adalah
bahwa setiap vibrasi gelombang bunyi yang dihasilkan oleh setiap bilah daun
gamelan adalah sebuah suara puja yang dengan tepat menuju kepada salah satu ista
dewata. Bila seorang penabuh, memukul gamelan laras pelog, maka selama ia
menabuh, bunyi yang ditimbulkan oleh pukulannya merupakan bentuk pemujaan
kepada lima ista dewata. Nada dang yang dihasilkan oleh pukulannya tertuju kepada
Dewa Iswara. Demikian pula pukulan dung tertuju kepada Dewa Wisnu, nada deng
tertuju kepada Dewa Mahadewa, nada dong tertuju kepada Dewa Siwa., dan nada
ding tertuju kepada Dewa Brahma. Sedangkan gamelan laras selendro hasil-hasil
pukulannya akan menghasilkan nada yang tertuju kepada ista dewata yang lainnyа,
yaitu: nada ndong tertuju kepada Bhudha (Siwa), nada ndeng tertuju kepada Dewa
Rudra, nada ndung tertuju kepada Dewa Sambhu, nada ndang tertuju kepada Dewa
Mahesora, dan nada nding tertuju kepada Dewa Sangkara. Secara filosofi kegiatan
menabuh gamelan merupakan kegiatan suci yang menghubungkan manusia dengan
Tuhan. Bila saja dasar filsafat ini dipahami secara mendalam, maka para penabuh
dan juga umat yang mendengarkan bunyi gamelan akan menambah rasa sradha dan
bhakti kepada Tuhan dengan berbagai manifestasi-Nya.
Ketika umat Hindu dengan luapan kegembiraan menghaturkan bunyi
gamelan pada prosesi upacara, maka saat itu pula para Dewa di sorgaloka bereaksi
seraya ikut bergembira sambil menari tarian kedewataan. Dengan demikian gamelan
adalah sarana untuk menciptakan suasana hubungan yang harmonis antara manusia
dengan para ista dewata, hal ini membawa anugerah bagi manusia.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Pascasarjana > S2 - Brahma Widya
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 08 Mar 2026 12:25
Last Modified: 08 Mar 2026 12:26
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1223

Actions (login required)

View Item
View Item