IDA MADE WINDYA, - (2005) KONSEP TEOLOGI DALAM KAKAWIN KUNJARAKARNA (Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
21 S2 BW 2005 IDA MADE WINDYA.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (15MB)
Abstract
ABSTRAK
KONSEP TEOLOGI DALAM KAKAWIN KUÑJARAKARNA
KAJIAN BENTUK, FUNGSI DAN MAKNA
Oleh: Ida Made Windya
Penelitian ini mengkaji Kakawin Kuñjarakarna ditinjau dari segi bentuk,
fungsi dan makna untuk mengungkap konsep teologi dalam Kakawin Kuñjarakarna.
Topik ini dipilih untuk memahami dan mendalami Kakawin Kuñjarakarna, mengingat
Kakawin ini merupakan salah satu jenis kakawin yang masih digemari oleh
masyarakat Hindu, khususnya yang tertarik terhadap karya sastra kakawin. Hal ini
karena semakin banyaknya kelompok pesantian yang membaca dan menerjemahkan
kakawin ini dalam mengiringi Upacara Yajña, namun usaha untuk mengkaji konsep
teologi dari kajian bentuk, fungsi dan makna belum dilakukan.
Landasan teori yang digunakan dalam Penelitian ini adalah teori
strukturalisme, teori fungsi dan teori hermeneutik. Dalam analisis bentuk digunakan
teori strukturalisme, meliputi bagian manggala, inti cerita, dan epilog termasuk pula
jenis-jenis pupuh yang membentuk Kakawin Kuñjarakarna, namun sebelumnya
diuraikan pula mengenai sinopsis dan penyusun Kakawin Kuñjarakarna.
Analisis fungsi digunakan teori fungsi, sehingga diketahui bahwa kakawin
Kuñjarakarna masih bersifat fungsional karena sangat digemari dalam kelompokkelompok pembacaan kakawin yang dikenal dengan pesantian. Sebagai tambahan
lakon ceritanya sering dipentaskan dalam pentas seni wayang terutama dalam acara
ritual ruwatan. Dalam upacara Panca Yajña, kakawin Kuñjarakarna juga sering
dibaca untuk mengiringi jalannya upacara sebagai panca pagenda mengingat isi
ajarannya padat dengan ajaran-ajaran dharma (dharmadesana)
Dalam analisis makna digunkan teori hermeneutika sehingga terungkap
konsep teologi, diantaranya adalah: Konsep Pembebasan yang dikenal dengan moksa
yaitu bersatunya atman dengan Brahman. Tuhan dapat pula dicapai melalui
pengetahuan suci yang diperoleh dari seorang guru rohani melalui diksa. Konsep
Panca Sogata (Aksobhya, Ratnasambhawa, Amitabha, Amoghasidhi dan Wairocana),
Panca Kusika (Mahakusika, Garga, Maitri, Kurusya dan Patanjala) dan Pancaka
(Iswara, Brahmă, Mahamara, Madhusudana, Bhatāra Guru) adalah lima dewata
sebagai penguasa lima penjuru mata angin masing-masing terdapat dalam paham
Buddha, Resi dan Śiwa.
Konsep Pancatma adalah lima atma yang berhubungan dengan mahabhuta
sebagai rahasia kehidupan diantaranya: Cetanatma terkait dengan perthiwi bertempat
di sarira berfungsi sebagai zat padat; Atma terkait dengan teja bertempat di caksuh
berfungsi sebagai penglihatan; Niratma berhubungan dengan apah bertempat di jihwa
berfungsi sebagai suara; Antaratma berhubungan dengan bayu bertempat di uswasa
berfungsi sebagai nafas, dan Paratma berhubungan dengan akasa bertempat di sirah
berfungsi sebagai pendengaran.
Juga terdapat Teologi Śiwa Buddha, ternyata Śiwa dan Buddha adalah satu
dengan sebutan yang berbeda (ńwań Wairocana Buddhamūrti Šiwamūrti pinaka
guruning jagat, nahan donkwa ińaran bhațāra Guru)
Hidup ini adalah penderitaan sering digambarkan dengan neraka, sehingga
diisyaratkan bahwa tujuan hidup bukan surga atau neraka melainkan adalah moksa
atau sunya nirbana.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 26 Mar 2026 10:13 |
| Last Modified: | 26 Mar 2026 10:14 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1243 |

