DEWI RAHAYU ARYANINGSIH, - (2005) UPACARA NGEPIK BAGI UMAT HINDU DI LOMBOK BARAT (Kajian Bentuk, Fungsi, Makna). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
11 S2 BW 2005 DEWI RAHAYU ARYANINGSIH.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (25MB)
Abstract
ABSTRAK
UPACARA NGEPIK BAGI UMAT HINDU
DI LOMBOK BARAT
(Kajian Bentuk, Fungsi, Makna)
Upacara Ngepik merupakan salah satu bentuk pelaksanaan yajña, yang di
dilakukan umat Hindu di Lombok tiap tilem sasih kawulu (setahun sekali).
Upacara Ngepik sudah dilaksanakan sejak tahun 1702, konon pada waktu itu
pulau Lombok dilanda kekeringan serta wabah penyakit merajalela. Setelah
dilaksanakan upacara Ngepik, kondisi kembali normal; tanah subur dan hasil
pertanian melimpah ruah. Upacara Ngepik tergolong Dewa Yajña dan Bhuta
Yajña. Dikatakan Dewa Yajña karena upacara dan upakaranya ditujukan
kehadapan para Dewa-dewi sebagai manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa.
Sedangkan dikatakan Bhuta Yajña karena tujuannya juga "membersihkan” alam
beserta isinya dari Bhuta kala / kekuatan negatif. Disamping itu terdapat unsur
panyupatan (meningkatkan kelahiran) bagi binatang-binatang yang digunakan
sebagai sarana Pekelem dalam upacara Ngepik tersebut. Upacara Ngepik kini
mengalami pergeseran dari segi "pangemongnya" (pelaksana), kalau dulu
pangemong (pelaksana) upacara Ngepik dilakukan oleh "subak", sedangkan
sekarang dilaksanakan dalam naungan Yayasan Krama Pura NTB. Disamping itu
juga banyak umat yang tidak mengetahui apa makna upacara Ngepik itu sendiri.
Sehingga untuk memperoleh pemahaman yang lebih jelas dan ilmiah dalam dunia
akademis maka perlu diadakan penelitian dalam bentuk, fungsi serta makna dari
upacara Ngepik sehingga umat Hindu di Lombok tetap melaksanakan upacara
Ngepik tersebut.
Tujuan yang ingin dicapai secara khusus dalam penelitian ini adalah untuk
menjawab dari tiga masalah yang telah dirumuskan, yaitu ; a). Untuk mengetahui
secara lebih jelas tentang bentuk upacara Ngepik, b). Untuk mengetahui fungsi
upacara Ngepik, dan c). Untuk mengetahui makna yang terkandung dalam upacara
Ngepik. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman
yang lebih jelas tentang upacara Ngepik.
Landasan teori yang digunakan adalah teori Interaksionisme Simbolik,
yang berkaitan dengan bentuk dan makna. Teori Fungsional Struktural yang
berkaitan dengan Fungsi upacara Ngepik.
Upacara Ngepik dilaksanakan di Pantai Melasa, Desa Batu Layar, Кeс.
Batu Layar, Kab. Lombok Barat. Jenis penelitian adalah kualitatif dengan
Menggunakan menggunakan pendekatan theologis, sosiologis dan hermeneutik.
Jenis dan Sumber data, yaitu; a). Data Primer bersumber dari lapangan dan b).
Data Sekunder bersumber dari literatur / pustaka yang ada relevansinya dengan
masalah yang diteliti. Data dikumpulkan dengan metode Observasi, metode
Wawancara, Metode Dokumentasi. Selanjutnya data dianalisa dengan teknik
deskriptif kualitatif.
Dari segi bentuk, pembahasan upacara Ngepik meliputi hal-hal sebagai
berikut. a). Prosesi upacara Ngepik. Prosesi pokok upacara Ngepik diawali dengan
Sulinggih mepuja, Nglukat Bebantenan dan sarana upacara lainnya, Macaru,
Pakelem, Muspa dan diakhiri Nunas Amertha. Susunan Bebantenan dan mantra
digunakan sesuai dengan prosesi upacara. b). Banten yang digunakan dalam
upacara Ngepik, c). Mantra, d). Perwujudan Tuhan dalam Pemujaan Upacara
Ngepik. Tuhan dipuja dalam upacara ini bersifat transendent dan imanent,
Fungsi upacara Ngepik berupa; a). Fungsi Banten. Bebantenan yang
digunakan berfungsi sebagai Perlambang Dewata, sebagai Perwujudan rasa terima
kasih, sebagai sarana menghubungkan diri kepada Tuhan, sebagai sarana mohon
keselamatan dan sebagai sarana penyucian, b). Meningkatkan Peran Swadharma.
Pelaksanaan upacara Ngepik melibatkan berbagai pihak dengan berbagai
swadharma (profesi), c). Fungsi Integrasi Sosial Kemasyarakatan, melalui upacara
Ngepik dapat meningkatkan rasa kekeluargaan umat Hindu di pulau Lombok, d).
Fungsi sebagai Penentralisir Marana, mengubah bhuta kala menjadi “Somya” dan
e). Fungsi Untuk Penyupatan (Peningkatan Kelahiran). Upacara Ngepik berfungsi
sebagai peningkatan status kelahiran binatang yang digunakan sebagai sarana
pekelem.
Makna Upacara Ngepik berupa; a). Makna Banten, b). Makna Relegi.
Keyakinan yang ditonjolkan dalam pelaksanaan upacara Ngepik didasari oleh
kewajiban beryajña, c). Makna Budaya serta d). Makna Ekonomi. Budaya sebagai
pendukungnya haruslah dipertahankan agar upacara Ngepik tetap dilaksanakan,
apalagi pelaksanaan upacara ini dapat memberikan kontribusi dalam
perekonomian.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 14 Mar 2026 08:22 |
| Last Modified: | 14 Mar 2026 08:23 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1233 |

