TIWI ETIKA, - (2005) ASPEK KETUHAN DALAM KITAB PANATURAN SERTA IDENTIFIKASINYA DIPANDANG DARI TEOLOGI HINDU : "ANALISIS BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA". Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
10 S2 BW 2005 TIWI ETIKA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (29MB)
Abstract
ABSTRAK
Pembahasan mengenai Aspek Ketuhanan dalam Kitab Panaturan, serta
Identifikasinya Dipandang dari Teologi Hindu, dalam penelitian ini sesungguhnya
sangat menarik dan urgent untuk dibahas. Karena sangat signifikan bagi peningkatan
keimanan dan pengetahuan keagamaan, bagi umat Hindu yang ada di Kalimantan
Tengah, maupun bagi umat Hindu di wilayah lainnya.
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk melestarikan nilai luhur ajaran
Hindu yang bersumber dari kitab suci, serta ikut memberikan kontribusi dalam
penataan kehidupan dalam sector rohaniah. Secara khusus tujuan yang hendak dicapai
adalah untuk menjawab pertanyaan pada rumusan masalah.
Rumusan masalah dalam penelitian ini, dikaji dengan menggunakan
beberapa teori, yakni: teori fungsional struktural dari Tollcot Parson, untuk
mengetahui Bentuk dan Fungsi Ranying Hatalla. Teori makna interaksi simbolik dari
Herbert Blumer dan simbol, digunakan untuk mengetahui Makna yang tersirat dari
penggambaran wujud dan fungsi Ranying Hatalla dimaksud.
Metode penelitian yang dipakai dalam pengumpulan data adalah metode
filologi, dokumentasi dan wawancara. Sedangkan analisis data diawali dengan
identifikasi, klasifikasi, verifikasi dan terakhir penafsiran data. Mengikuti pemikiran
Robert Yin dan Bugin, dengan analisis deskriptif kualitatif, berintikan cara berpikir
induktif dan deduktif. Meskipun analisis data pada penelitian ini menggunkan cara
berpikir logika induksi dan deduksi, namun penelitian ini tidak dimaksudkan untuk
menguji hipotesis, sebagaimana layaknya penelitian deduksi, atau menghasilkan teori
baru, sebagaimana diperlihatkan dalam penelitian induksi.
Secara substantif pembahasan mengenai aspek ketuhanan dalam KP, serta
identifikasinya dipandang dari teologi Hindu analisis Bentuk, Fungsi dan Makna ini.
Menyatakan bahwa penggambaran wujud Ranying Hatalla, sesungguhnya sama
dengan penggambaran wujud Tuhan, yang telah diketahui dan dipahami dalam ajaran
Hindu pada umumnya, yakni Tuhan berwujud pada: Raja/Kameluh (Dewa/Dewi),
pada simbol-simbolnya seperti pada kata suci/aksara suci, mahluk ciptaannya, dan lain
sebaginnya. Wujuh Ranying Hatalla pada Raja dan Kameluh dan kata suci,
merupakan wujud totalitasnya, sedangkan wujud Ranying Hatalla pada mahluk
ciptaannya, hanya sebatas wujud berupa percikan sinar suci yang sangat kecil kualitas
dan kwantitasnya. Sehingga hanya dapat berguna sebagai napas kehidupan yang
membuat mahluk itu hidup. Sedangkan wujud totalitas Ranying Hatalla yang ada pada
Raja dan Kameluh maupun kata suci, bukan saja membuat perwujudan tersebut
nampak bernyawa, akan tetapi keberadaanya merupakan symbol diri Ranying Hatalla.
Oleh karena itu aktivitas dan eksistensi perwujudan dimaksud, menyerupai aktivitas
dan eksistensi Ranying Hatalla.
Kemudian fungsi Ranying Hatalla, terkait dengan stabilitas dan
kelangsungan hidup manusia, disebutkan Ranying Hatalla berfungsi sebagai pencipta,
pemelihara dan pelebur. Dalam menjalani fungsi tersebut Ranying Hatalla telah
melakukan kerjasama dengan para manifestasinya. Keberadaan manifestasi dimaksud
diposisikan Sebagai organisator dan pelaksana dari apa yang telah direncana atau
diinginkan Ranying Hatalla. Kemudian keberadaan Ranying Hatalla sebagai
pengambil keputusan decision making. Sedangkan makna yang tersirat dari
pengambaran wujud dan fungsi Ranying Hatalla, bagi keyakinan umat Hindu
Kaharingan, maupun umat Hindu pada umumnya, menegaskan Ranying Hatalla
merupakan sumber atau asal mula adanya manusia berserta kelengkapan hidupnya.
Keberadaan manusia dan komponen kehidupannya, bersifat sementara. Dalam proses
kelidupan yang bersifat sementara tersebut, diciptakan pula berbagai hukum alam,
pedoman kehidupan, serta berbagai mitologi kehidupan, berfungsi untuk mengarahkan
dan mengingatkan manusia, akan hakekat realitas tertinggi, sebagai sumber awal dan
aknir segalanya. Dengan harapan dapat mengarahkan kepercayaan dan keyakinan
manusia, bahwa “segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan terjadi pada manusia,
merupakan campur tangan dari Ranying Hatalla. Dalam rangka memperbesar kualitas
maupun kwantitas kebaikan “kebenaran" yang akan diperoleh dari campur tangan
dimaksud, maka manusia dipersilahkan berusaha semaksimal mungkin, melakukan
aktivitas kehidapan sesuai ajaran suci yang telah disampaikan Ranying Hatalla, baik
melalni kitab suci, mitologi maupun yang lainnya. Sebab campur tangan Ranying
Hatalla dalam menentukan kualitas dan kuantitas hidup manusia, tergantung pada
seberapa besar usaha manusia itu sendiri, untuk melakukan hal yang terbaik dalam
hidupnya. Apabila manusia hanya mampu mencapai angka lima (5), maka sejumlah
angka lima pula yang diperoleh dari Ranying Hatalla.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 11 Mar 2026 06:01 |
| Last Modified: | 11 Mar 2026 06:03 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1231 |

