SANG AYU PUTU CARMAWATI, - (2005) UPACARA MASAKAPAN KE TEGAL MLAKANG DI DESA BUDUK KECAMATAN MENGWI KABUPATEN BADUNG. Masters thesis, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
27 S2 BW 2005 SANG AYU PUTU CARMAWATI.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (18MB)
Abstract
ABSTRAK
UPACARA MASAKAPAN KE TEGAL MLAKANG
Di DESA BUDUK KECAMATAN MENGWI
KABUPATEN BADUNG
Upacara ritus merupakan suatu unsur dalam kehidupan suku-suku bangsa di
dunia. Upacara merupakan bagian hidup kesusilaan manusia dan memiliki nilai susila
yang tinggi. Nilai kesusilaan yang dimaksud adalah percaya pada hukum kesusilaan
dan pada roh yang abadi, karena itu upacara juga merupakan salah satu kerangka
dasar agama Hindu setelah tatwa dan susila. Maka dari itu sebagai umat beragama
khususnya di Bali selama umatnya masih ada, upacara tidak akan punah. Upacara
masakapan ke Tegal Mlakang termasuk upacara manusia yadnya. Upacara
masakapan ini erat hubungannya dengan punarbawa (reinkarnasi ). Upacara
imasakapun ke Tegal Mlakang ini dilaksanakan oleh umat Hindu di Desa Buduk
Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, merupakan jenis upacara yang mengandung
muatan konstektual yang diaktualisasikan dengan langkah nyata menjadi harmonisasi
antar bhuana agung dan bhuana alit atau lingkungan yang menjadi tempat
persembahyang dengan sang bayi, serta orang tuanya.
Berkenaan dengan upacara masakapan ke Tegal Mlakang di Desa Buduk ada
tiga masalah yang akan diteliti, yaitu pertama bagaimana bentuk upacara masakapan
ke Tegal Mlakang. Kedua apa fungsi dari upacara itu serta, ketiga apa makna upacara
masakapan ke Tegal Mlakang jika ditinjau dari teologi Hindu
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah pertama secara umum
penelitian ini bertujuan untuk memahami prihal upacara masakapan ke Tegal
Mlakang. Tujuan yang kedua merupakan tujuan yang secara khusus yaitu untuk
menjawab ketiga permasalahan yang telah dirumuskan yaitu; a) untuk mengetahui
secara lebih jelas bentuk upacara masakapan ke Tegal Mlakang. b) Untuk memahami
fungsi upacara masakapan ke Tegal Mlakang. c) Ingin mendalami secara lebih jelas
makna yang terkandung dalam upacara masakapan ke Tegal Mlakang.
Landasan teori yang digunakan adalah teori fungsional struktural dan teori
semiotika. Teori fungsional struktural maksudnya bahwa manusia sebagai sub
struktur atau lembaga sosial, struktur atau bagian yang saling berhubungan oleh
peranan timbal balik yang diharapkan. Struktur lembaga-lembaga itu saling
berhubungan sehingga membentuk sistem sosial yang lebih besar. Teori ini
digunakan karena upacara masakapan ke Tegal Mlakang memiliki fungsi-fungsi
sosial, antara lain memelihara emosi keagamaan, perhatian terhadap ikatan
kekeluargaan, dan ikatan kemasyarakatan. Teori semiotika maksudnya adalah teori
tentang tanda-tanda dalam bahasa dan karya sastra. Tanda- tanda itu terdiri atas dua
segi yaitu significant (segi bentuk) dan signifie (segi isi atau makna). Dalam upacara
ini yang diteliti adalah bentuk, fungsi, dan makna maka landasan teori yang paling
tepat digunakan adalah teori semiotika. Pengumpulan data dilakukan berdasarkan
teknik observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Data dianalisis
berdasarkan pendekatan kualitatif. Penyajian hasil penelitian secara deskriptif, dan
disajikan dalam bentuk imformal, artinya menggunakan analisis kata-kata, kalimat
tanpa menggunakan statistik.
Bentuk upacara masakapan ke Tegal Mlakang terdiri atas a) yajamana, yaitu
orang yang diupacarai. Anak yang diupacarai adalah balita yang telah berumur antara
satu setengah tahun sampai tiga tahun, atau selambat-lambatnya anak yang belum
tanggal giginya. b) Upakara adalah sarana yang dipergunakan untuk upacara. Sarana
itu berupa banten. Banten merupakan alat (sarana) yang dibuat oleh manusia yang
terdiri atas tetuasan sebagai wujud menumbuhkan rasa bhakti dan sradha. c)
Manggala upacara adalah orang yang memimpin upacara. Pemimpin upacara ini
adalah seorang pemangku. d) Mantra adalah sederetan kata-kata suci untuk
menghantarkan upakara. Mantra yang dipergunakan untuk menghaturkan banten ini
disebut saa, karena yang menghaturkan banten ini adalah seorang pemangku.
Fungsi upacara ini adalah a) membangun kemantapan bhakti dan sradha umat
dengan pelaksanaar upacara ini secara skala umat percaya adanya punarbhawa atau
samsara. b) Fungsi sosial dengan pelaksanaan upacara ini timbul kerjasama yang baik
antara anggota keluarga, tetangga, dan antar umat beragama, serta membangun desa
dresta umat Hindu Bali yang terkenal dengan warisan tradisionalnya. Dengan
upacara ini warisan itu tetap dilaksanakan sehingga Bali masih tetap eksis dengan
seni budayanya.
Makna yang terkandung dalam upacara ini adalah a) makna teologi sebagai
bentuk implementasi dari ajaran agama Hindu yang terangkum dalam panca sradha
terutama punarbhawa (reinkarnasi). b) Makna relegi yaitu makna simbolis dengan
menggunakan berbagai macam simbol dapat mendekatkan diri kapada Tuhan Yang
Maha Kuasa. c) Makna sosial yaitu terjalin ikatan sosial antar sesama manusia, dan
antar manusia dengan lingkungannya.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Pascasarjana > S2 - Brahma Widya |
| Depositing User: | Unnamed user with username isma |
| Date Deposited: | 26 Mar 2026 10:38 |
| Last Modified: | 26 Mar 2026 10:39 |
| URI: | http://repository.uhnsugriwa.ac.id/id/eprint/1249 |

