INKLUSIVISME DAN STRATEGI KERUKUNAN HIDUP BERAGAMA DALAM PEMUJAAN PURA NUSA DHARMA DI KELURAHAN BENOA KECAMATAN KUTA SELATAN KABUPATEN BADUNG PROVINSI BALI

I KETUT GUNARTA, - (2005) INKLUSIVISME DAN STRATEGI KERUKUNAN HIDUP BERAGAMA DALAM PEMUJAAN PURA NUSA DHARMA DI KELURAHAN BENOA KECAMATAN KUTA SELATAN KABUPATEN BADUNG PROVINSI BALI. Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

[thumbnail of Tesis] Text (Tesis)
4 S2 BW 2005 I KETUT GUNARTA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (19MB)

Abstract

ABSTRAK
INKLUSIFISME DAN STRATEGI KERUKUNAN HIDUP
BERAGAMA DALAM PEMUJAAN PURA NUSA DHARMA
DI KELURAHAN BENOA КЕСАМATAN KUTA SELATAN
KABUPATEN BADUNG PROPINSI BALI
Oleh I Ketut Gunarta
Agama pada dasarnya adalah kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
serta segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya. Dalam pelaksanaan kepercayaan itu agama Hindu menggunakan tempat suci (Pura) sebagai tempat untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa (Sang Hyang Widhi Wasa) dengan segala manifestasiNya serta untuk memuja roh-roh suci leluhur. Namun bila ditelusuri secara mendalam kuantitas tempat suci dengan polarisasi tradisi upacaranya itu tidak hanya
merupakan refleksi dari religiusitas masyarakat setempat, tetapi juga merupakan refleksi dari inklusivisme tradisi budaya masyarakat Bali, dan bahkan lebih jauh
dapat diterjemahkan sebagai strategi tokoh rohaniwan lokal dalam membina kerukunan intern dan antar umat beragama.
Berkenaan dengan uraian di atas, permasalahan yang diangkat dalam tesis
ini, antara lain: (1) Mengapa Pura Nusa Dharma dimanfaatkan oleh umat non
Hindu sebagai pengamalan ajaran agama; (2) Bagaimana struktur dan
pengelompokkan pemujaan di Pura Nusa Dharma dalam konteks kerukunan hidup
beragama; (3) Nilai-nilai apa sajakah yang terkandung dalam Pura Nusa Dharma sebagai bagian dari strategi dalam mewujudkan kerukunan hidup beragama. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui dimanfaatkannya Pura
Nusa Dharma oleh umat non Hindu sebagai pengamalan ajaran agama; struktur dan pengelompokkan pemujaan di Pura Nusa Dharma dalam konteks kerukunan hidup beragama; nilai-nilai yang terkandung dalam Pura Nusa Dharma sebagai bagian dari strategi dalam mewujudkan kerukunan hidup beragama. Dalam penelitian ini dipergunakan teori fenomenologi untuk mengungkap dimanfaatkannya Pura Nusa Dharma oleh umat non Hindu sebagai pengamalan ajaran agama, teori interaksionisme simbolik untuk mengungkap struktur dan
pengelompokkan pemujaan di Pura Nusa Dharma dalam konteks kerukunan hidup
beragama, sedangkan teori struktural fungsional untuk membedah nilai-nilai apa
saja yang terkandung dalam Pura Nusa Dharma sebagai bagian dari strategi dalam
mewujudkan kerukunan hidup beragama.
Metode yang diterapkan dengan menggunakan pendekatan teologis dan
jenis penelitian kualitatif dengan aktivitas penelitian dibagi ke dalam tiga tahap
kegiatan yakni: tahap orientasi, eksplorasi, dan pencocokan. Adapun data yang
dihimpun yakni data primer dari sumber di lapangan dengan teknik observasi dan
wawancara, sedangkan data sekunder dari sumber dokumen-dokumen dengan teknik dokumentasi, di samping berupaya untuk mengadakan studi terhadap berbagai literatur yang terkait dengan penelitian. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan deskriptif kualitatif.
Berdasarkan atas penelitian di lapangan dan hasil analisis, maka dapat
disimpulkan hasil penelitian secara ringkas sebagai berikut: (1) Pura Nusa
Dharma berstatus sebagai Pura Kahyangan Jagat, yang termasuk dalam kelompok
Pura Umum (public temple). Penggunaan Pura Nusa Dharma sepenuhnya untuk
kepentingan seluruh umat sebagai tempat pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
(Ida Sang Hyang Widhi Wasa) dengan segala manifestasi-Nya. Di samping umat
Hindu, Pura Nusa Dharma juga dimanfaatkan oleh umat non Hindu, khususnya
umat Budha dan lainnya sebagai pengamalan ajaran agama, karena suatu ikatan
kesamaan tujuan dalam perguruan kanuragan (kedharman). Babah Ketut Jaya
(Tan Sie Yong), yang beragama Budha sebagai guru merupakan penggagas dan
pendiri Pura Nusa Dharma bersama lima muridnya (santrinya). Motif pendiriannya adalah sebagai wujud bhakti untuk menepati atau membayar janji (naur sesangi)
yang didapatkan dari pewisik pada saat mengail ikan bersama murid-muridnya serta
ingin mewujudkan cita-cita Pancasila dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, (2)
Struktur Pura Nusa Dharma adalah menggunakan 2 (dua) halaman (dwi mandala)
terdiri dari nista mandala (jaba) dan uttama mandala (jeroan). Bentuk bangunan
pelingggih pokok Pura Nusa Dharma berbentuk Padma yang disebut Padmacapah. Pengelompokkan pemujaan di Pura Nusa Dharma dalam konteks kerukunan hidup
beragama yakni digunakannya sarana ritus secara agama Hindu dan Budha begitu
pula pelaksanaannya; dan (3) Nilai-nilai yang terkandung dalam Pura Nusa
Dharma sebagai bagian dari strategi dalam mewujudkan kerukunan hidup
beragama, antara lain: nilai bhineka tunggal ika, nilai tri hita karana
(Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan), dan nilai menyama braya yang
dilandasi falsafah Hindu (tat twam asi, tri kaya parisuda, asah asih asuh, agawe
sukaning len, paras paros sarpanaya, segalak segilik saguluk salunglung sebayantaka, celebingkah di bantan biyu, dan don sente don pelendo), upaya
tokoh rohaniwan lokal dalam mempertahankan Pura Nusa Dharma sebagai bagian
dari strategi pembinaan kerukunan hidup beragama, yakni dengan jalan
mempertahankan keberadaan Pura Nusa Dharma dari pengusaan badan
pengembang paririwisata Bali yang diwadahi oleh BTDC. Untuk selanjutnya di
pelihara dan diamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pura Nusa Dharma
untuk pembinaan kerukunan hidup beragama.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Divisions: Pascasarjana > S2 - Brahma Widya
Depositing User: Unnamed user with username isma
Date Deposited: 08 Mar 2026 12:28
Last Modified: 08 Mar 2026 12:29
URI: http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1224

Actions (login required)

View Item
View Item