RELIN D.E, - (2005) TEOLOGI HINDU DALAM RITUAL KEMATIAN MASYARAKAT JAWA (Studi Kasus Desa Kumendung, Muncur, Banyuwangi, Jawa Timur). Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
24 S2 BW 2005 NI WAYAN RASTI.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (22MB)
Abstract
ABTRAKS
WETU TELU DI KABUPATEN LOMBOK BARAT
SEBUAH KAJIAN TEOLOGI HINDU
Oleh: Ni Wayan Rasti
Daerah Nusa Tenggara Barat umumnya dan Kabupaten Lombok Barat
khususnya memiliki masyarakat yang sangat heterogen, karena penduduknya
mempunyai corak budaya yang beraneka ragam. Kehidupan masyarakat Lombok
Barat khususnya dilandasi dengan agama serta keyakinan yang berbeda-beda.
Salah satu keyakinan yang masih tetap dilestarikan pelaksanaannya oleh
masyarakat Suku Sasak adalah keyakinan Wetu telu. Keyakinan ini pernah surut
karena adanya pelarangan oleh pihak-pihak yang ingin menghilangkan budaya
mereka, dan kemudian dilaksanakan kembali seperti dulu.
Dari adanya keyakinan yang sangat langka dan unik ini, penelitian yang
berjudul Wetu telu di Kabupaten Lombok Barat sebuah Kajian Teologi Hindu,
secara umum penelitian ini bertujuan untuk dapat memperoleh informasi yang
lebih luas serta mendalam tentang bagaimana sesungguhnya konsep keyakinan
penganut Wetu telu. Penelitian ini memilih lokasi di Desa Bayan, Desa Lingsar
dan Dasan Tereng Kabupaten Lombok Barat (lihat peta pada lampiran 4 hal 136,
karena basis dan praktek pelaksanaan keyakinan Wetu telu terbanyak di wilayah
ini.
Secara lebih khusus penelitian ini adalah untuk dapat menjawab ketiga
masalah yang telah dirumuskan yakni ingin mengetahui secara lebih jelas tentang
konsep Wetu telu terhadap Tuhan, leluhur dan alam semesta, jenis-jenis ritual,
sarana ritual serta fungsinya dan makna sarana ritual yang digunakan dari kajian
agama Hindu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan
sosiologis yang dianalisis dan ditáfsirkan serta disajikan dalam bentuk kalimat.
Landasan teori yang digunakan yakni; teori fungsionalisme struktural, teori
interaksional simbolik yang berkaitan dengan situasi kontekstual dan makna. Hal
tersebut sesuai dengan karakteristik penelitian tentang keyakinan, sosial, dan
budaya penganut Wetu telu yang praktek ritualnya berinteraksi dan menggunakan
simbol-simbo! yang dimaknai dalam kehidupan. Aktivitas penelitian dibagi dalam
tiga tahap kegiatan yakni; tahap orientasi awal, ekplorasi dan inspeksi. Hal
tersebut dimaksudkan untuk menciptakan hubungan yang harmonis di lapangan,
di samping untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan penelitian.
Data lapangan yang didapat dalam bentuk skunder dan primer yang
dikumpulkan dengan metode observasi, wawancara dan dokumenter. Selanjutnya
data dianalisis, disusun, ditafsirkan dan diinterprestasikan kemudian disajikan
dalam bentuk kata-kata dan kalimat. Data yang telah diolah sesuai dengan tahapan
kerja penelitian, menghasilkan data yang valid/sesuai antara konsep peneliti
dengan informan.
Hasil pembahasan penelitian ini dapat diuraian secara ringkas yakni : bahwa
konsep penganut Wetu telu tentang Tuhan, leluhur dan alam semesta mempunyai
kesamaan dengan agama Hindu, seperti Tuhan yang disembah hanya satu
sebagaimana yang tertulis dalam kitab Veda. Demikian pula dalam setiaр
melaksanakan ritual, mereka memberitahu dan memohon berkah dari leluhur
dengan upacara Mas Doa atau Mengosap di Makam Keramat Leluhur, seperti
juga dalam agama Hindu yaitu Pitra Yadnya. Selain itu kedekatan mereka dengan
alam terbukti dari pelaksanaan ritual terhadap tanaman padi, lingkungan hidup
dengan dilaksanakannya ritual Selametan Kuta, serta ritual Membangar atau
mulai menempati tanah baru dan selametan terhadap tanaman pare atau padi.
Kalau dalam agama Hindu keharmonisan dengan lingkungan tertuang dalam
konsep ajaran Tri Hita Karana yakni tiga hal penyebab hubungan yang harmonis
antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam
lingkungan.
Jenis-jenis ritual yang dilaksanakan, ada yang secara berkala yakni pada harihari besar keagamaan. Selain itu ada juga ritual peralihan individu seperti Gawe
Urip atau peralihan kehidupan dari upacara Beretes atau selametan kandungan
sampai dengan Merarik atau perkawinan, kalau menurut kajian agama Hindu
adalah Manusa Yadnya. Gawe Pati atau siklus kematian dari memandikan,
penguburan hingga Nyiu atau seribu hari, kalau menurut Hindu adalah Pitra
Yadnya, dari Preteka Sawe sampai Ngeroras atau Meligia.Demikian juga dengan
ritual terhadap lingkungan hidup seperti Selametan Kuta atau menangkal wabah
penyakit, ritual terhadap tanaman padi dan tanah pekarangan. Hal ini menurut
kajian agama Hindu identik dengan upacara penghormatan kepada Dewi Sri
sebagai Dewa pemberi kesejahtraan, dan ritual Peneduh Jagat atau Bhuta Yadnya.
Sarana-sarana ritual yang digunakan memiliki kesamaan dengan agama Hindu
seperti Sirih Lekes, Air Mel-mel, Pedupaan atau Api, Kembang rampe atau
Bunga, Pesajiq atau Sesajen, Biji-bijian, Kebon Odiq. Semua sarana ritual
tersebut memiliki fungsi serta makna yang tidak jauh berbeda dengan agama
Hindu, sehingga semua itu dapat dikaji menurut teologi Hindu.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 26 Mar 2026 10:31 |
| Last Modified: | 26 Mar 2026 10:33 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1247 |

